Melukis Dalam Narasi

Semula kanvas itu masih kosong; putih kusam warnanya, campuran gesso dan perekat di atas kain. Serat lembutnya masih tampak, memberi corak yang samar. Kupungut kuas bernomor 10 yang bulunya lebat, kucelupkan ke dalam minyak pelarut painting medium untuk mengaduk cat di atas papan palet. Putih titanium seperti menjadi pilihan wajib untuk campuran warna terang; kutambahkan kemudian kuning chrome dan kuning ochre. Kuaduk terus hingga seluruh warna menyatu, menjadi warna baru. Sejenak kemudian, larutan warna itu sudah berpindah ke atas kanvas; aku hantar ke sana lewat sapuan kuas yang bergerak horizontal, ke kanan dan ke kiri. Tak perlu waktu lama untuk menutup seluruh permukaannya yang hanya seukuran 30 kali 40 centi meter itu.

Dengan bulu yang masih menyimpan sisa cat, kuas yang sama aku celupkan lagi ke dalam minyak pelarut untuk mengaduk warna baru. Kali ini hijau sap aku padukan dengan hijau viridian, sedikit ditambah kuning ochre, dan tentunya putih titanium lagi dalam porsi yang lebih banyak. Larutan itu terlalu kental, kuasku terasa berat mengaduknya. Kutambahkan minyak agar kuas itu bisa berselancar dengan licin di wajah kanvas, dan agar warna baru itu tidak terlalu pekat menutupi warna di bawahnya.

Semburat hijau semu kuning telah tampak membentuk pola acak yang menguatkan bagian dalam dari kanvas. Pada tepiannya, kusisakan warna sebelumnya. Gurat-gurat bulu kuas masih kentara dalam komposisi warna itu. Kuambil kuas besar yang bulunya masih kering dan lunak, kusapukan mendatar di atas guratan tadi hingga menyisakan gradasi yang lembut. Pekerjaan pertama telah rampung, sebuah latar telah kubuat untuk objek yang akan segera kuhadirkan di sana.

Kucuci kedua kuas yang telah kupakai dengan minyak tanah. Sisa-sisa cat yang bersembunyi di sela-sela bulu halusnya segera hanyut, menyisakan kuas yang bersih dan siap digunakan lagi, tentu setelah dikeringkan dengan kain lap. Aku perlu sejenak menghela nafas panjang, serta meregangkan otot punggung dan kaki. Badan ini belum terlalu tua, tetapi desain awalnya tidak untuk beban berat dan kerja dalam durasi panjang. Butir-butir keringat sudah menggelantung di daguku, beberapa yang lain terus mengalir ke bawah melewati leher dan merembes di baju.

Aku bukan seseorang yang memiliki imajinasi kuat dan jernih. Kadang kala ini membuatku merasa iri dengan para pengidap schizophrenia demi kekuatan imajinasi mereka. Aku sudah menyimpan niat tentang objek apa untuk kutumpahkan pada kanvas. Tapi aku tak bisa membuat gambaran detilnya sejak dari dalam kepala. Maka aku benar-benar mengandalkan gerak kakiku untuk mewujudkan detil itu langsung dengan warna-warna. Konon ada pelukis yang sebelum bergumul dengan cat, ia telah terlebih dahulu menyelesaikan lukisannya dalam angan-angan. Mengagumkan. Mungkin baginya menorehkan warna dan menyapukan kuas tak ubahnya mencetak file image dengan printer. Namun tidak demikian denganku. Bagiku, proses berkreasi seni itu masih berlanjut dalam tarian kuas, adukan cat, dan bahkan berbagai ketidaksengajaan dalam goresan. Aku juga masih bersedia memungut gagasan-gagasan lain yang tiba-tiba terlintas saat bekerja, ataupun membuang gagasan awal bila ternyata ada yang lebih bagus. Hasil akhir bakal seperti apa aku pun tak tahu, tidak ingin tahu. Tidak ada prinsip fait accompli dalam proses kekaryaanku.

