Bukan Cita-Cita

Bocah polos yang masih tergagap-gagap di hadapan wajah dunia tentu belum dihinggapi pikiran konsepsional ala orang dewasa. Tak ada niat di kepalanya untuk menjadikan diri sebagai manusia dengan label-label tertentu yang merujuk pada pilihan upaya menjalani hidup. Adalah orang tuanya yang senantiasa cemas akan masa depan si anak. Orang tualah yang menelisik bakat-bakat pada buah hati mereka di balik kelemahan yang tampak menganga. Si bocah sendiri terus asyik dengan perkenalan antara dirinya dengan sembarang objek dalam radius jangkauan indera. Ia masih lebih membutuhkan definisi -apa ini, apa itu; bukan hipotesis -bagaimana jika.

Demikian pula yang terjadi pada saya saat bilangan usia belum menyentuh angka empat. Saya belum sempat dibenamkan dalam pemikiran akan perlunya orang hidup untuk memiliki pekerjaan. Bahkan gurat-gurat kapur tulis yang saya tumpahkan di atas lantai semen hanyalah bentuk kegirangan dari kemampuan memproyeksikan keberadaan diri pada lingkungan luar. Moncorat-coret lantai itu sekedar ritual penegasan bahwa ‘aku ada’.

Tetapi ‘aku ada’ dilihat secara berbeda oleh orang tua saya, karena ada yang tidak ada pada diri ini. Ketiadaan sesuatu itulah yang memaksa mereka lebih keras berpikir dan lebih tanggap terhadap segala kemungkinan. Ritual keriangan masa kanak-kanak saya, yang mungkin bisa segera sirna seiring bertambahnya usia, ternyata mendapat perhatian dalam porsi yang besar dari mereka. Perhatian ini tentu dilandasi pemahaman tentang hidup yang diliputi kebutuhan, dan menjalani hidup dengan menutupi kebutuhan itu; sungguh pemahaman yang sangat mendominasi masyarakat kelas pekerja.

“Bagaimana kelak anakku bisa memenuhi kebutuhannya?” kira-kira demikianlah pertanyaan yang berputar-putar dalam rongga kepala ibu dan bapak kala itu. Pada saat yang sama, saya bahkan belum tahu kalau orang hidup mestinya punya tangan, apa lagi punya pekerjaan. Tetapi orang tua saya sudah mulai merapatkan anaknya ini ke dalam dunia kerja. Bukan untuk dipekerjakan, melainkan untuk dipersiapkan dalam menghadapi tantangan hidup yang tak terbayang beratnya oleh mereka.

Masih dalam keluguan ignoransi, saya merasa girang ketika potongan kapur yang biasa saya gunakan untuk corat-coret itu tergantikan dengan batangan spidol yang berwarna-warni. Tempat untuk menggoreskannya pun berganti menjadi buku gambar yang mungil, tak lagi di lantai semen. Kelak saya bertanya-tanya, betapa susahnya orang tuaku menyisihkan uang untuk membeli alat-alat itu dari honor kecil seorang pegawai rendahan.

Bentuk benda-benda yang sudah sempat masuk lewat mata, saya tumpahkan lagi pada lembaran buku gambar yang bersih putih itu. Tak perlu direpotkan dengan hukum-hukum perspektif, proporsi, dan anatomi, memori visual dalam kepala segera terlahir kembali dalam wujud yang terdistorsi. Singkat kata: jelek sekali. Meski demikian, tak ada kata cela luruh dari mulut orang tua saya.

Jadi pelukisHampir tiga dasawarsa berlalu, dan saya masih bisa merenungi peristiwa itu. Kini saya melihat kebenaran dan kebaikan dari kecemasan orang tua, yang kemudian terwujud dalam pembentukan arah hidup saya. Menjadi pelukis sungguh sejatinya bukan cita-cita yang keluar dari benak saya sendiri, tetapi bentukan dari mereka yang telah lebih tahu tentang hidup –dalam batas-batas tertentu.

Meski ilmu sejarah tidak mengenal pengandaian, ijinkan saya bertanya dalam bentuk kondisional, “Jika saja kedua orang tua saya dulu tidak memiliki kecemasan, atau tidak menanggapi kecemasan yang ada sehubungan dengan anaknya ini, mungkinkah saya hadir di hadapan pembaca sekalian melalui tulisan ini sebagai seorang pelukis?”

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s