Lonely Shepherd

Gembala yang tenggelam dalam bungah hati itu tak pernah tahu kalau dialah sebenarnya yang sedang dituntun dalam perjalanan panjang. Sesungguhnya, di luar sadar akalnya, tiap langkah yang ia ayunkan dalam menyusuri tanah berumput di padang savana saat memiara angsa putih nan cantik itu adalah untuk mengantar dirinya sendiri.

Ia selalu mengikuti ke mana saja angsa itu pergi untuk menemukan telaga jernih, tempat ia bisa menangkap pesan pujaannya yang tersampaikan melalui tarian indah di atas air, lewat riak gelombang yang mengembang bersama waktu.

Ia senantiasa berpikir bahwa ia akan lebih lama bersama apa yang ada di hadapannya, takkan pernah henti menyaksikan keelokan yang begitu kasat mata. Sampai akhirnya tiba pada saat harapan itu harus raib dari tangan, dari tuntunan tongkat yang tak pernah menyentuh dalam kesakitan. Angsa putih itu tiba-tiba sirna, mungkin terbang ke angkasa, yang jelas bukan tenggelam ke dasar telaga.

Baru kemudian sang gembala terpekur dalam kesendirian, duduk di bawah pohon ek dengan berkawan ilalang yang melambai bisu, serta beberapa bongkah batu berselimut lumut. Ia sudah begitu jauh meninggalkan pondok kayunya yang nyaman di atas bukit, tanpa memahami apa yang baru saja terjadi.

Tinggal bagaimana jejak-jejak yang sudah ada perlu ditelusuri kembali, untuk ditemukan maknanya, agar tiada yang sia-sia. Dan barangkali saja, angsa putih cantik sedang mengintip dari balik sesemakan di sudut yang jauh sana, sambil menunggu sang gembala berbenah diri.

The Lonely Shepherd by James Last And Gheorghe Zamfir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s