Seniman di Bawah Ancaman Revolusi Industri 4.0

Perkembangan teknologi, khususnya infotek, telah mencapai revolusi yang mencengangkan. Setiap individu terintegrasi dengan segala hal melalui infotek. Zaman baru yang datang menggempur ini ditandai dengan istilah Revolusi Industri 4.0. Istilah ini pun menjadi mantra untuk diucapkan setiap orang agar tampak tidak tertinggal dalam arus zaman. Tak jarang dalam setiap pidato dan ceramah selalu diperdengarkan istilah Revolusi Industri 4.0 agar terkesan forum tersebut berkemajuan dan visioner.

Benarkah kesan kemajuan yang dibalut 4.0 (four point O) ini mengusung substansi yang juga berkemajuan? Kita perlu sejenak melongok sejarah yang belum terlalu lampau.

Pada dekade 60-an, para pemikir Jerman berkumpul di Frankfurt untuk mengembangkan gagasan kritis yang mengungkap penyakit sosial di Barat–dan dunia–akibat dua revolusi industri sebelumnya, sebagai hasil dari penemuan mesin uap, alat-alat produksi massal sarana transportasi dan telekomunikasi. Penyakit sosial tersebut diidentifikasi oleh Herbert Marcuse dengan istilah manusia satu dimensi. Karakteristiknya adalah manusia menjadi terasing dari dunianya, bahkan dari dirinya sendiri. Manusia melebur ke dalam sistem total untuk hanya ditempatkan sebagai elemen-elemen kecil. Ilmu pengetahuan tidak membawa pada kesadaran, sebab demi objektivitasnya, ilmu mesti berkembang tanpa unsur kepentingan manusia. Kebutuhan bukan lagi soal keberlangsungan hidup dan pemberdayaan melainkan demi terjualnya barang produksi. Bahasa sebagai alat komunikasi dan akses pada kebenaran juga dibatasi agar manusia tidak berkelit dari situasinya yang diatur oleh dunia industri. Media turut mengkampanyekan benda-benda tadi agar seolah menjadi barang wajib demi keberlangsungan hidup melalui citra-citranya yang memukau.

Gerakan intelektual yang disebut mazhab Frankfurt ini hanya berhasil dalam mendeskripsikan masalah manusia modern, tanpa bisa menawarkan obatnya. Namun tiba-tiba revolusi datang lagi dalam gelombang ketiga dengan dikembangkannya mode komunikasi internet dan seluler mulai dekade 70-an. Dan kini alat-alat komunikasi itu melekat pada diri setiap individu untuk revolusi keempat.

Agaknya, perkembangan infotek tidak akan cukup berhenti sebagai alat. Infotek akan dikembangkan hingga memiliki kecerdasannya sendiri. Potensi-potensi yang dimiliki manusia, dari kecerdasan hingga emosi, akan dikodekan ke dalam algoritma yang kemudian ditanam ke dalam mesin. Maka saat itu mesin akan merenggut tugas-tugas manusia. Sebuah software yang dinamai EMI (Experiments in Musical Intelligence) yang ditulis oleh David Cope, Profesor Musikologi Unversitas California, telah sanggup menggubah lagu tanpa campur tangan seniman. Lagu hasil ciptaan mesin yang bebas dari unsur manusia ini diperdengarkan ke publik yang seketika merasakan keindahannya, tanpa menyadari bahwa lagu tersebut ciptaan mesin.

Jika software telah berhasil menggubah lagu, maka tidak mustahil dia juga akan menciptakan lukisan. Pelukis jelas dalam ancaman besar, bahkan sebelum teknologi sempat ditanami kecerdasan buatan sekalipun. Pelukis poster bioskop kehilangan pekerjaan ketika poster bisa dicetak dengan cepat dan berbiaya murah. Bisnis kartu ucapan gulung tikar, setelah orang merasa cukup dengan mengirim pesan pendek lewat ponsel. Buku-buku cetak kehilangan peminat karena soft copy-nya sudah beredar di smartphone. Dan dengan ditanamnya kecerdasan buatan, aktor dan aktris terancam menganggur karena citra animasi bisa menghadirkan sosok Bruce Lee yang sudah lama meninggal, dan software bisa melafalkan/membunyikan huruf menjadi dialog.

Konsekuensi berikutnya adalah menjelmanya individu-individu sebagai organisme tak berguna, sebab kualitasnya telah dilampaui oleh mesin. Banyak pekerjaan akan direbut dari kuasa manusia, hingga manusia kehilangan satu metode penting dalam aktualisasi diri. Teori Abraham Maslow tentang hirarki kebutuhan menyatakan bahwa aktualisasi diri menempati puncak dari segala kebutuhan. Kebutuhan ultimat ini pasti datang kepada setiap manusia, untuk menjadi penegas akan eksistensinya sebagai subjek berkesadaran. Namun dengan terenggutnya pekerjaan oleh mesin beralgoritma maka manusia akan gagal, atau paling tidak terhambat, dalam penegasan eksistensi. Krisis psiko-sosial pasti akan muncul sebagai konsekuensinya, entah dalam bentuk apa.

