Cintailah Proses

Setiap kali saya memandang sebuah peradaban yang maju, entah dalam sejarah atau masa sekarang, yang segera terlintas di benak saya adalah gairah orang-orang dalam peradaban itu dalam berkarya; bercipta budaya. Terlintas dalam imagi saya bagaimana mereka berasyik-masyuk dengan proses menuju kemajuan itu. Dan muncul keyakinan di batin saya bahwa mereka bukanlah orang-orang yang hanya mau bekerja setelah iming-iming upah material.

Lalu saya memandang ke dunia di sekitar saya sendiri; saya melihat peradaban yang serba terseok-seok membuntuti laju yang nyaris tak terkejar. Saya melihat ketertinggalan, dan keterlambatan. Alasannya jelas, orang-orang yang menghuni peradaban lambat ini adalah tipe orang yang hanya mau bergerak setelah ada mimpi-mimpi. Sedang mimpi memiliki natur yang berbeda dari realita.

Kita begitu gampang merasa sudah berada pada pencapaian hanya karena kita bisa membuat imajinasi yang jelas akan pencapaian itu di benak kita. Tapi ketika kita dihadapkan pada proses, metode, prosedur, mekanisme, teknik, tiba-tiba kita mengeluh, menanyakan jalan untuk menghindar.

Kita gemar mencaci-maki tetangga yang mencuri cipta budaya nenek moyang kita, tapi apakah kita mengimbanginya dengan gairah untuk mengembangkan dan menjaga cipta budaya itu? Saya marah jika karya saya dicuri orang, tapi saya lebih marah jika kawan saya, saudara saya, orang yang saya kenal, mencuri karya orang lain, ia akui sebagai karyanya, ia tanda tangani, lalu ia jual untuk meraup mimpi-mimpi material tadi.

Kita tidak bisa menafikkan realita bahwa di sekitar kita masih banyak oportunis yang berbuat hanya untuk mimpi-mimpi indahnya, sembari menghindari kerasnya proses perjuangan dengan menelusuri jalur-jalur pintas. Kita harus mengakui bahwa di sekeliling kita banyak sekali ajaran-ajaran jalan pintas yang mencegah kita dari semangat bercipta budaya, yang meninabobokkan kita ke dalam khayalan materialisme. Dan pada akhirnya, kita akan jadi mandul dan lumpuh ketika dihadapkan pada tanggung jawab kultural.

Oportunis yang alergi dengan proses adalah faktor signifikan yang menyebabkan peradaban kita serba terseok-seok di tengah peradaban dunia yang melesat cepat.

One comment

  1. mungkin perlu ada “budaya mencintai proses”, seandainya pun itu ada, mungkin hanya akan ada segelintir orang yang mencintai “budaya mencintai proses” itu. Aku percaya pada sebuah proses, dimana kadang perih menjadi bagian yang harus ditelan dan dikunyah sebelumnya, betapapun pahitnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s