Proses Melukisku

Tulisan ini tidak saya maksudkan untuk mengajari pembaca tentang tata cara melukis, melainkan sekedar berbagi pengalaman tantang apa yang saya lakukan sepanjang proses melukis. Saya sendiri bukanlah pelukis yang dihantar oleh dunia akademis yang kaya akan teori. Namun saya percaya bahwa teori pada mulanya disusun dari praktek. Pola itu yang saya coba kembangkan dalam hidup berkesenian saya; praktek lalu dibahasakan. Bila tulisan ini bisa memberi inspirasi pada pembaca, saya akan merasa senang karena tulisan ini memberi manfaat. Sedang bagi pembaca yang sudah berkarib-karib dengan proses kesenilukisan, mungkin ini sekedar pengartikulasian dari pengalaman mereka yang jauh lebih luas.

Inspirasi

Sebagai pelukis naturalis, alam tentu saja motif lukisan saya. Dan untuk itu, saya perlu mengguyur isi kepala dengan berbagai wujud-wujud alam yang membentang dari kutub ke kutub. Di sini letak masalahnya, bahwa luasnya alam mengisyaratkan biaya tak sedikit untuk menjelajahinya. Bersyukur karena teknologi berkembang pesat, biaya itu bisa diringkas sedemikian efisiennya. Untuk dapat memandang alam yang berjarak ribuan mil, saya cukup duduk di depan layar komputer. Sedang panorama alam yang bisa terjangkau oleh badan lemah ini, sesekali saya bertandang ke sana sambil memperlengkapi diri dengan kamera (tentu saja dioperasikan oleh kawan yang turut mengantar).

Alam sebagai motif, dan ribuan file foto sebagai referensi. Namun inspirasi tidak semata-mata datang dari objek-objek visual itu, mereka hanyalah bahan untuk diolah. Datangnya inspirasi sering tak terduga, bisa dari alunan musik, pemikiran, karya sastra, dan termasuk juga inspirasi orang lain (pesanan). Langkah saya kemudian adalah merubah inspirasi itu ke dalam bentuk visual melalui referensi yang telah tersimpan samar-samar dalam kepala. Dan agar proses visualisasi itu berjalan mudah hingga ke tingkat detil, saya buka kembali file-file referensi tadi.

Dengan demikian saya bisa merumuskan definisi dari kata inspirasi, yaitu fenomena (bentuk) atau ide (isi) yang bisa dibahasakan ulang ke dalam wujud lain dengan tetap mempertahankan unsur tertentu sebagai benang merah. Sedang proses pembahasaan ulang itulah yang disebut berkesenian, dan wujud barunya sebagai seni.

Riset Objek

Kebanyakan referensi yang saya miliki berwujud objek dua dimensi: cetakan foto atau file image. Sedang inspirasi yang muncul di kepala bisa jadi menuntut bentuk-bentuk dalam posisi berbeda dari yang tampak dalam referensi. Saya memiliki foto seekor burung dari sudut bawah, dan cahaya jatuh dari arah kanan. Sementara saya ingin melukis burung yang sama dari sudut sejajar, dan cahaya menyinar dari kiri. Untuk mengatasi masalah ini saya harus mampu membayangkan bentuk burung itu dalam wujud tiga dimensi, sehingga perubahan sudut pandang dan arah cahaya bisa mengikuti dengan tepat. Semakin banyak referensi yang saya miliki tentu memudahkan proses pengimajinasian bentuk tiga dimensi itu.

Keingintahuan saya akan suatu objek yang hendak saya lukis kadang kala melampaui kebutuhan visual semata. Sesekali saya mencicipi rasa buah yang saya lukis, atau mencari nama latin dari objek itu (meski kemudian lupa lagi), atau menggali sejarah yang menghantar suatu objek hingga tiba di depan mata saya. Secara pragmatis pengetahuan ini tak banyak memberi nilai tambah, namun bagi saya pribadi adalah perlu untuk membangun hubungan emosional dengan objek-objek tersebut melalui upaya kognitif. Tetapi ini tidak selalu saya lakukan. Banyak pula objek yang saya lukis tanpa benar-benar saya ketahui ‘apa’ dan ‘bagaimananya’.

