Kampus Masih Dijauhkan dari Kehidupan

Saya sempat merasa kasihan pada mahasiswa. Mereka demikan bersemangat mempelajari teori-teori hasil pemikiran orang-orang cerdas di berbagai masa; mencermati perkembangan cara pandang atas kehidupan yang berubah dan berganti di setiap jaman.

Mereka di kampusnya mempelajari, misalnya, klasifikasi kesadaran dalam teori kritis yang pada tingkat tertinggi harus memiliki kesadaran kritis dan transformatif, yaitu untuk menemukan yang tidak beres dari apa yang sedang terjadi, dan lalu berupaya melakukan perubahan. Mereka mengiyakan dan mengamini kata-kata Jurgen Habermas bahwa setiap individu mesti menjadi subjek yang aktif, agar jangan sampai diobjekkan oleh liyan hingga hanya bisa diam menerima. Demikian juga sebaliknya.

Lalu ada di antara mahasiswa itu yang yakin dapat mengubah dunia setelah keluar dari kampus nanti dengan ilmu yang sudah dimiliki, sebab mereka sudah lama melihat ada yang tidak beres di lingkungan hidupnya yang luas.

Tapi apa yang kemudian mereka jumpai?

Teori-teori itu tiba-tiba menjadi tumpul dan tak berlaku di lapangan kehidupan. Cita-cita mereka untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah susah payah dicari pun binasa seketika. Ilmu itu lumpuh di hadapan bias-bias kekuasaan, birokrasi, dan mayoritas.

Kesadaran kritis mereka berhenti di situ tanpa beranjak menuju transformasi, sebab perubahan akan dicurigai sebagai subversi. Perubahan dianggap penentangan atas kesepakatan lembaga-lembaga negara, yang sesungguhnya belum tentu benar dan mengerti. Upaya mereka untuk menjadi subjek tak terwujud barang secuil, sebab kewajiban mereka adalah patuh menerima dengan punggung yang tertekuk.

Lalu para mahasiswa yang telah menjadi sarjana itu pun melakukan refleksi ke masa lalunya yang belum begitu jauh. Ilmu, teori, metode yang diajarkan di kampus dulu ternyata hanya sebagai barang mewah yang dipajang dalam etalase megah, dengan kaca pelindung yang tebal. Semuanya bisa dilihat, menggoda, mengagumkan, tapi tak bisa dimiliki untuk diwujudkan; sebab kebenaran di lapangan kehidupan tetap saja milik kekuasaan.

Mereka pun bertanya, apa gunanya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Cukup Aku Saja

Saya pernah berdoa, semoga saya menjadi manusia terakhir yang terlahir cacat di muka bumi ini.

Doa ini tidak pernah terkabul. Hingga kini masih saja ada bayi-bayi terlahir dengan struktur biologis tidak sewajarnya, yang sekaligus mengurangi fungsi-fungsi motorik bahkan mentalnya. Apakah saya kurang serius dan tulus dalam berdoa?

Ini masalah misterius kehidupan yang masuk ranah kepercayaan. Maka saya tidak akan berlam-lama di sana. Beda agama, menyajikan beda narasi. Satu bicara takdir, satu lagi tentang perputaran. Ini soal kecocokan pribadi.

Tapi yang ingin saya tekankan adalah, saya benar-benar dengan sepenuh hati berharap tidak ada orang melanjutkan/menggantikan situasi yang saya alami. Maka saya tidak setuju dengan model perjuangan untuk menuntut kemudahan aksesibilitas melalui penanaman pikiran bahwa siapa pun bisa menjadi cacat.

Orang Jawa punya istilah ngalup, yaitu pengharapan buruk untuk terjadi di masa depan. Kata ini hanya bisa dipahami lewat rasa. Dan siapa pun yang menjumpai rasa itu akan berhati-hati dengan pikiran dan kata terucap maupun tertulisnya.

“Kalau aku tidak kamu tolong, kamu akan mengalami seperti aku.” Betapa dunia ini penuh kekerasan dengan diplomasi seperti ini. Saya tetap bertahan dengan doa yang tak terkabul itu, “Semoga tidak ada lagi bayi terlahir cacat, ataupun orang yang mengalami kecelakaan dan harus diamputasi. Akhirnya, biarkan saya sendirian dalam kondisi ini, dan bahkan menjadi minoritas dalam minoritas.”