Sisa nilai yang masih dikandung manusia saat itu hanyalah sebagai konsumen. Maka kritik Jean Baudrillard tentang manusia konsumsi menjadi semakin relevan, yaitu manusia menciptakan kelas-kelasnya lewat barang-barang yang dikonsumsi. Namun pertanyaan besarnya adalah dari mana konsumen memperoleh alat tukarnya untuk barang konsumsi itu jika mereka tidak lagi bekerja. Siapa yang sanggup membeli produk-produk artifisial itu? Atau, untuk siapa barang-barang tadi diciptakan? Jika untuk semua kalangan, apakah mode ekonomi turut berubah? Jika jawabnya iya, maka pasti akan muncul revolusi gelombang kelima, keenam, dan seterusnya hingga manusia dibuat terseok-seok melayani perubahan-perubahan mendadak yang tidak perlu. Hidup kita akan dihabiskan hanya untuk mengejar dunia.

Dengan asumsi masyarakat pada umumnya menjadi pengangguran setelah pekerjaannya dirampas oleh mesin-mesin berkecerdasan, dan barang-barang teknologi tinggi hanya bisa dibeli elit tertentu, maka polarisasi sosial pasti muncul. Di satu ujung adalah kaum elit yang dilayani oleh mesin-mesin, merasa terpesona oleh benda seni tanpa jiwa, dan tidak butuh layanan dari sesama manusianya. Di sisi lain adalah para pengangguran yang akan kembali pada mode ekonomi pra-modern dengan melayani sesamanya tanpa kehadiran teknologi yan telah berkhianat. Polaritasnya akan tampak mencolok secara kasat mata.

Pandemi COVID-19 sejak awal tahun 2020 ini patut dicurigai sebagai akselerasi pelucutan kualitas manusia itu, entah oleh siapa. Manusia dipaksa segera mencicipi suatu kondisi terasing dari sesamanya lewat social distancing yang dikukuhkan sebagai protokol jika hidupnya mau selamat. Selanjutnya mesin-mesin beralgoritma segera disorokkan ke ruang-ruang privat untuk mengambil peran dalam interaksi. Manusia dipaksa bersentuhan dengan mesin untuk menjaga keutuhan sosialnya.

Sebagai seniman saya selalu menyatakan hidup kita ini adalah seni. Hidup itu seni, terutama karena ada proses yang dikerjakan. Namun ketika pekerjaan tidak lagi tersedia, tak ada lagi apa-apa untuk diproses, maka hidup ini akan menjadi tidak layak dijalani. Apa lagi jika pekerjaan seni secara spesifik turut direnggut oleh algoritma, sebagaimana EMI bisa menggubah lagu. Maka pertanyaan besarnya adalah apa yang bisa diupayakan oleh seniman dalam menyikapi revolusi ini.

Strategi Bertahan dalam Gempuran Revolusi 4.0

Pemikiran kritis ini tidak saya harapkan berhenti pada diagnosis masalah belaka, namun saya mencoba mengusulkan gagasan strategis. Kedatangan revolusi ini tak bisa dibendung, mesin-mesin infotek telah merambahi kehidupan sehari-hari. Saya pun turut membeli smartphone dan memasang jaringan internet. Perubahan saya ikuti namun dengan tetap membuka wawasan kritis, bukan semata-mata latah tergopoh-gopoh memberi sambutan hangat. Arus revolusi ini bukan sama sekali kabar gembira, melainkan bencana.

Dunia seni ke depan bukan lagi semata-semata tentang proses penciptaan, melainkan akan pula disusupi upaya kompetisi melawan kekuatan yang melampaui kemampuan manusia.

Dalam rangka bertahan dari ancaman ini, yang bisa dilakukan seniman adalah menguatkan narasi tentang keunggulan manusia. Lukisan yang digores oleh tangan pasti lebih bernilai dibanding hasil print-out. Nilai lebihnya adalah sebab lukisan itu sanggup merekam jiwa sang seniman saat berkarya. Perasaan suka ataupun duka yang menemani proses penyaluran cat ke atas kanvas akan turut bersemayam ke dalam lukisan itu, dan selanjutnya dipancarkan ke ruang sekelilingnya. Perekaman emosi ini tidak akan terjadi jika penghantar cat itu adalah mesin yang nir-jiwa.