Guratan objekKupungut kuas nomor satu dengan bulu yang tipis dan kecil. Kuaduk warna hijau sap dengan hijau viridian bersama minyak dengan tingkat keenceran tertentu. Satu hela nafas untuk meyakinkan diri telah siap memunculkan objek di atas background tadi. Kutarik garis dari tepi atas menuju bawah dengan pola sedikit melengkung. Kandungan cat pada kuas telah terkuras, kucocolkan lagi kuas itu pada adukan di palet. Kuulang bentuk yang sama di samping goresan pertama dengan kelengkungan yang beda. Kuulang lagi hingga ada empat garis berwarna hijau segar membujur pada kanvas.

Masing-masing garis aku potong-potong dengan garis-garis pendek melintang dengan warna lebih gelap sehingga melahirkan kesan sebagai ruas-ruas. Kini siapa pun bisa menduga kalau aku sedang berusaha mendatangkan sosok rumpun bambu di kanvas itu. Kuas lain dengan ukuran lebih kecil kini bertugas mengatur cahaya pada tiap ruas bambu itu. Kugunakan warna kuning chrome dicampur kuning ochre untuk mengisi sisi kiri dari setiap batang bambu, menampilkan kesan cahaya yang datang dari arah kiri.

Kuas nomor satu kupakai lagi, dengan warna yang sama, hijau sap dan viridian yang tegas, kutorehkan dalam sekali sapuan membentuk sosok-sosok daun bambu yang panjang dan runcing. Kupilih tempat mana saja yang masuk akal untuk tumbuhnya daun-daun itu; tentu saja pada bagian yang dekat dengan ruas. Keindahan bagiku tidak semena-mena melawan susunan alam yang terpola baku. Seniman memiliki kebebasannya, tapi alam jelas memiliki keindahannya. Apakah kebebasan seniman bisa mengalahkan indahnya paparan alam?

DetilKembali dengan kuas kecil dan runcing, kurapikan bentuk daun-daun itu. Kemudian gurat-gurat kecil aku tarik dari bagian bawah kanvas, membentuk tangkai-tangkai rumput dan daun-daunnya dengan warna hijau yang semburat saja. Keringat sudah bermukim lama dalam lubang-lubang kapiler baju hitamku; basah dan gerah. Beberapa teguk air mencegahku dari dehidrasi. Dan lagi, aku harus menata nafas sambil meregang otot.

Sejenak kupandangi hasil karyaku, sembari bercakap-cakap dengan kawan di sebelah; membahas urusan lain yang tak bertalian dengan lukisan. Kudapati beberapa sudut yang tampak lemah dalam lukisanku, kupungut lagi kuas runcing untuk menyempurnakan. Aku sudah tiba pada tahap finishing. Dan akhirnya kutorehkan namaku pada sudut kiri bawah dengan rasa bahagia.

Ini adalah pengalaman dalam demo lukis yang kulakukan pada perayaan Hari Internasional Penyandang Cacat di Rumah Sakit Ortopedi Dr. Soeharso, Surakarta, pada tanggal 3 Desember 2009. Kira-kira dalam waktu tiga jam kurampungkan satu lukisan. Tentu hasilnya tak seperti lukisan yang kugarap di rumah dengan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Lukisan yang kubuat di rumah biasanya menggunakan teknik berlapis. Dan untuk menambahkan lapisan baru, selalu butuh waktu untuk menunggu cat di bawahnya kering dulu.

Seusai acara demo itu, beberapa pengunjung acara menyatakan langsung apresiasinya atas karyaku. Ada pula yang berbagi pengetahuan filosofis akan makna pohon bambu. Begitulah berkarya.

2 comments

    1. Wahaha… masih Student Member, karena kualifikasinya memang ketat. AMFPA menerapkan standar internasional, aku mesti banyak belajar dan berlatih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s