Blogging

Teknologi berkembang begitu pesat, tentu ini adalah buah dari akal budi manusia. Sepuluh tahun silam, saya menghitung-hitung betapa mahalnya biaya untuk punya halaman pribadi di internet: membeli domain, maintainance dan lain sebagainya. Tapi sejenak saja waktu berlalu telah ada sarana gratis berupa situs jejaring sosial dan blog. Tradisi manusia segera berkembang dalam interaksi dan kebebasan berpendapat. Saya juga turut menkmati perkembangan itu.

Masalah mengiringi dalam perkembangan ini; dari pengkerdilan fungsi dan pengguna blog yang disejajarkan dengan peretas, hingga kurang sadarnya pengguna blog itu sendiri dalam etika bersuara. Blog itu ibarat bangku di tepi jalan, di mana kita bisa dan biasa nongkrong sambil minum kopi atau merokok. Tingkah polah yang kita lakukan di sana akan disaksikan oleh banyak orang. Sesunyi apa pun sudut tongkrongan yang kita pilih, suara kita tetap akan terungkap lewat mesin pencari. Blogging adalah kegiatan publik bukan kegiatan pribadi, meskipun kita mengetikkan kontennya di malam sunyi ketika yang lain pulas terlelap.

Ketika kita memanfaatkan teknologi ini, kita tak ubahnya merangsek ke tengah kerumunan orang, yang pasti akan mengakibatkan gesekan. Saat itu kita perlu memperhatikan apa yang kita gendong di punggung. Jika seonggok durian yang kita bawa, tidak mustahil akan ada yang terluka karena tersenggol tajam kulitnya. Tapi apakah lantas durian tidak boleh dibawa ke tengah kerumunan? Apakah semua pembawa durian harus dihentikan dari langkahnya? Tentu tidak. Pembawa durian tetap boleh melintas di tengah keramaian, hanya langkahnya perlu diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi singgungan dengan orang lain.

Kita mesti perhatikan juga kenyataan adanya orang yang berteriak kesakitan ketika tersenggol kulit nangka. Buah nangka kulitnya tak setajam durian, tapi toh ada yang mengaduh dan merintih. Rupanya si sakit ini sedang mengidap bisul di sekujur badan, dan ia memaksakan diri ikut hadir di keramaian. Demi si bisul ini, haruskah pembawa nangka ditendang menuju tempat sunyi, dan si bisul dibiarkan leluasa menularkan penyakitnya?

Hadir di tengah keramaian memang harus bersiap diri. Persiapan yang utama adalah kesediaan untuk berdialog. Teknologi telah menyediakan sarananya, setiap tulisan dalam blog memiliki kolom komentar agar pembaca bisa turut menjadi yang dibaca; agar pikiran yang beragam bisa saling dipertukarkan; agar fakta yang masih tersembunyi bisa turut diungkapkan. Tapi si bisul tentu tak sudi menyambut kebaikan teknologi, ia memilih tangan besi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s