Manusia diciptakan dengan kelengkapannya: tubuh, perasaan dan pikiran. Ketiga-tiganya harus dikembangkan sebagai bukti apresiasi dan rasa syukur terhadap Pencipta. Mesin beralgoritma hendak menumpulkan daya fisik kita, dengan memaksa kita mendekam statis di satu tempat tanpa beranjak demi interaksi sosial. Jika ini terjadi maka evolusi manusia ke depan akan mengalami pengembangan/pembesaran di bagian kepala, dengan tubuh yang menyusut, sebab hanya otak yang difungsikan untuk bekerja, tanpa perlu menggerakkan badan. Robot sudah mengambil alih tugas fisik itu. Dalam situasi seperti itu, spesies manusia sedang menuju ke ambang kepunahannya.

Narasi-narasi semacam ini harus digaungkan seluas-luasnya ke tengah publik. Seperti film Terminator 2 yang mengisahkan penghancuran perusahaan bernama Cyberdyne System yang memproduksi mesin-mesin berkecerdasan lewat projek Skynet. Cyberdine diledakkan karena di masa mendatang mesin-mesin ciptaannya itulah yang akan memusnahkan spesies manusia. Sebagai sebuah alegori atau kiasan, fiksi ilmiah ini layak direnungkan.

Kemudian terhadap kehadiran tak terbendung dari perangkat-perangkat cerdas itu seniman harus mampu menungganginya untuk menghasilkan karya yang lebih bernilai, sambil terus mengkampanyekan kualitas kemanusiaan. Seperti yang saat ini saya lakukan: memanfaatkan infotek untuk menyuarakan kebernilaian manusia.

Alih wahana, atau saya lebih suka istilah multi-wahana sebab tidak berkonotasi meninggalkan wahana sebelumnya, merupakan satu strategi yang layak dilakukan. Sebongkah emas boleh diusung dengan gerobak ataupun mobil ataupun pesawat, tapi emas itu tidak boleh diganti. Emas dalam metafora ini saya maksudkan sebagai nilai-nilai luhur kemanusiaan yang diwariskan dari nenek moyang. Nilai itu harus lestari meski situasi, peradaban, dan perangkat-perangkat telah berubah dan berkembang beraneka ragam.

Multi-wahana mengisyaratkan bahwa seorang seniman tidak cukup menggunakan satu medium saja untuk menumpahkan pikir dan rasa, sebab kandungan pikir dan rasa itu selalu melimpah dan terus berkembang dalam substansi dan bentuknya. Bentuk yang beraneka ragam ini mungkin tidak bisa diwadahi oleh medium jenis tertentu, namun bisa dengan medium lain. Dalam praktek multi-wahana ini misalnya saya menjadikan media sosial sebagai ruang presentasi kesenian alternatif secara virtual, di samping ruang pameran yang konvensional. Saya bisa berkunjung ke situs wisata secara jasmaniah untuk melukis pemandangan di sana, namun saya juga membuat siaran langsung via facebook ataupun direkam dalam video untuk diunggah di youtube. Pada momen saya melukis on the spot, situasi mungkin sepi dari perhatian publik sebab pandemi. Sedang di dalam media sosial, perhatian itu riuh. Meski demikian perlu tetap dicatat bahwa mengapresiasi lukisan paling efektif adalah berdiri langsung di hadapan lukisan itu, bukan lewat kaca bersinar.

Prinsip multi-wahana juga mendorong saya untuk merambahi dunia sastra, sebab gagasan saya atas kehidupan sering kali tidak cukup disalurkan secara visual. Medium verbal sanggup menyalurkannya, sebelum medium lain bisa dipertimbangkan. Namun pada akhirnya nanti, sekeras apa pun seniman meluaskan medium ekspresinya, mesin-mesin berkecerdasan juga akan melakukan hal serupa dengan kemampuannya yang lebih canggih. Karena itu, seniman harus mempertahankan hirarkinya di atas mesin-mesin berkecerdasan. Seniman harus bisa menempatkan pesaingnya itu dalam posisi pelengkap yang mendukung, bukan sebagai sentra presentasi.

Pada akhirnya kita semua harus bersepakat bahwa mesin, secerdas apa pun nantinya, hanyalah instrumen, alat untuk memudahkan hidup manusia, tanpa boleh diprioritaskan setara atau bahkan lebih mulia dari manusia. Sebab dalam jiwa manusia, sifat-sifat Tuhan bersemayam. Kemudahan hidup juga harus dalam keterukuran. Jika seluruh proses kehidupan menjadi mudah–bahkan instan–maka hidup ini pasti tidak layak dijalani.

Peringatan Hari Internasional Pelukis Mulut dan Kaki

Tanggal 5 September diperingati sebagai Hari Internasional Pelukis Mulut dan Kaki, dipilih untuk mengenang wafatnya founding father AMFPA (Association of Mouth and Foot Painting Artists) Mr. Arnulf Erich Stregmann pada tahun 1984.

