Mensyukuri Hidup

Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, nenek saya yang renta masih setia dengan kesibukan. Bukan bisnis bernilai jutaan rupiah atau pun perkumpulan sosial bergengsi yang memenuhi hari-harinya. Ia hanya membuat jajanan ringan di dapur rumah, untuk kemudian dititipkan ke kantin-kantin sekolah. Pernah suatu ketika saya menyarankan padanya untuk beristirahat menikmati hari tua. Anak cucunya banyak, mestinya ia bisa menyandarkan kebutuhan hidup pada mereka. Tapi ia menjawab, “Isih isa obah, ya nggolek dhewe.

Masih hidup dan bisa bergerak leluasa bagi nenek adalah sebuah tanggung jawab, bukan sekedar hak untuk dinikmati. Tanggung jawabnya adalah pada hidup itu sendiri, mulai dari hidup tanpa membebani orang lain, hingga hidup dengan memberi manfaat bagi orang lain. Nenek yang merupakan sisa generasi kuno selamat dari gempuran materialisme yang kini menjerat generasi cucunya.

Thanking for Life Masih terkenang di benak saya ketika nenek menyusuri trotoar kota yang keras dan panas dengan bertelanjang kaki. Langkahnya rikat meski pendek-pendek karena terhalang kain jarik yang rapat. Saya sempat menyapa saat ia melintas di depan kampus. Sejenak basa-basi, ia lanjutkan lagi langkah rikat itu untuk menjemput rejeki dari karya tangannya. Saya kembali ke kampus yang aulanya sedang disewa untuk seminar. Dalam seminar itu saya menyaksikan wajah lain dari kehidupan.

Di sini yang diagungkan adalah hasil. Dan tiada sesuatu pun yang layak disebut hasil selain uang. Segala gerak polah badan yang tidak berujung pada uang didorong menuju sudut terkelam. Di sini, kata pengabdian diucapkan dengan mulut mencibir. Wajah nenek segera membayang di mata, wajah dari orang-orang yang mendapat cibiran.

Hidup bahagia adalah pilihan setiap orang. Definisi bahagia juga bisa dipilih sesuai preferensi masing-masing. Bahagia tidak pernah menjadi ilmu eksak, ia adalah seni. Banyak orang menempatkan kebahagiaan sebagai hasil, sebagai pencapaian dari sebuah proses. Ketika kebahagiaan ditunda hingga tibanya pencapaian, maka ada satu hal maha penting terlupakan, yaitu proses itu sendiri. Proses sejatinya juga mendatangkan kebahagiaan, sekalipun proses itu menenggelamkan diri dalam keringat.

Mendiang nenek adalah orang yang sadar bahwa ada bahagia di dalam proses. Karenanya, tawaran tulus dari cucunya agar ia beristirahat ongkang-ongkang kaki ia kembalilkan pada yang menawarkan.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s