Berhenti

Apa yang membuat kita berhenti tersentak,
memutus langkah memaling kepala sejenak
dari pacu hari-hari mengejar mimpi dan ambisi
sebab temukan rasa yang mungkin takkan ada lagi?

Bisa saja bola surya yang merapat di cakrawala,
dengan langit lembayung semburat jingga,
bersama angin yang bertobat kembali menjadi udara,
siluet kerumun bangau pulang sarang entah di mana.

Atau pecah tawa bocah saat gundah terusir sudah,
mengulur tangan mungil berharap peluk kedamaian.
Atau perempuan manis yang senyumnya di bibir basah,
barangkali saja bakal ada rasa menjadi pasangan.

Apa yang memaksa kita tersentak berhenti,
menyadarkan kita merasai hidup di saat ini?

Haruskah bertandangnya ulat bulu di satu desa,
menyeruak tiba-tiba berebut ruang dengan manusia?
Mestikah karena luruhnya langit meningginya laut,
tanah hanyut tempat mukim kian menciut?

Apa yang mengajak kita sedia berhenti,
bahwa semua yang ada mesti direnungi?

Semoga bukan jenuhnya salju di dua ujung sana,
yang merasa cemburu pada hujan lalu meleleh saja.
Bukan pula letihnya bukit menyangga badan,
kemudian merebah tanah menimbun peradaban.

Dalam gegap karsa karya manusia,
terlewat indah tanpa ditatap mata,
terselip ancaman petaka tanpa dirasa.
Bertafakur sebentar pasti berguna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s