Pada 5 September tahun 2020 ini, Saya sebagai salah satu pelukis kaki dari Indonesia yang menjadi associate member AMFPA sejak 2011, menggelar perayaan di Saung Kelir, bersama para penyandang cacat binaan Roemah D Semarang.

Acara yang bertujuan mencapai public awareness atas pelukis tanpa tangan di seluruh dunia ini dikemas dalam format reality show, dan disiarkan langsung lewat akun facebook saya, bernama Galeri Sabar Subadri. Dalam acara ini, pembawa acara membuka dengan perjalanan kunjungan ke Saung Kelir, yang kemudian disambut oleh teman-teman Roemah D yang sudah stand by di dalam galeri. Selanjutnya wawancara bersama saya tentang AMFPA digelar selama sekitar seperempat jam.

Acara dilanjutkan dengan demo tutorial melukis dengan kaki, oleh saya sendiri, diikuti teman-teman dari Roemah D, sebisa mungkin juga dengan kaki mereka. Tiga gambar terbaik akhirnya mendapatkan doorprize. Namun sebelum demo lukis dimulai, sambil menyiapkan peralatan dan perlengkapan, seorang penari balet cilik bernama Angel menghibur suasana dengan penampilannya.

Acara ditutup dengan ramah tamah dan unjuk bakat oleh teman-teman dari Roemah D untuk menunjukkan kapabilitasnya.

Muncar

Mungkin hanya faktor geografis saja yang mengidentifikasi Muncar sebagai desa. Tapi tidak demikian dengan masyarakatnya. Kemajuan tampak dihayati dalam keseharian di sana, sambil tetap dipertahankannya kearifan lokal yang lama diwarisi.

Mau ke mana kehidupan desa Muncar dibawa ke depannya? Mereka sudah mengantongi jawaban pertanyaan itu. Kopi adalah hasil bumi yang akan terus dibudidayakan. Tanah tempat akar-akar pohon kopi itu menghunjam juga akan dipertahankan. Tinggal bagaimana pengemasan penjualannya dapat melahirkan budaya yang lebih maju.

Pariwisata, itulah kuncinya. Tidak semua biji kopi harus berkelana jauh meninggalkan tempat tumbuhnya. Tapi biarkan para penikmatnya datang mengunjungi untuk menyisip kenikmatan itu langsung di sebelah panggangan yang berputar, sambil berbincang atau membaca buku. Kemasan biji dan bubuk kopi dalam aneka takaran disediakan untuk dibeli sebagai oleh-oleh. Biji-biji yang masih dijemur pun bisa dilihat di atas geladak rumah warga.

Sementara itu, pengunjung yang ingin berlama-lama menyaksikan matahari terbenam dan terbit esoknya lagi di balik bukit dapat menginap di wisma-wisma tamu yang juga telah disiapkan.

~o()o~

Sawah membentang rata di dataran terendah, diapit oleh deretan bukit di seluruh penjuru. Rumah-rumah penduduk menepi persis di kaki-kaki bukitnya, seperti memberi sawah itu kesempatan untuk mengada. Pada punggung bukit itulah pepohonan kopi tumbuh tanpa merenggut bukit dari haknya untuk menumbuhkan vegetasi lain. Pohon-pohon besar pun tetap kokoh berdiri di sela-sela kebun kopi. Ekonomi tak hendak menyerobot alam.

Bila dana sedikit lagi tersedia, jalan setapak yang halus bisa dibangun untuk mengantar pengunjung menjumpai air terjun landai, bernama Curug Lawe di balik bukit. Airnya tidak jatuh bebas dari ketinggian, melainkan meluncur deras pada tebing yang miring. Di dasarnya, kali sedalam satu meter bisa mengobati letih akibat menempuh jarak yang terjal berliku. Bagi yang tak kuat melanjutkan langkah, selalu ada saung untuk beristirahat. Bahkan perjalanan menuju dasar pun sudah bisa dinikmati.

Disebutkan pula tentang sebuah jembatan gantung, tempat orang bisa menyaksikan kerbau dan sapi dimandikan di dalam kali, jauh di bawahnya. Mungkin itu untuk kunjungan berikutnya, sebab satu hari memang tak cukup untuk mengunjungi Muncar.

Pemajuan Kebudayaan

Saya patur bersyukur sebagai pelaku seni yang tinggal di kota Salatiga, sebab kota ini berusaha memajukan kebudayaannya dengan merancang peraturan daerah atas inisiatif DPRD tentang pemajuuan budaya daerah.