Studi Komposisi dan Warna

Kanvas masih kosong, tapi di kepala sudah berkelebatan bayang-bayang samar dari lukisan yang hendak saya buat. Sebelum kanvas itu saya sentuh dengan warna, saya perlu membuat semacam guidance terlebih dahulu berupa sketsa pada kertas lain. Lewat sketsa ini, saya menyusun objek-objek dalam susunan yang paling mendekati dengan inspirasi. Dalam proses ini pula saya sudah mempertimbangkan berbagai hukum-hukum, seperti perspektif, proporsi dan anatomi. Setelah puas dengan komposisi yang tampak pada coretan kertas itu, saya bisa mulai memindahkannya ke atas kanvas, langsung dengan cat dalam bentuk goresan kontur.

Warna asli kanvas yang terang pucat sering kali tidak menolong dalam proses pemuntahan gagasan. Saya selalu buru-buru menutupinya dengan warna-warna tipis sesuai dengan warna objek yang hendak dilukis, disesuaikan pula dengan arah datangnya cahaya. Proses ini sekaligus merupakan cara saya untuk mengatur komposisi warna agar tampak harmonis dan tidak monoton.

Penggarapan dan Finishing

Tiba sekarang pada proses paling panjang dan menentukan. Sebelumnya saya telah membuat guidance dalam bentuk sketsa yang menuntun saya pada gambaran keseluruhan. Namun guidance tentu hanya sebatas penuntun, bukan penuntut. Saya masih membebaskan diri dengan kreatifitas sepanjang penggarapan; objek-objek baru bisa saja muncul, objek dalam sketsa bisa saja terbuang.

Medium yang saya gunakan dalam melukis adalah cat minyak di atas kanvas. Salah satu kemudahan yang diperoleh dari medium cat minyak adalah sifatnya yang opaque atau menutupi warna di bawahnya. Kemudahan ini sering kali justru menumpulkan ketrampilan pelukis; tak mau bersusah payah dalam penguasaan proporsi dan anatomi, toh nanti bisa ditutupi lagi. Saya pun masih terjebak dalam kemudahan ini, meski pelan-pelan saya tetap berlatih lewat sket-sket.

Sifat opaque cat minyak juga membuat warna-warna yang dihasilkan tampak kuat. Tanpa ketelitian, kuatnya warna ini bisa menyebabkan pelukis lalai dengan hukum perspektif, yang salah satunya menyatakan bahwa objek yang jauh dari mata tampak kabur dibanding objek yang lebih dekat. Bagaimana mengaburkan warna objek jauh jika sifat cat itu memang kuat? Saya selalu mencampur warna-warna yang sudah saya plotot di atas papan palet. Hampir tak ada lagi warna yang tergores di kanvas merupakan warna asli dari tube. Termasuk cara untuk membuat efek kabur dari objek yang jauh adalah dengan mencampur warnanya dengan warna-warna terang, seperti putih titanium atau kuning chrome.

Proses finishing saya lakukan setelah sejenak memandangi lukisan itu dari suatu jarak, tanpa memikirkannya, tanpa menganalisis, seperti memandangi alam dan hanyut bersamanya. Namun ketika memandangi lukisan, keterhanyutan itu bisa jadi terganjal. Ini berarti ada yang kurang beres dengan lukisan itu, butuh pembenahan atau penekanan pada sudut-sudut tertentu. Hingga ketika saya bubuhkan tanda ‘tangan’ di sudut bawah, saya merasa puas dengan keseluruhan proses.

Studi Linguistik

Pekerjaan belum usai, karena lukisan yang baru saja lahir belum mempunyai nama. Saya sedapat mungkin menghindari penggunaan frasa deskriptif dalam memberi judul sebuah lukisan, seperti ‘Kembang Kuning’ untuk lukisan bunga yang mahkotanya berwarna kuning, atau ‘Hutan Hijau’ untuk lukisan pemandangan hutan dengan daun lebat berwarna hijau.

