Mengenolkan Diri

Di atas selembar kertas kosong, kita mudah menuliskan huruf “I” sebagaimana adanya huruf tersebut. Namun di kertas yang sama, yang telah tertulisi huruf “I” itu, kita sulit menuliskan angka “3” tanpa terpengarug oleh keberadaan huruf “I” tadi. Bisa jadi yang muncul di sana adalah huruf “B” (gabungan antara “I” dan “3”), atau angka 13, atau angka 31, ataupun bentuk-bentuk lain. Angka “3” yang kita tulis setelah kertas itu tidak kosong, tidak akan menampakkan angka “3” sebagaimana adanya. Karenanya, kertas itu harus dibersihkan dulu dari guratan yang sudah ada.

Demikian pula pesan-pesan kehidupan dapat dengan mudah terdistorsi oleh pandangan kita yang sudah keruh oleh banyak faktor. Faktor pengeruh itu bisa jadi sejarah masa lalu, atau juga konsep-konsep yang diterima dan dipakai dengan tingkat kekerasan kepala yang rendah hingga yang sangat tinggi.

Dua orang sahabat yang pernah bersitegang dalam urusan asmara, mungkin masih memiliki sensitifitas dalam masalah itu meski keduanya sudah saling memaafkan. Lalu dalam menjaga persahabatannya, mereka bersepakat untuk tidak bicara tentang topik yang pernah memecah mereka. Kesepakatan semacam ini sesungguhnya hanya sejenak meredam konflik, namun bara itu tetap menyala. Dan betulkah topik asmara bisa dihindari dalam diskusi sehari-hari mereka?

Seorang juri dalam sistem peradilan di Amerika, atau hakim dalam sidang peradilan di Indonesia, mungkin akan cenderung menimpakan hukum seberat-beratnya pada seorang terdakwa kasus pembunuhan yang tak pernah dikenal sebelumnya, semata-mata karena mereka pernah kehilangan saudara yang dibunuh orang lain. Padahal bisa jadi si pesakitan di hadapan mereka hanyalah kambing hitam yang diumpankan.

Seorang pengusaha kaya mungkin akan berpaling muka dari setiap laki-laki berambut gondrong yang dijumpai, karena ia pernah berurusan dengan pencopet yang rambutnya sepanjang bahu. Tapi bagaimana jika pria gondrong yang bertandang ke rumahnya ternyata seorang maestro seni?

Bagitu banyak realita dan misteri terpapar di depan kita, yang hanya bisa kita pahami dan sikapi dengan tepat jika kita memandangnya secara obyektif.

Memandang secara obyektif adalah pekerjaan mental yang berat, terlebih karena banyaknya pendistorsi persepsi yang tersimpan lekat dalam otak kita. Memandang secara obyektif hanya bisa dilakukan jika kita tidak membenturkan apa yang kita hadapi dengan apa yang kita miliki, jika kita mau membersihkan pikiran, jika kita bersedia “mengenolkan” diri.

Tanpa obyektifitas, dapatkah kita mempercayai reaksi-reaksi kita? Terhadap persepsi yang keliru, mungkinkah kita bisa memberi respon yang benar? Dan jika kita terlanjur bereaksi dengan dasar persepsi keliru, kelak kita akan malu dan menyesal tanpa kuasa untuk kembali pada momen yang sama guna melakukan koreksi; karena waktu merambat dalam satu arah.

Sekali lagi, tidak mungkin angka 3 tampak sebagai angka 3 tanpa menghapus segurat huruf yang telah ada.

6 comments

  1. “mengenolkan diri”
    sama dengan istilah meletakkan/menghentikan hati & fikiran.
    sangat menarik & pasti dahsyat bila Mas Badri bisa sharing ttg pengalaman mengenolkan diri.
    Konon kata mereka yg telah dimampukan mengenolkan diri akan mengalami ketercerahan dan lepas dari kegalauan & keragu-raguan…

    salam
    LN

    1. Terima kasih sudah mampir di blog saya.
      Untuk diskusi yang ini, saya memilih jadi kertas kosong saja, biar diisi yang lain, hehe…

      salam.

      1. alhamdulillah berarti gak salah alamat saya mampir disini.
        niat dari rumah ingin belajar menjadi kertas kosong seperti kondisi pak SB. Ayo dong pak ilmunya jangan disimpan. Diriku dah penuh coretan, bahkan tumpahan tinta beraneka warna & nyaris tak bisa ditulisi lagi japri saja juga boleh ….

        ayo dong pak …? gimana jalannya menjadi kertas kosong (nol diri)

      2. Mohon pak LN jangan berlebihan menganggap orang di balik tulisan-tulisan dalam blog ini sudah tiba di kondisi kertas kosong. Ia pun masih terseok-seok menuju ke sana, sering pula putus asa. Jika kertasnya kosong, lalu bagaimana ia bisa membuat tulisan untuk blog ini? Blog ini sendiri adalah bukti bahwa ia penuh coretan. Dan tanpa coretan, lukisan tak akan pernah ada.

        Pasrah saja dalam setiap kondisi. Jika lagi ruwet, ya ruwet itulah adanya. Pas bening, ya bening itu adanya. Musim kemarau bakal digantikan musim hujan. Begitu saja. Semua tak ada yang tetap. Tapi–saya tak akan mengingkari–bahwa pasrah sepertri itu sulit bukan main.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s