Secara garis besar penyelenggaraan pemajuan kebudayaan ini dilaksanakan dalam empat langkah penting, yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan, yang masing-masing diuraikan lebih rinci.

Yang patut saya apresiasi lebih dari rancangan Perda ini adalah disebutkannya beberapa term seperti: kebebasan berekspresi, reinterpretasi, pengayaan keberagaman, inovasi, dan adaptasi menghadapi perubahan.

Sebagai pelaku seni, saya memahami berdasar pengalaman bahwa proses utama dari kebudayaan adalah produksi tanda. Di sini, entah disadari atau tidak, disiplin yang digunakan adalah semiotika. Tanda-tanda diciptakan oleh pelaku budaya yang dalam prosesnya membutuhkan kebebasan berekspresi. Tanda tersebut diupayakan memiliki kekhasan. Kekhasan tanda oleh Saussure dinyatakan dalam rumus bahwa kebernilaian tanda itu sebab pembedaannya dari tanda yang lain. Sifat distingtif ini secara logis melahirkan konsekuensi adanya keberagaman. Semakin produktif seniman berproses, semakin kaya keberagaman itu.

Tanda itu kemudian dipertukarkan kepada sesama. Pihak penerima berupaya mengurainya dalam upaya memahami agar komunikasi berjalan efektif. Di sini disiplin ilmu berkembang lagi dalam hermeneutika. Penerima tanda bisa saja memiliki pemahaman lain atas tanda itu, berbeda dari maksud si pembuat dan atau si pengirim tanda. Pergeseran makna sangat mungkin terjadi karena penerima tanda juga sudah memiliki pengalaman kognititfnya sendiri, yang menjadi konteks baru dalam proses pemaknaan tanda itu. Maka tidak bisa tidak, reinterpretasi atas produk kebudayaan pasti terjadi.

Suatu teks boleh saja dipahami berbeda di antara dua individu. Perbedaan lebih mungkin terjadi antar generasi. Bermunculannya perangkat sehari-hari yang baru dan berkembangnya infrastruktur pasti berpengaruh terhadap cara pandang atas kehidupan. Dengan perspektif yang berbeda, maka pemaknaan atas suatu tanda budaya pasti bergeser pula. Karena itu adaptasi atas perubahan harus disiapkan. Termasuk di antaranya kerelaan generasi terdahulu untuk diproduksinya wacana baru oleh generasi yang datang sesudahnya. Pengoperasi android tentu memiliki wacana sendiri dalam praktek kehidupan yang berbeda dari pengoperasi mesin ketik.

Ketidakrelaan diproduksinya wacana yang mengikuti perkembangan jaman, patut dicurigai sebagai upaya mempertahankan hegemoni kekuasaan. Hanya saja kekuasaan dalam konteks ini adalah senioritas. Michel Foucault menengarai bahwa mereka yang sudah menduduki kekuasaan (baca: senior) akan selalu berupaya memproduksi imu pengetahuannya sendiri demi tetap dalam posisinya. Sebanding dengan itu, produksi ilmu pengetahuan baru dari kalangan tak berkuasa (baca: generasi muda) juga akan dihambat. Lalu pan optikon atau mata-mata pengawas yang mencemaskan akan dipasang menyoroti generasi baru tadi, agar tidak mencoba memproduksi ilmu pengetahuannya sendiri (jangan sembarangan, durhaka, nanti kualat). Jadilah kemudian kemandegan budaya. Agar ini tidak terjadi, saya mendukung rancangan peraturan daerah tersebut untuk disyahkan menjadi Perda.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #19 Pekerja Seni

Secara teknis praktek berkesenian adalah produksi tanda, yaitu menciptakan wujud-wujud empiris yang membedakan diri dari liyan. Itulah mengapa 12 tube warna bisa menghasilkan jutaan lukisan, atau tujuh nada sanggup menghasilkan jutaan lagu, yang masing-masing berbeda.

Dalam semiotika, atau ilmu tanda, disebutkan bahwa suatu tanda memperoleh nilainya sebab bisa dibedakan dari sesama tanda lainnya. Kata bang memiliki maknanya sendiri dari kata bank, sebab ada satu morfem yang berbeda di antara keduanya. Demikian pula kesenian. Setiap seniman akan berjuang untuk membangun keunikannya masing-masing. Berkesenian adalah membangun identitas.

Tapi bagaimana jika identitas mendasar dari seniman–dan semua orang–malah ditutupi oleh masker?

Persoalan ini bisa dijawab dengan menitikberatkan perhatian pada karya. Identitas seniman ada pada karya yang dihasilkannya, bukan semata pada wajah yang diterima dari Tuhan sejak lahir. Tugas seniman adalah menciptakan, bukan sekedar menunjukkan apa yang sudah ada pada diri. Seni adalah bagaimana manusia melakukan pengolahan.