Preferensi saya dalam membuat judul adalah frasa atau klausa naratif yang membangkitkan diskusi lebih panjang daripada sekedar tanggapan, “Oh ya, saya mengerti.” Isi judul tersebut bisa saya pungutkan kembali dari inspirasi awal, atau saya sarikan dari informasi yang saya dapat ketika melakukan riset objek.

Saya menghindari judul yang panjang dengan berderet-deret kata. Hingga saat ini judul terpanjang yang saya buat mengandung empat kata dalam satu klausa. Biasanya kata depan (preposisi) yang menyebabkan panjangnya judul, namun tak terhindarkan. ‘Longing for My Wood’ terdiri dari empat kata, salah satunya adalah preposisi ‘for’ yang tidak bisa dibuang dari kata ‘longing’ tanpa merubah maknanya. Namun ketika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia, judul ini menjadi lebih efisien: ‘Merindui Kebunku’. Lalu mau pilih judul yang mana, Bahasa Indonesia, atau Bahasa Inggris? Tergantung pasar mana yang dibidik.

9 comments

  1. thanks bgt ilmunya mas. sebenarnya sudah lama pengen tau proses kreatif seorang pelukis,karena saya bukan seorang pelukis.tapi untuk meminta ilmu seperti itu biasanya ‘imposible’,karena itu semacam resep rahasia masing2 pelukis katanya.disini baru terpapar jelas..seperti mendalami puisi atau lirik2 laguku sendiri.thanks ya..may God bless u n ur family,even more to your ‘hand’..salute!

      1. ia,cuma sekali karena kesempatan berkunjung ke salatiga tu kesempatan jarang ,makanya beruntung mengetahui salatiga pny seorang seniman spt mas sabar.kapan2 harus berkunjung dan kalo perlu berpameran di bali ya mas ^_^

  2. wah… rumit juga ya?? ^.^
    q pengen bisa melukis sebagus lukisan mas sabar, q juga suka melukis tapi lukisanku (lebih pantas sih di sebut “gambar” hehe)ga ada bagus2nya, apalagi kalo bicara soal warna…q blum bisa mewarnai dengan benar.
    q suka menggambar tapi hanya dengan pensil dan saat q mencoba memberikan warna bukannya gambar q + bagus malah jadi aneh (hehe)..thx tipsnya ^.^

    1. Terima kasih sudah singgah di sini. Riee ini Mbak atau Mas, ya? 🙂

      Sebenarnya tulisan ini baru sekedar simplifikasi dari proses yang sesungguhnya. Apalagi kalau menyangkut psikologi melukis, wah… bisa-bisa jadi satu essay panjang hehe.. Untungnya saya tidak begitu mengerti psikologi, jadi tidak menulis bagian itu.

      Monggo, silakan belajar terus.

  3. ass mas bardi..saya sangat apresiasi banget saya pengen banget bisa ngegambar tapi selalu gagal gimana ya caranya supaya bisa ngelukis biar kata cuma bisa lukis foto (pengennya mas…) trims bisa bagi tip buat saya dan saya coba praktekin

    1. Sebenarnya untuk bisa melukis dengan bagus caranya cuma satu: berlatih dan terus berlatih. Latihan itu bisa dengan bimbingan guru atau tidak sama sekali. Bahkan adakalanya ketika tanpa bimbingan kita bisa berhasil, rasanya lebih puas.

      Membahas proses melukis dalam ranah hard skill-nya sebenarnya hampir sia-sia, karena hard skill atau ketrampilan teknis itu ada di wilayah pengalaman/empiri. Sedang diskusi dengan kata-kata tidak serta merta membawa tangan kita bergerak melukis. Jadi menurut saya, jika mas Razak ingin bisa melukis dengan baik, teruslah berlatih. Dimulai dari sketsa pensil di atas kertas. Diulang-ulang sampai gerakan tangan jadi luwes. Baru kemudian bikin sket di kanvas untuk nanti diwarnai.

      Saya yakin kalau mas Razak rajin berlatih, suatu saat akan bisa melukis seindah para maestro. Saya saja melukis dengan kaki, dan bisa, hehe…

      Monggo, silakan mulai berlatih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s