Membadai Diri

Aku menjadi badai itu setelah mencoba-coba memberanikan diri menembusnya, tapi malah terperangkap tepat di tengah pusaran. Laju anginnya sungguh tak terkira, bukan hanya menghempas, tapi mencabik-cabik dan melumat, seperti blender yang tanpa ampun merubah bongkahan wortel menjadi jus. Persis seperti itu, aku menjadi kabut yang terlahir dari air yang ditampar dan diaduk, lalu terhuyung-huyung pasrah di depan dorongan angin yang tak tentu arah.

Setelah cukup lama bersesuai diri sebagai badai, aku mulai turut serta mengoyak layar perahu dengan molekul-molekulku yang tajam; tiangnya pun kupatahkan hingga berpisah dari tegak pongahnya. Kini giliran anjungan dan buritan yang juga kuremukkan dalam serpih-serpih lembut. Tak cukup sampai di situ, semua kubawa membumbung meninggalkan muka laut yang garang, lalu kuhamburkan dari ketinggian sana.

Akhirnya segurat sinar matahari menerobos celah mendung, lurus dan terang seperti mata pedang. Hangat belaiannya menyeimbangkan panas-dingin yang sempat berseteru, mengakurkan keduanya dalam santun alami yang syahdu. Semua kembali hening, sunyi, seperti diriku yang kehilangan ‘aku’.

Yang tersisa adalah penantian; waktu yang tak sejenak untuk kembali lagi seperti sedia kala, saat bisa bergerak bersama asa.

Twister (1998)

One comment

  1. Analisis singkat pak Seno, dosenku, via facebook

    Ya.. itu dibacanya “si aku” begini dan begitu. Kalau si aku itu mau disulap jadi Sabar, berarti harus ada data atau objek kajian yang ditambahkan, yaitu manusia riil di luar karya, yang di KTP disebut Sabar, hehe…

    Menurut objective approach, keadaan Sabar yang sebenarnya tidak begitu berpengaruh dalam penikmatan karya atau evaluasi karya.
    Bahkan mereka bilang, jika karya itu baru bisa dinikmati hanya setelah dijejerkan dengan hidup si Sabar, maka karya itu dianggap karya yang kurang mampu bicara. Karya yang nilainya cuma 1/2.

    Dalam paham new kritik sebagai wakil dari objective approach, karya itu sendiri sudah cukup bagus dan fungsional. Mereka percaya bahwa karya yang bagus mampu meyatukan kontradiksi dengan halus. Mereka percaya bahwa faedah karya adalah menghaluskan budi, sering berupa penyatuan unsur-unsur atau emosi-emosi menjadi imbang. Karena itu mereka menyenangi mengandalkan (bahkan berasumsi bahwa itulah urat nadi sastra) dua hal kontradiktif yang disatukan dengan “pas”. Atau efek indah itu muncul karena 2 hal beda didamaikan, sesuatu yang jarang ada di dunia riil, yang hanya bisa terjadi karena olahan, yah sastra itu. Jadi mereka memuja elemen semacam irony, paradox, dan ambiguity.

    Kalau dalam karyamu itu misalnya ada elemen marah vs pasif/reda. Aktiv/berkehendak vs pasiv (terseret). Jadi kalau ada orang marah baca ini, bisa jadi adem; ada orang klemak-klemek baca ini, bisa jadi semangat.

    Yah kurang lebih gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s