Tapi, pernahkah ada karya seni yang dirayakan pecintanya tanpa identitas sang seniman? Nama-nama seniman dengan semua foto dan biografinya adalah satu paket yang tak terpisahkan. Identitas seniman adalah narasi tersendiri yang memberi alasan mengapa karyanya patut dirayakan. Bunuhlah pelukis dari lukisannya, sebagaimana pos-modernisme membunuh para penulis dari karya tulis, maka lukisan akan menjadi hambar.

Pandemi yang menyembunyikan identitas ini menelan korban paling banyak dari kalangan seniman.

Kado Ulang Tahun Buat Istriku

Tangan yang Menyusul

Sekiranya di bilangan hari ini
tiga dasa warsa berkurang tiga
tahun yang dulu telah terlewati
tiada bayi melongok pada dunia

Jika saja tak pernah ada
penyalur data dalam gelombang tak kasat mata
meringkas jarak di punggung bumi
agar manusia dengan sesama saling berbagi

Seandainya tak kuberanikan rasa
mengikuti kehendak untuk tahu
dari sekedar sapa lewat aksara
sebab cemas dan malu membelenggu

Maka tak akan ada satu kisah baru
memenuhi episode hidupku
menghentikan sendiri yang sepi
untuk menjadi hari-hari berseri.

Tak akan kembali tangan yang hilang
dipersembahkan dengan kasih sayang
melalui tubuh perempuan mulia
istriku Sakuna tercinta.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #18 New Normal: Psiko-Analisis

Kata new atau baru di hati kita begitu lekat terasosiasi dengan kesan positif. Baru itu konotasinya menyenangkan karena telah terjadi perubahan menuju yang lebih baik. Tapi new normal tidak seperti itu. New normal adalah baru dalam kemerosotan, dan manusia diharap merasa biasa-biasa saja, atau normal. Merosot yang berterima.

Dalam upaya menerima itu, ego membuat mekanisme pertahanannya dengan rasionalisasi, “Nggak ada yang beda, kok. Cuma mengenakan masker, cuci tangan dan jaga jarak. Selebihnya tetap sama.” Agar lebih berterima lagi, analisis konsekuensi dari melakukan ujaran tersebut tidak dilakukan. Tak ada pertanyaan, berapa banyak nilai akan hilang dari pemakaian masker di muka, dari menjaga jarak, dsb. Dengan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, maka jiwa tidak terlalu tertekan. Dan ruang publik pun dijelajahi dengan ringan. Dalam prakteknya, pertanyaan tadi memang benar-benar muncul, bahwa ada yang direnggut dari kehidupan oleh masker dan jaga jarak. Tapi ego kemudian kembali membuat pertahanannya, “Ah, aku tidak sendirian. Semua juga mengalami ini.”

Sebagian individu memilih mekanisme lain, dengan bereaksi sesuai keadaan sambil mengalihkan sikapnya yang wajar. Karena di luar sana masih ada bahaya, maka keperluan untuk menuju ruang publik ditangguhkan, dan rumah sebagai perlindungan harus disusun sedemikian nyaman. Mekanisme ini akan mewujudkan semboyan rumahku istanaku. Lalu keasyikan diciptakan setiap hari dengan berbagai cara. Bila perlu, keasyikan itu dibagikan ke publik lewat media sosial. Jempol yang diterima menambah kegembiraan. Orang-orang yang memilih mekanisme ini sudah ditopang oleh kekuatan ekonomi dan internal rumah tangga yang solid. Sampai ketika tabungan habis, mungkin mekanisme pertama akan diambil juga. Tapi jika sumber daya ekonomi itu melimpah, tak mustahil mereka akan mengalami fiksasi dalam situasi pandemi. Mereka akan melanjutkan pola hidup ini seterusnya.

Di seberangnya adalah mereka yang melakukan penyangkalan hingga apatis, yang menolak fakta adanya wabah. Dengan mekanisme ini, seseorang akan menjelajahi ruang-ruang publik seolah tak ada bahaya yang mengintai di luar pengetahuannya. Ia tak akan merasa bersalah untuk tidak mengenakan masker, bahkan membuang ludah dan ingus di ruang terbuka. Tantangan juga dilontarkan dalam rangka membuktikan keyakinannya bahwa wabah itu tidak ada, seperti pada seorang selebriti nasional yang menghebohkan itu.

Sama-sama tidak terpengaruh dengan wabah, adalah asketis yang tidak melakukan tindakan konyol yang membahayakan liyan seperti para apatis tadi. Seorang asketis memang sudah mengambil jarak dari dunia, maka apa pun yang dinikmati dan diderita umumnya orang tidak akan memberi dampak sedikit pun pada hidupnya. Mereka sanggup bertahan di ruang privatnya dengan kedamaian batin yang tak goyah. Namun yang ini sedikit sekali bisa dijumpai di lingkungan kita.

