Perjuangan Tak Perlu Personifikasi Lawan

Ketika proses perjuangan adalah perlawanan terhadap sosok-sosok tampak mata atau objek-objek yang bisa disentuh, kita mampu memenangkan perjuangan itu karena kita bisa menggunakan anggota badan atau objek lain untuk menghancurkan lawan. Perjuangan seperti ini pernah kita menangkan ketika nusantara diduduki penjajah Belanda dan Jepang. Namun manakala perjuangan adalah melawan keadaan, kita masih tergagap-gagap dalam menjalaninya.

Keadaan tidak memiliki wujud; ia bukan orang, bukan pula barang. Keadaan ini menghimpit hidup dan merampas kemerdekaan, sama seperti dulu pada masa kolonialisme. Tapi kita tidak bisa menghancurkan keadaan ini dengan kepal tangan atau tajamnya bambu runcing. Keadaan harus dilawan dengan akal.

Menggunakan akal sebagai sarana perjuangan agaknya masih tidak populer di masyarakat kita. Kita masih sering melihat mahasiswa dan pelajar yang mengepal tangan atau menggenggam pentungan dan melempar batu di jalanan, yang mereka itu justru perwakilan dari kaum intelektual. Cara-cara purba ini masih saja menjadi pilihan. Dan karena kepalan tangan menjadi sarana perjuangan, maka mereka perlu wujud-wujud material untuk diposisikan di seberang -untuk dihantam. Wujud itu tentu saja mereka pilih sesuai selera dalam kebencian.

Berjuang dengan kepal tangan pasti akan melewati proses materialisasi atau personifikasi lawan. Alih-alih memenangkan perjuangan, cara ini justru menjadikan masalah kian pelik karena menambah panjang daftar objek yang harus dilawan. Kita sedang terjerat dalam kemiskinan, apa yang akan kita lakukan? Apakah berikhtiar mencari dan membuat jalan menuju kesejahteraan, atau menghajar setiap orang kaya yang ditemui? Jika kita terjerembab dalam kebodohan, apakah kita bersedia menghabiskan waktu di perpustakaan ataukah mengolok-olok semua orang pintar? Jika pilihan-pilihan ke dua yang diambil kita akan segera tahu di mana dan bagaimana perjuangan akan berakhir.

Saya merasa sangat berdosa jika kita masih saja mewariskan cara-cara perjuangan purba kepada generasi nanti. Kita harus mengajari anak-anak kita cara menggunakan akal yang runut, etis, dan efektif. Mengajarkan berpikir runut adalah mengajarkan cara berpikir yang berlandasan dan bertanggung jawab; etis berarti mengajarkan mereka kemampuan untuk menilai dan memilih antara yang baik dari yang buruk; efektif adalah melatihkan kreatifitas dan teknik pemecahan masalah. Mengajarkan semua ini pada anak-anak adalah mengajarkan cara perjuangan yang benar dan sekaligus mewariskan kehidupan yang layak dijalani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s