Malena, Derita Sempurna

Perempuan tercantik di desa pesisir itu pada puncak penderitaannya harus menerima siksaan fisik dan dipermalukan di depan orang banyak. Mengapa? Apakah ia telah berdosa kepada orang-orang itu secara sengaja yang mengakibatkan kerugian tak terbayarkan? Ataukah ia telah melakukan perbuatan yang tak dapat diterima oleh lingkungan barunya?

Malena, yang nama lengkapnya Maddalena Scordia ini, mulai dihampiri penderitaan ketika suaminya, Letnan Nino Scordia, harus mengabdi pada negara, meninggalkannya demi tugas militer pada Perang Dunia II. Tinggal di rumah suami dalam lingkungan yang belum dikenal membuatnya benar-benar merasa terasing. Hanya ada satu keluarga yang sama-sama tinggal di desa itu, yaitu ayahnya yang nyaris tuli tapi masih mengajar di sebuah sekolah menengah, dan tinggal di sisi lain dari desa itu, jauh dari kediaman Malena yang berada di bibir pantai laut Mediterania.

Derita dalam kesendirian ini sama sekali tak mengundang simpati dari orang-orang desa. Hanya ada dua sikap jelas tertuju pada Malena: hasrat untuk mengeksploitasi secara seksual, yang diwakili oleh kaum pria; dan kebencian yang lahir dari rasa iri atas kecantikan yang tak berpadan, tentu saja dari pihak perempuan desa.

Sikap buruk itu kian meruncing setiap kali Malena harus melintas di tengah keramaian, di mana kecantikannya terpapar nyata. Sementara ia sendiri tak sedikit pun bermaksud memamerkan kelebihan itu, menggoda kaum pria, ataupun menghina perempuan desa yang kalah cantik darinya. Malena sendiri punya masalah dalam hidup, punya urusan untuk diselesaikan, untuk apa menambahnya dengan semua kerepotan tadi?

Keributan yang kemudian muncul bukan bersumber dari Malena, melainkan masyarakat yang hanya bisa menyangka bahwa Malena berbahagia dalam hari-harinya. Namun siapa yang mau mengerti derita perempuan cantik itu? Malena harus sendirian menanggung kesunyian dan bahkan kelaparan. Ia terseok-seok dalam upaya bangkit dari derita, tanpa ada yang bersedia menjadi tangan ke tiga. Upaya itu gagal. Ia bahkan kian terpuruk, justru disebabkan oleh kelakuan orang-orang yang seharusnya datang menolong.

Dalam penderitaan yang tak bertara, dan diperparah oleh kecamuk perang, kematian ayah akibat bombardir sekutu, serta kabar buruk tentang kematian sang suami –yang ternyata membungahkan hati kaum pria, Malena membuat keputusan radikal. Ia mengamini suara-suara sinis dari perempuan-perempuan desa yang menghujatnya. Ia menceburkan diri dalam kenistaan, toh selama ini ia–yang sebenarnya baik-baik saja–sudah dianggap nista. Ia lalu berkencan dengan tentara Jerman yang masih bercokol di pulau Sisilia itu. Hidupnya mulai membaik, perut laparya sudah terganjal makanan, dan senyum ceria pun terlahir di bibir sensualnya. Semua ini adalah hasil dari usahanya sendiri, tanpa uluran tangan dari siapa pun.

Tetapi kebahagiaan itu tak bertahan lama, karena tangan-tangan perempuan desa sudah gatal untuk mengoyak-koyak tubuh indah Malena. Tepat setelah sekutu berhasil mengusir Jerman dan pendukung Mussolini dari pulau, perempuan tercantik itu dihakimi, bukan karena ia bersalah, tapi semata-mata sebagai objek pelampiasan dari naluri untuk merusak.

***

Menderita karena dieksploitasi atau sekedar ditelantarkan, berusaha bangkit tanpa bantuan, dan akhirnya dihukum setelah sejenak berbahagia adalah drama pahit kehidupan yang kerap terjadi di muka bumi, tak hanya di pulau Sisilia, tapi dalam setiap lingkungan sosial di mana hipokrisi masih dibiarkan bercokol. Sementara terlihat jelas, hipokrisi mencegah manusia untuk datang menolong, namun mendorong mereka untuk datang menghukum. Pasti pada akhirnya akan terlahir ‘penjahat’ tak berdosa, yang tak sedikit pun dihargai segala upaya mandirinya.

 

4 comments

  1. Ini film yang bikin saya nangis meraung-raung. Betul, saya nangis sampe wajah saya sembab. Malena adalah sosok wanita yang begitu tegar, begitu setia, begitu tidak menonjolkan diri, namun gosip2 dan prasangka buruk warga malah menghancurkan harga dirinya. Apalagi karena suaminya ga ada. Kisah ini menyentak saya, bahwa wanita yang sendirian cenderung menarik perhatian orang2 dlm berbagai bentuk: iri, atau bergairah. Sungguh mengerikan. Coba lihat ketika Malena kembali ke kota itu bersama suaminya, pandangan warga pun berubah total. Tidak ada lagi ucapan2 miring. Pernikahan, kadang, merupakan jawaban.

    1. Salam kenal, Mbak Fansi. Terima kasih sudah mau terdampar di blog saya, dan meninggalkan komentar mengasyikkan. 🙂

      Sebenarnya Malena sudah dalam status menikah ketika derita itu datang. Masalahnya memang ada pada sikap masyarakat yang hipokrit. Happy ending dalam film ini justru jarang terjadi di kehidupan nyata, kecuali bahwa masyarakat jenuh sendiri dengan kelakuan mereka, lalu lenyap begitu saja dan tergantikan isu-isu baru.

  2. Itu klo point of view kita dari Malena, what about the boy??… any other opinion???….she is really seducing man!!! honestly, i saw the film, 1st when i was a bachelor, at 2001 may be, and it really beat my heart, it also happen in real, when i saw sexy mature woman…. ha ha ha….

    1. Renato Amoroso sebenarnya sama saja dengan pria lain di desa itu; calon laki-laki dewasa yang bakal berhasrat tinggi dalam urusan seks. Bedanya, obsesi Renato yang begitu besar terhadap Malena membuat jalan hidupnya unik dibanding pria lain. Ia menjadi semacam CCTV bagi kehidupan sehari-hari Malena yang tak terungkap di mata orang ramai, dan lewat rekaman memorinya itu, ia mengembalikan jalan kebahagiaan Malena yang terenggut oleh gossip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s