Melukis Sebagai Tanggung Jawab Sosial

Sebagian kawan pelukis pernah mengaku pada saya bahwa mereka tak bisa berkarya ketika ada orang lain memperhatikan proses kerjanya. “Aku ora isa nggambar nek diperhatekne wong liya. Apa meneh neh sing merhatekne si Sabar.” Walah… saya sendiri sebenarnya masih belajar.

Meski demikian, bagi saya melukis di hadapan orang banyak adalah ritual wajib, sebagai pembuktian bahwa karya-karya itu memang benar-benar dilukis dengan kaki ini, bukan meminjam tangan orang lain. Tapi jika kemudian ditemukan selisih nilai kualitas, mohon dipahami sebagai efek dari perbedaan lamanya proses. Melukis dengan batas waktu hanya setengah jam, tentu beda dari melukis dengan rentang waktu satu bulan.

Ditambah lagi faktor kecemasan yang ditimbulkan dari tak terkendalinya keramaian penonton, yang kebanyakan adalah anak-anak, praktis berdampak pada goresan di kanvas itu. Kita tahu, anak-anak masih sangat bergairah terhadap kehidupan, hasrat kuriusitasnya besar sekali, gerak mereka sungguh di luar antisipasi. Dalam jeda waktu tertentu mereka bisa diam anteng memperhatikan, lalu tiba-tiba berbalik badan dan lari menghambur ke temannya, mengguncang lantai panggung yang labil. Setelah itu, dalam jarak tiga meter saja dari kanvas, mereka memperagakan adegan smack down sambil berteriak kegirangan.

Melukis di hadapan anak-anak, selelah apa pun, adalah tanggung jawab sosial yang harus saya kerjakan. Anak-anak itu harus tahu bahwa kehidupan ini menyambut kehadiran mereka lewat semangat dan keindahan. Bahwa mereka layak meneruskan hidup mereka, terlepas dari penderitaan yang pasti kelak bakal menyertai juga. Mereka harus diyakinkan, “Hei, hidup ini baik lho, ayo jalani dengan cara yang baik pula.”

Selagi anak-anak itu terbuka dengan segala input, tidakkah lebih baik memperkenalkan keindahan pada mereka? Dengan demikian keindahan yang tertanam dalam diri mereka itu pula yang kelak akan mereka reproduksi dalam kehidupan. Saya sendiri sebenarnya tidak representatif sebagai yang indah itu, saya tidak cukup ceria untuk dihadirkan di hadapan anak-anak, tak seramah dan sekebapakan almarhum pak Tino Sidin, misalnya. Namun sedikit saja interaksi dan senyum kepada mereka apa sulitnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s