Yang banyak adalah yang memilih mekanisme pelemparan kesalahan, atau proyeksi. Alih-alih mencari solusi atau berkelit dalam kesulitan, orang-orang ini bergerak mundur mencari pihak untuk ditimpai hukuman sebab telah menimbulkan penderitaan. Ketika biang kerok tidak ditemukan, mereka membangun teori untuk menghibur diri atau menyasar sosok publik tertentu. Mekanisme ini tidak mengurangi sedikitpun beban derita itu, tapi mengobarkannya ke segala arah.

Mekanisme mana pun yang diplih tetap saja tidak menghapus kenyataan bahwa masalah itu tetap ada di ruang kehidupan. Mekanisme pertahanan diri muncul karena ada kesenjangan antara kondisi ideal dengan kenyataan. Itu dipilih oleh masing-masing individu tanpa bisa dikontrol oleh pihak-pihak lain, penguasa sekalipun. Bahkan individu bersangkutan juga tidak sadar mengapa memilih mekanisme tertentu. Semua adalah korban keadaan, dan sedang mengalami tekanan jiwa–terasa ataupun tidak.

Kondisi ideal yang diharapkan saat ini, bagaimanapun juga, dicapai kembali dengan penciptaan vaksin yang teruji dan obat bila mungkin, agar tidak perlu ada new (worse) normal itu, melainkan keep normal.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #17 Melawan Spekulan

Awal bulan Mei netizen dihebohkan oleh kabar tentang meruginya penimbun masker, yang terpaksa menjual dengan harga di bawah harga beli. Terlepas dari benar tidaknya kabar tersebut, seandainya memang benar, apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini?

Dunia modern telah berhasil membagi-bagi fungsi sosial; satu orang cukup mengerjakan satu bidang saja. Sedangkan bidang lain tak perlu merepotkan hidupnya, kecuali dia membayar dengan alat tukar untuk bidang yang tidak dikuasai itu saat membutuhkannya. Seorang pegawai yang tak menguasai ilmu kesehatan, bisa datang ke dokter dan apotek untuk menyudahi sakitnya. Dokter itu pun tak perlu repot memanjat atap ketika gentingnya bocor, sebab ada tukang yang bisa ditugasi untuk pekerjaan itu dengan ongkos yang sesuai. Demikian seterusnya.

Modernitas memang berhasil menciptakan para spesialis. Tapi keretakan sosial sekaligus tercipta di sana. Keretakan itu kemudian dimanfaatkan oleh spekulan. Pedagang nakal ini paham betul dalam memainkan harga komoditi. Mereka bisa membaca kapan konsumen akan menyerbu produk tertentu secara masif. Dengan itu mereka mendahului memborong semua barang sampai tak bersisa, lalu menjualnya lagi dengan harga selangit kepada konsumen yang tak bisa membuat produk tersebut sebab bukan spesialisasinya; bukan bidangnya. Inilah terjadi dengan kelangkaan masker pada awal masa pandemi ini.

Satu-satunya cara untuk melawan kelakuan spekulan semacam itu adalah dengan membongkar modernitas. Pembagian tugas harus diterabas, spesialisasi harus mejadi generalisasi. Maka menghadapi langka dan mahalnya masker tersebut, rumah tangga dari latar belakang profesi apa pun mulai mengoperasikan mesin jahitnya. Masing-masing secara mandiri menciptakan sendiri masker yang dibutuhkan. Bila ada sisa, bolehlah dijual ke teman atau pemesan dengan harga terjangkau. Dan seketika timbunan masker di gudang spekulan itu pun menjadi usang tak berharga.

~o()o~

Saya pernah menulis catatan kaki pada salah satu tulisan saya di blog ini, bahwa sebagian pola hidup pos-modern layak dihayati. Inilah contohnya, yaitu pengaburan batas-batas fungsi. Seorang pelukis boleh saja memiliki kemampuan menjahit dan sekaligus marketing untuk menjual karyanya. Petani perlu juga menguasai ilmu pertukangan sehingga tak mati ketika musim paceklik.

Dengan adanya multi-fungsi dan multi-talenta pada satu individu semacam itu, kita mempunyai ketahanan hidup yang lebih tinggi, dan tak akan gamang di depan permainan spekulan.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #16 New Normal: Psiko-Sosial

Saya sempat keluar satu kali dalam masa pandemi untuk keperluan yang tak bisa diwakilkan. Pengalaman itu sungguh terasa berbeda. Berdasar itu saya mencoba membayangkan seperti apa interaksi kita nanti dalam pandemi yang belum benar-benar tuntas, yang dinamai new normal itu.