Pameran Tunggal ke-2, Local Views

Telah lewat enam tahun sejak pameran tunggal yang pertama itu. Enam tahun yang terasa begitu cepat untuk mengumpulkan karya-karya baru dan membangun kesempatan. Dan tibalah kesempatan kedua ini.

Sebagaimana pameran tunggal pertama dulu, saya selalu menampilkan seniman lain dalam ruang yang sama. Kali ini adalah Nabyla, seorang murid binaan Sanggar Saung Kelir yang tekun menjalani latihan, mulai dari bimbingan seniman Uwar Esje dengan mempelajari teknik dasar, serperti memahami bentuk dan teknik pewarnaan dengan krayon. Dilanjutkan kemudian di bawah bimbingan Sogik Prima Yoga yang mempelajari teknik pewarnaan cat air dan cat minyak. Pada tahap inilah, saya terpesona dengan hasil yang dicapai demikian pesatnya. Nabyla menunjukkan suatu potensi.

Maka ketika Pemerintah Kota Salatiga lewat Dinas Pariwisata memberikan ruang buat saya untuk berpameran tunggal, Nabyla yang saya pilih untuk turut  serta. Terwujudlah gelar karya antara seniman lukis kaki anggota AMFPA Internasional bersama seorang seniman cilik kota Salatiga.

Berbarengan dengan Festival Kuliner ke-4 yang meriah, pameran ini dibuka oleh Walikota Salatiga, Bp. Yuliyanto S.E., M.M., pada tanggal 31 Juli 2019, dikunjungi para pejabat dari Kepolisian dan TNI, serta para pecinta seni dan jurnalis.

Satu bagian yang paling menggembirakan bagi saya adalah kehadiran murid-murid TK dan SD untuk mendapatkan semangat di awal fase kehidupan mereka. Dunia ini layak dijalani sebab keindahannya.

Pameran ini sekaligus menjadi satu peringatan hari jadi Saung Kelir yang jatuh pada tanggal 4 Agustus. Maka sebuah perayaan kecil menandai penutupan pameran sebagai rasa syukur atas semua perkembangan dan pencapaian yang ada.

 

Memajukan Peradaban dari UPH

Ketika satwa dan pohon pun telah menjadi subjek hukum, majulah peradaban dari sebuah negeri.

Penyandang disabilitas–yang adalah manusia juga–ketika masih masuk dalam kelompok marginal maka tak terbayang kapan seekor satwa dapat “membela dirinya” dalam sebuah peradaban.

Di sini, dalam kegiatan tahunan bertajuk Satu Ruang, para mahasiswa Fakultas Desain Interior Universitas Pelita Harapan secara aktual mengangkat kaum marginal dari kalangan disabilitas untuk dapat turut menjalani hidup sosialnya dengan mengakses ruang publik secara lebih mudah. Dalam periode ketiga ini, diambil tema aksesibilitas di stasiun kereta api.

Dengan penuh apresiasi, saya hadir di sana untuk turut memberikan sudut pandang sebagai pihak yang sedang diperjuangkan. Di samping apresiasi itu, saya secara pribadi tetap menyampaikam semangat pribadi saya yang tidak mau terlalu merepotkan liyan sebelum berkeringat terlebih dahulu.

Sebagai praktek dari semangat ini adalah dengan memamerkan karya-karya lukis, sekaligus mendemonstrasikan proses pembuatannya, agar tampak bahwa orang-orang dengan tubuh yang tidak genap itu tidak selamanya menjadi beban sosial.

 

Hasratmu, Deritamu

Apa yang menjadi keinginanmu itu adalah apa yang bakal menjadi bebanmu.

Saya tidak hendak menganjurkan orang agar memberangus asa dan cita-citanya. Saya tidak mengajak orang agar memilih hidup asketis di hutan-hutan, sehingga absen dari peradaban.  No, not at all.

Tapi saya hendak mengingatkan bahwa hasrat, cita-cita, asa, atau apa pun istilahnya (sekarang disebut mimpi, saya bingung dengan istilah ini), adalah tanggung jawab dari yang menumbuhkannya sendiri di rongga kepala dan dadanya. Dialah yang wajib berjuang untuk pertama kali, dengan segala kerepotan dan susah payahnya, agar cita-citanya itu terwujud.

