Survive

Jalanan di depan rumahku telah diguyur warna hitam oleh malam saat suara teriakan anak kecil itu terdengar, “Pak, Pakè lagi nápá?” Seorang bocah agaknya sedang memanggil-manggil ayahnya yang ada di seberang jalan, sementara ia sendiri tak berani menghampiri, mungkin karena suasana yang sudah gelap itu.

Sejenak aku terganggu dari rutinku membaca buku oleh suara teriakan itu. Rasa terganggu itu wajar, karena ketika ada sensor suara yang keras, kelenjar hipofisis di otak menyemburkan hormon kortisol yang membanjiri korteks prefrontal, tempat memori pendek disimpan. Sedang kegiatan membaca sangat membutuhkan memori pendek itu untuk mempertahankan kata-kata yang sudah terbaca agar tidak tercecer sehingga membuyarkan makna kalimat.

Berkat gangguan itu aku istirahat sejenak, mengangkat pandanganku dari huruf-huruf. Tapi aku tetap membaca, dan kali ini yang kubaca adalah peristiwa yang baru saja terjadi.

Seorang bocah terpisah sebentar dari ayahnya, berteriak dalam suatu jarak untuk menanyakan apa yang terjadi pada ayahnya, “Pak, Pakè lagi nápá?” –Bapak sedang apa?

Bertanya adalah upaya mendapatkan informasi, dan informasi adalah apa yang kita butuhkan untuk memetakan situasi diri; apakah aman atau tidak, atau adakah ancaman yang bisa mengakhiri keberlangsungan hidup. Sebab mempertahankan kehidupan merupakan dorongan mendasar dari setiap individu badaniah. Dan yang menjadi tindakan real dari dorongan itu adalah memastikan keamanan lewat informasi.

Tetapi informasi yang dicari anak ini lewat teriakannya bukanlah tentang situasi dirinya sendiri, melainkan tentang situasi ayahnya. Ayah adalah sosok liyan kedua paling berpengaruh dalam hidupnya setelah ibu. Dan dengan memastikan bahwa ayahnya baik-baik saja di seberang jalan sana, ia akan mendapatkan rasa aman pula atas keberlangsungan hidupnya sendiri.

Dalam konteks kehidupan lain, dalam skala peradaban yang lebih maju, para ilmuwan bertanya kabar-kabar di luar langit lewat teleskop raksasa yang diapungkan di orbit bumi. Teleskop Hubble inilah yang menjuadi mulut manusia untuk terus berteriak-teriak menanyakan situasi ‘ayah semesta’, apakah baik-baik saja di seberang sana. Sebab jika kabar buruk datang dari ayah semesta, maka ibu bumi dalam ancaman. Dan jika ibu bumi rusak, mati pula manusia-manusia yang dilahirkannya.

Baik anak kecil di kampungku itu, atau ilmuwan cerdas di benua lain sana, melakukan tindakan yang memiliki struktur dan motive sama, yang pada dasarnya adalah untuk tujuan surviving.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s