Tak Lagi Bersisa

Lantai tanah yang kian mengeras seperti batu,
dari balik sandal jepit langkah terasa menyatu.
Nenek tak pernah perlu membuatnya mengkilap,
meski tahu cucunya bakal singgah menginap.

Dipan bambu, lampu minyak, dan jelaga hitam,
tikar jerami, dinding papan, empat sokoguru kusam.
Di luar angin menyenandungkan melodi pilu,
menggesek nada-nada pada lembaran daun bambu.

Lewat celah genting cahaya bulan menerobos masuk,
segurat tegas lebih terang dari api dian yang meliuk,
dalam radio transistor ki dalang mendendangkan suluk,
tak peduli pendengarnya sudah lama mengantuk.

Lenguh sapi di kandang abaikan tuan yang tertidur,
hewan mamah biak inilah majikan tanpa mengatur,
makanannya tersaji, ia sendiri tak perlu mencari,
pohon jagung, rumput basah, dan setumpuk jerami.

Matahari di desa terbit seolah lebih awal,
karena malam yang meriah memang tak rela ditinggal,
paman, bibi, sepupu, saudara yang nyaris tak dikenal,
datang menyambut serentak dalam rumah berjejal.

Selagi butiran embun belum pergi menguap,
nenek bertahan di dapur bergumul dengan asap,
tungku api yang ditata dari susunan batu bata,
timbunan ranting kering, periuk, dan panci tua.

Dua dasawarsa lebih merentang sudah dari sana,
aku kembali saat nenek telah berbaring dalam pusara,
dinding rumah kayu berganti beton serta jendela kaca,
kandang sapi ditempati garasi mobil bak terbuka.

Yang kujumpai kini tak bertaut dengan memori lama,
desa bersahaja dibawa nenek turut dalam kuburnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s