Jika tiba-tiba muncul keinginan pada diri saya untuk menyeberangi kali yang melintang di depan, maka sayalah yang harusnya terbebani oleh rasa ingin itu. Saat itu pilihan saya ada dua, segera bersusah payah menyeberangi kali dengan cara apa pun–kesot, jalan terpincang-pincang, meloncat-loncat–hingga tiba di seberang sesuai keinginan itu; atau saya memupus hasrat itu dan bertahan saja di tempat semula; toh di sini baik-baik saja.

Pilihan kedua itu lebih bijak jika ternyata langkah awal saya adalah meneriaki orang yang tidak berkepentingan agar menggendong tubuh saya ke seberang.

***

Alfred Adler menyarankan orang untuk bersikap realistis atas kenyataan dirinya, di antara kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. Wujud sikap realistis ini adalah kerja sama di antara makhluk sosial itu, sebab tidak ada manusia super yang menyelesaikan urusan hidupnya seorang diri. Kerja sama bagi saya mengisyaratkan adanya keuntungan dua arah (mutual benefit).

Maka dalam contoh kasus menyeberangi sungai tadi, pertanyaan saya adalah “Apa yang bisa saya berikan pada orang lain yang mau membawa saya ke seberang?” Tentu bukan semata-mata materi jawabnya, bisa apa saja sejauh kemampuan yang ada pada diri saya. Tapi yang jelas, mengalirkan keringat liyan untuk memenuhi hasrat sendiri bagi saya tidak elok. Apa lagi saya belum menunjukkan–paling tidak pada diri sendiri–satu upaya apa pun.

Bagaimana Anda sendiri menyikapi hasrat yang muncul dalam diri Anda?

 

Mistisisme Lukisan

Saya tidak hendak bicara tentang lukisan bertema dewa-dewa, atau lukisan berdasar kisah-kisah historis dari al-Kitab. Tidak pula tentang pilihan genre sahabat saya yang melukis demit (makhluk astral) di tempat-tempat seram. Saya hendak bicara sejauh pengalaman saya sendiri.

Ada aspek tidak ilmiah dalam praktek melukis; suatu aspek yang tidak terjangkau oleh analisis logis ataupun pendekatan empiris. Segala kalkulasi tentang dimensi, keseimbangan, dan harmoni itu belum menjangkau wilayah ini. Tidak pula penilaian proporsi, anatomi, dan perspektif.

Melukis adalah praktek penciptaan yang mana jiwa sang pelukis bakal merasuk ke dalam lukisan itu, ke dalam larutan cat pada bentangan kanvas. Lukisan adalah rekaman rasa sang pelukis sepanjang proses penciptaannya. Marah, cinta, nelangsa ataupun gembira bakal ditangkap oleh warna, disimpan, dan bahkan dipancarkan ulang ke ruang di sekitarnya.

Mungkin kita pernah memajang sebuah lukisan yang menggambarkan keceriaan, seperti taman bunga misalnya. Tapi entah kenapa suasana di ruangan itu berubah menjadi murung. Jika kita telusuri pada pelukisnya, kita bakal tahu bahwa bisa saja sang pelukis sedang merasakan kegalauan saat berkarya dulu.

Menyadari ini, saya berusaha menata pikir dan rasa setiap kali hendak dan sedang berkarya. Sebab saya tidak ingin menghembuskan energi negatif ke dalam ruang-ruang pribadi orang lain. Minimal, lukisan itu membawa muatan rasa optimis dan syukur atas kehidupan. Dengan alasan ini pula, saya tidak membuat lukisan atas dorongan sublimasi tekanan batin. Misalnya menumpahkan rasa kecewa atas suatu kegagalan menjadi lukisan. Seandainya pun itu saya lakukan sebagai sebuah terapi, lukisannya akan saya simpan sendiri dan tidak untuk dijual.

Bukti Pengalaman

Saya pernah menggelar pameran bersama di galeri saya yang menampilkan karya-karya dari sepuluh pelukis. Karena orientasnya adalah penjualan, saya membebaskan tema lukisan yang hendak dipajang. Tak bisa dihindari, tema-tema yang laris pun banyak dipilih, seperti panen raya. Dua lukisan yang menggambarkan petani memanen padi di sawah dari dua pelukis berbeda dipajang bersebelahan. Secara teknis tidak jauh berbeda, materialnya pun sama: cat akrilik. Pada malam pembukaan, satu dari dua lukisan panen itu dibeli pengunjung, sedang yang satu tetap bertengger di dinding itu hingga pameran usai. Belakangan saya tahu bahwa lukisan panen yang tidak laku itu dilukis dengan semangat balas dendam atas masalah pribadi sang pelukis.

