Letih Gembala Tua

Gembala tua dengan sedikit sisa rambut di kepala, bersandar letih di batang pohon jati kering yang tak meneduhkan, tanpa merasa terusik oleh sekawanan semut yang melintas di tanah.

Gemetar kakinya tak sanggup lagi mengendusi jejak gembalaan yang raib entah di mana. Setiap semak dan rimbun ilalang telah digebah, tiap batang pohon dihampiri, siapa tahu terselip di bawah akar banyan. “Di mana?” tanya itu saja yang bertahan.

Tongkat penuntun masih dalam genggaman, demi harapan akan adanya guna yang masih tersisa. Barangkali yang dinanti bakal kembali, datang lagi sebagaimana dulu tiba-tiba hadir duduk bersimpuh di depan pintu, tanpa disangka.

Nafas patah-patah harus dihela melalui mulut, diselingi desah penyesalan dan caci maki pada diri. Pikirannya menyisir tiap langkah laku yang lalu, apakah ada yang menjengahkan atau pun menakutkan.

Penerimaan pada kenyataan tak semudah keringat meresap ke dalam lobang-lobang kapiler baju, tak secepat ranggas dedaunan menyambut kemarau. Mungkin lebih lama dari waktu yang diminta lumut untuk melunakkan sebongkah batu hingga menjadi tanah.

Ada yang lebih setia di rongga kepala: masa lalu yang tersusun dalam kemegahan mimpi, tinggi menjulang bahkan tak tergapai olehnya sendiri, dan memaksa siapa pun mengeriyip mata demi silaunya.

Gembala tua dalam sandar letihnya bertekad menjalani sisa usia dalam puja-puji bagi yang baru saja pergi, dengan menggumamkan seluruh ajektiva mulia yang bisa ditemukan dalam kamus kehidupan.

2 comments

  1. Analisis singkat dari pak Seno, dosenku, via facebook.

    Cerita/image tentang gembala tua yang lelah namun punya cita-cita/harapan.

    Formalisme rusia: mencari sisi yang membedakan dengan teks biasa tentang gembala atau gambaran gembala yang biasa/normal.

    Teks mau memberi gambar/image gembala tua berikut rasa dan harapannya. Di hidup nyata kita sekaligus melihat seluruh orang seutuhnya/serentak. Tapi di karya, totalitas image muncul dengan penundaan-penundan. Kepala, kaki, tangan setiap bagian diselingi diskripsi rasa atau pikiran. Penundaan ini juga berfungsi membuat fokus pada informasi/rasa yang diharapkan timbul pada pembaca by slowing down the act of perception, this text is not only defamiliarizing time and the act of angon kewan but also lying bare it devices. It proclaims itself as a fiction/poetry.

    Tidak hanya slowing down, tapi juga patah-patah dan tidak linear. Beberapa kata memakai inversi, sehinga yang terpersepsi adalah keadaan dulu baru barangnya: “gemetaran kakinya”, bukan “kakinya yang gemetar”, dll. Sehinnga tak hanya gambar/image saja, tetapi aspek batin gembalanya lebih muncul. Rupanya penundan/pemutusan alur linear penceritaan dan terbentuknya gambar fisik menyeluruh secara langsusng merupakan konsekwensi dari lebih banyaknya citra batin (info tentang batin) dari pada info fisik.

    New kritik dengan pilihan focus irony atau ambiguity atau paradox.

    Irony menjadi form dari teks ini, prinsip pengorganisasiannya dan isinya berintikan ironi.
    Contohnya 1 gambaran dengan irony: meski ia bersandar, tapi pikirannya tak punya sandaran. Meski ia ada di masa kini, pikirannya terletak di masa depan dan masa lalu. Kenyataannya adalah ternaknya ada yang hilang, harapannya ternak itu akan pulang.

    Bahasa yang baik untuk menggambarkan situasi yang buruk. Tugasnya menggembalakan, tapi ia justru kehilangan; tugasnya adalah menjaga, tapi justru menghilangkan. Masa kininya biasa cenderung buruk, tidak sukses menjaga, tapi impian masa lalunya luar biasa besar; masa kininya hanya di fakta kehilangan, impiannya tentang puja-puja pada yang lain pula (yang terpuja bukan dirinya.)

    Jadi prinsip/element inti teks ini adalah ironi.

    Lha kira-kira begitu saja ah.

  2. Lanjutan analisis dari pak Seno

    Hermeneutik artinya ilmu tafsir. Ia bertanya: text ini sebenarnya maksudnya apa? (Jadi sebenarnya sangat tradisional: text ini isinya apa).

    Beda dengan model yang dua tadi, mereka kurang peduli dengan ‘ini isinya apa’. Isinya kan bisa diakses dengan mudah, tinggal dibaca, isinya ya itu. Mereka tertarik sifat estetisnya, konstruksinya. Sebab menurut mereka isinya biasa (bukan hal baru, kita sudah tahu atau pernah lihat kalau cuma gembala angon kebo).

    Sedang hermeneutik awalnya untuk membongkar teks-teks kuno, huruf dan simbol yang kabur, dll, yang penting buat hermeneutik justru: ini isinya apa.

    Teori-teori itu mengambangkan istilah sendiri-sendiri. Sebenarnya isinya mirip, mereka mengenalkan istilah horison pembaca, horison text, horison peristiwa, dan ada beberapa istilah lain (beda ahli, beda istilah). Ada yang pakai heuristik baru kemudian hermeneutiknya diangkat dari tafsir heuristrik (meaning ala kadarnya/textual dulu, baru hermeneutis), dll. Tapi intinya mereka mau menemukan maksud yang benar dari karya itu.

    Salah satu ide pokoknya: teks itu produk jaman tertentu dan budaya tertentu, jadi kata X di jaman Majapahit harus dicari referensinya di jaman Majapahit bukan jaman sekarang. Harus cari horison peritiwanya dulu, menyamakan persepsi jaman. Lha masih ingat film Da Vinci Code? Bapak tua menafsirkan frasa ‘Maria teman Yesus’, kata ‘teman’ di waktu itu bisa juga berarti sahabat dekat, kalau lawan jenis bisa berarti istri. Misalnya begitu.

    Teksnya Sabar harus dilihat menurut culture Sabar.
    Selidiki apa arti/kekhususan kata gembala buat Sabar.
    Selidiki arti posisi gembala di jaman Sabar/jaman ini, apakah itu suatu kata/posisi yang berasal dari jaman sehari-hari? Atau itu dipakai dengan maksud tertentu di luar hidup sehari-hari?

    Mengapa memakai kata puja untuk yang telah pergi? Kenapa bukan puja-puji untuk yang tak pernah pergi?
    Kenapa ada ide: menerima kenyataan sulit?
    Semua ini mewakili culture yang mana ?

    Hermeneutik melibatkan biografi , sejarah, dll. Kalau jaman dulu, asal penulisnya masih hidup, ya tinggal tanya saja. Prestasi hermeneutik justru karena jaman sudah lewat, penulis meninggal, atau tak mau bicara, dll. Membongkar apa-apa yang tersembunyi.

    Tapi hermeneutik lalu juga kena pengaruh jaman postrukturalisme, muncul negative hermeneutic atau hermeneutic of suspicion, : usaha menangkap maksud/makna yang tidak disadari oleh text, penulis, atau jamannya sendiri. Ini jadinya mirip kaya dekonstruksi dll.
    Ahli-ahli/teoritisi yang dipakai juga sama akhirnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s