Setiap individu dihadirkan kembali ke dalam interaksi sosial, dengan batasan protokol kesehatan. Masing-masing mengenakan masker di wajah. Objek kecil dari bahan tekstil seluas tak lebih dari 50 cm persegi ini secara praktis mendirikan dinding sosial yang tinggi. Dia membisukan hampir seluruh mediasi antar-personal.

Berapa banyak perasaan dan pikiran itu terekspresikan di dalam wajah? Bahkan ada ilmu khusus yang mempelajarinya, yang disebut mikro-ekspresi. Dengan masker, setiap individu akan mengalami ambuguitas dalam interaksinya dengan sesama. Ia tak bisa menemukan senyum ataupun cibir pada lawannya. Mata memang ikut bicara, tapi tak selugas bibir yang mudah dilengkungkan.

Dengan kesulitan membaca dan mengevaluasi ekspresi lawan, kita akan mengalami ambivalensi dalam menentukan suatu respon, dan lebih jauh: keputusan. Maka praktek komunikasi pun kembali dipercayakan pada bahasa verbal, agar tak berhenti dalam dugaan-dugaan. Perasaan agaknya harus turut diucapkan dengan kosa kata yang tersedia: saya marah, saya gembira, saya kecewa, saya terharu, dll. Kecuali tawa yang cukup didemonstrasikan, dan lawan pun sudah mengerti. Tapi senyum itu tak bisa diwakili oleh kata-kata.

Ambiguitas komunikasi dan ambivalensi penilaian itu pada puncaknya membawa kita pada sikap masa bodoh; apatis. “Di tengah keramaian ini, aku cukup mengerjakan bagianku, lalu selesai.” Liyan akan disikapi sebagai objek-objek bergerak namun dingin, tanpa memancarkan daya tarik sosial. Pertemanan lambat dalam perkembangannya, sebab identitas visual untuk diingat sedang disembunyikan. Kita ragu untuk menyapa orang di sebelah, sebab tidak tahu apakah sudah pernah berkenalan ataukah masih perlu berkenalan dulu. Semua akan terasa canggung. Ditambah kecemasan akan penularan virus, maka ciri-ciri individualisme akan semakin kentara.

Kita akan sangat merindukan kehidupan lama sembari menunggu vaksin itu ada. Sementara dunia maya masih akan menjadi mediasi komplementer yang sangat membantu. Bahkan bisa jadi sebentar lagi akan muncul teori psikologi sosial digital.

Coretan Pikiranku dalam Pandemi #15 Tak Ada yang Mustahil?

Sejarah pemikiran manusia sudah lama tiba pada pragmatisme, setelah ribuan tahun lamanya berkembang dari teosentrisme hingga phonosentrisme. Dalam pragmatisme, orang mengembangkan teori untuk memperoleh keuntungan secepatnya, semudahnya, dan sebanyak-banyaknya. Retorika dibangun semerdu mungkin untuk mempengaruhi pikiran orang agar bergerak begitu saja tanpa berhenti sejenak untuk melakukan oto-kritik.

Satu retorika yang diintrodusir ke tengah publik dan dicaplok dengan lahap berbunyi ‘tak ada yang mustahil’. Dengan ini orang kemudian melayani hasrat-hasratnya tanpa sempat berpikir untuk membongkar klausa tersebut secara semantik. Asal rasa dangkal sudah tersentuh, terpukau, maka dianggap benarlah itu dan tak perlu digagas ulang.

Mari kita mulai mempertanyakan dan menjawab.

“Tak ada yang mustahil’ di dalamnya mengandung paradoks yang menyangkal dirinya sendiri. Klausa tersebut bisa diubah ke dalam bentuk positif menjadi ‘segalanya mungkin’. Segalanya, jika kita mau jujur, berarti meliputi ketidakmungkinan. Maka hadirnya yang tidak mungkin itu pun mungkin di dalam alur hidup setiap orang. Tak ada yang mustahil berarti kemustahilan itu sendiri tidak mustahil adanya. Mustahil itu pun mungkin.

Dengan demikian kita dihadapkan pada perhitungan probabilitas yang variabelnya tidak jelas. Tapi bisa saja antara mungkin dan tidak mungkin itu punya nilai rasio 50-50. Bukankah segalanya mungkin?

~o()o~

Pandemi ini adalah kesempatan bagi siapa pun yang menggenggam kuat prinsip tersebut untuk mewujudkannya secara aktual. Mungkin semangat ‘tak ada yang mustahil’ bisa didemonstrasikan dengan melakukan penelitian mandiri untuk penciptaan vaksin corona, terlepas dari latar belakang keilmuan dan profesi yang dijalani.

Bukankah tak ada yang muistahil? Monggo.