Di ruang galeri saya, puluhan lukisan yang saya ciptakan digantung di dinding. Pengunjung datang silih berganti, dan saya mengamati aktivitas mereka saat berjalan perlahan, bergeser dari satu lukisan ke lukisan yang lain. Ada satu lukisan yang selalu membuat langkah pengunjung itu terhenti, dan kemudian terpaku di depannya. Lalu saya melakukan kilas balik atas pengalaman lampau ketika membuat lukisan-lukisan itu. Ternyata memang ada muatan rasa yang lebih kuat ketika menciptakan lukisan yang membuat langkah terhenti tadi. Saya ingat bagaimana saya bersemangat mengumpulkan objek-objek untuk referensi, seperti daun kering di pinggir jalan. Saya ingat bagaimana saya lupa dengan banyak aktivitas lain sebab merasuk ke dalam goresan-goresannya. SAya ingat pengalaman ekstasis (keluar dari diri sendiri) itu. Saya ingat bagaimana saya membangun harapan akan tersampaikannya makna yang saya sisipkan lewat gambarnya.

Lukisan auratik, demikian istilahnya, seperti memancarkan aura dan sanggup berbicara mewakili dirinya sendiri tanpa kehadiran sang pelukis dan pendampingan narasi panjang lebar.

Kembalinya Tangan Itu

Dua tanganku sudah meninggalkan badan sejak sebelum terbebas dari kubah ketuban; terlahir dulu dengan terburu-buru. Lalu duka pertama kali dirasakan oleh Ibu; bagaimana kelak dunia bakal menerima? Dengan sedih sesalnya ia berjanji menjadi tangan pengganti.

Tapi Ibu tidaklah bakal selamanya di sisi, seluruh dunia juga mengerti. Maka lama kucari perempuan lain yang menyediakan dua tangannya untukku, selagi Ibu masih ada.

Jangan kau kira pencarian itu mudah; jalannya terjal berliku, kabut menyembunyikan ujung langkah, dan jebakan mengintip di balik tikungan. Sekiranya kau mau percaya, putus asa sempat nyaris menyapa.

Hingga akhirnya titik balik kutemukan lewat kekejaman pada diri sendiri, semacam tekad bahwa hidup tetap sanggup kujalani meski sendiri. Lalu di tempat menetesnya keringat dan air mata terubuslah benih cinta.

Datangnya juga lewat ruang yang tak disangka, meski waktu terbilang sudah terlanjur lama. Namun dengan keterbukaan dan saling menerima semua menjadi sempurna. Waktu pun bicara tentang kesesuaian dengan masa depan. Sehingga masa lalu memang saat untuk berkorban.

Tangan yang dulu hilang, kini telah kutemukan; sedia memenuhi fungsi meski tak menempel di badan. Walau sesungguhnya tak hendak pula maksudku menyandera, tapi saat cinta bicara, badan jiwa sudah tak mendua.

Melukis sebagai Panggilan Jiwa

Saya tidak mau kelak meninggalkan hidup tanpa membekaskan jejak kebaikan yang menegaskan manfaat adanya saya di dunia. Dan sebagai pelukislah saya ingin dikenang oleh generasi esok yang tidak pernah sempat berjumpa.

Untuk itu saya harus mewariskan karya-karya terbaik sebanyak mungkin. Dan karya-karya itu juga harus dengan mudah dapat diakses oleh publik secara langsung.

Niatan seperti ini butuh energi besar untuk mewujudkannya. Suatu koleksi lukisan dalam jumlah yang memuaskan harus segera disediakan. Ruang untuk menampung dan memajangnya mesti layak untuk berbagai kunjungan. Dokumentasi dari perjalanan hidup segera ditata. Segalanya dipersiapkan untuk suatu masa di mana saya sudah tidak hadir lagi secara ragawi.

~o()o~

Saya tidak mau dalam hidup yang sedang saya jalani, tak ada peran yang saya sunggi untuk membuat saya punya arti. Menata warna pada kanvas untuk menghantar rasa indah ke hati orang, setipis apa pun rasa itu, telah membuang rasa sia-sia dari hati saya.

Menata garis dan bentuk, menyematkan makna-makna pada berbagai citra benda dan makhluk, sekalipun tidak mesti ada kesepahaman, telah membendung rasa tak berguna dari rongga dada.

Hari-hari yang berganti tak boleh terlewati tanpa satu goresan sekali pun, entah itu pada kanvas atau sekedar kertas usang. Dan meski nanti menumpuk bersama coretan-coretan lain.

Melukis bagi saya terlebih dahulu memenuhi kepuasan batin. Ini jauh mengawali hasrat-hasrat mengumpulkan materi, sebab itu bisa diserahkan pada hukum sebab-akibat yang pasti.

 

Melukis On The Spot

Tubuh bergumul langsung dengan cuaca; kulit marasai suhu tinggi yang dibawa oleh partikel-partikel cahaya, atau dalam kesempatan lain, pori-pori terpaksa mengerucut demi membendung dingin agar tidak merasuki organ dalam tubuh.

Plototan cat di papan palet menyerah pada sinar matahari, hingga mengkristal lebih cepat. Di kala hujan, air dari langit kerap kali melunturkan kembali susunan warna akrilik yang sudah indah di kanvas.

Tidak ada lagi temperatur normal sebagaimana di dalam kamar. Sementara pikiran harus segera mengurai paparan alam yang luas dan rumit ke dalam bentuk-bentuk sederhana. Batin mencerap rasa dan menyalurkannya melalui kuas bersama warna-warna. Lalu disatukan dalam kanvas selama tak lebih dari tiga atau empat jam.

Melukis alam langsung di tempatnya berarti membangun studio portabel tanpa dinding. Prinsip kesementaraan nyata sekali di sini. Pengaruhnya hingga ke dalam lukisan. Goresan yang terwujud bukanlah goresan halus dan detil, yang menyiratkan proses yang stabil dan konstan. Namun goresan-goresan spontan yang tampak sekali sedang berpacu dengan waktu.

Cahaya bergerak, bayangan berpindah. Setiap penundaan goresan hanya akan melewatkan kesempatan indah. Dalam pacu seperti itu pelukis hanya menangkap kesan-kesan sekilas dari apa yang dilihatnya. Maka hasilnya adalah lukisan impresionistik. Kelak penontonnya akan merasakan keindahannya lewat susunan warna-warna dalam garis-garis tak sempurna. Di situlah, lukisan benar-benar terasa sebagai lukisan.

***

Melukis on the spot bukanlah sekedar melukis di luar ruangan. Tapi menentukan objek nyata lalu melukisnya berdasar kontak mata langsung terhadap objek itu. Dan biasanya, objek terpilihnya adalah objek-objek natur atau kultur yang terbentang di luar sana (meski bisa juga objeknya ditata dalam studio sekiranya berukuran kecil seperti objek still life).

Dengan melukis di ruang terbuka, maka interaksi dengan publik pun niscaya terjadi. Mereka akan datang berkerumun, mengobati rasa ingin tahunya; bagaimana sebuah lukisan bisa dibuat. Respon yang kemudian mereka sampaikan pun tak terhalang dari penerimaan pelukis. Baik atau buruk, memuji atau mencemooh, akan langsung diterima.

Di sinilah pelukis berlatih dengan kekuatan morilnya; yang itu tak akan pernah terjadi hanya dengan bertahan di dalam studio yang nyaman.

Baca juga:

Bulan Kesiangan

Pesannya hendak datang
membawa cahaya penerang
ketika hitam membalut bumi
pandangan mencari-cari

Tapi mentari hadir mendahului
baru rembulan menawarkan janji
tertolak pun minta dihargai
seperti pahlawan berjasa abadi.

Cahaya redup ia paksa berikan
mengintip di sela awan-awan
sia-sia teredam siang
ia sangka masih ciptakan bayang

Bulan kesiangan sudah teriris
tanpa cahaya sendiri ia mengais
daya siapa ia bawa-bawa
harapnya dikira ia yang berjasa.

Tinggi ia melampaui angkasa
Tak pernah bisa tanpa akunya