Pelukis AMFPA di PSLI

Tahun ini adalah kali keempat Sanggar Merah Putih yang dipimpin pak Anis Mochamad memprakarsai kegiatan Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) di Surabaya, tepatnya di gedung Balai Pemuda. Dan bagi saya, ini adalah kali kedua mendapat kesempatan untuk berpartisipasi di sana, setelah kesempatan pertama pada tahun sebelumnya.

Sejak dari kesempatan pertama itu, di tahun 2010, saya mendapati banyak hal begitu mengesankan. Ratusan pelukis berkumpul dalam satu area bersama ribuan karyanya, dan langsung berhadap-hadapan dengan para penikmat. Para penikmat itu mungkin hanya sekedar berwisata mental, menyerap keindahan rupa warna, atau menyukai suasana ‘pasar’ yang meriah. Tapi ternyata tidak sedikit pula yang benar-benar ingin mengoleksi benda-benda seni dua dimensi itu untuk dipajang di rumah, atau mungkin dijual lagi. Panitia PSLI melaporkan dalam situs resminya pasarsenilukis.com, bahwa volume transaksi lukisan di pasar tersebut meningkat dari tahun ke tahun; meski pada kesempatan partisipasi saya yang pertama itu tak ada lukisan saya yang terjual.

Partisipasi dalam PSLI 2010

“Belum ketemu jodoh,” kira-kira begitulah saya mengkonstruksi pikiran positif atas belum lakunya lukisan saya. Namun tujuan saya waktu itu memang bukan untuk menjual lukisan, melainkan hadir di tengah masyarakat seni sebagai sesama pelaku seni yang memiliki cara berbeda dalam berkarya namun dengan hasil yang setara. Public awareness, begitulah kira-kira istilahnya. Dan tujuan ini memang tercapai dengan sambutan antusias para jurnalis dari media televisi, cetak, maupun online, termasuk juga masyarakat pecinta seni yang datang berkunjung di stan untuk berkenalan dan berteman.

Dengan semangat yang lebih besar, saya kemudian mengajak rekan-rekan di Yayasan AMFPA untuk turut serta dalam kegiatan PSLI ini di tahun 2011. Setelah diskusi panjang sejak Februari, akhirnya pada waktu yang dijadwalkan saya bisa kembali hadir di tempat dan acara yang sama, dan kali ini bersama lima pelukis lain yang sama-sama berkarya dengan kaki atau mulut.

Pelukis AMFPA di PSLI 2011

Membuat drawing potret pengunjung

Panitia PSLI 2011 memberi kami kesempatan untuk menyewa dua stan di dalam gedung Balai Pemuda. Di sana kami berenam menggelar karya sebanyak kurang lebih 25, dan melakukan demo lukis yang praktis mengundang perhatian dari pengunjung serta jurnalis. Namun sayangnya kami hanya sanggup turut serta di sana selama tiga hari saja, karena faktor ketahanan fisik yang tentu tidak sama dengan peserta lainnya.

Terjual

Berbeda dari tahun sebelumnya, pada PSLI 2011 ini saya berkesempatan bertemu seorang pecinta seni yang berminat mengoleksi lukisan saya dengan apresiasi yang tinggi atas isi lukisan tersebut. Pak Roni Handoyo yang membeli lukisan menyatakan, “Saya langsung berhenti melihat lukisan ini, saya amat-amati dari jarak tiga meter, dan saya suka. Saya baru tahu kalau Mas Sabar ini pelukisnya setelah Mas Sabar muncul di stan.”

Detil peristiwa ini sangat penting bagi saya. Saat pak Roni pertama kali melihat lukisan yang berjudul Endless Flow itu, saya sedang meninggalkan stan untuk menikmati suasana pasar seni lukis yang luas. Artinya, saya tidak tampak ada bersama dengan lukisan saya. Dan saya baru kembali ke stan setelah ponsel saya dihubungi kawan yang menunggui di sana.

Perlu waktu agak lama untuk kembali ke stan nomor 80 itu dari posisi saya di depan gedung. Dalam rentang waktu itu pak Roni memiliki waktu cukup untuk membuat keputusan membeli. Seketika pak Roni melihat saya tiba di hadapannya, beliau segera tahu bahwa saya dan rekan-rekan lain adalah pelukis anggota AMFPA yang membuat kartu-kartu ucapan, dimana beliau secara rutin turut membelinya. Dengan demikian, apa yang diapresiasi oleh pak Roni sejak awal adalah murni objek lukisan saya itu, dan beliau membuat keputusan untuk membelinya karena apa yang ada di dalamnya, bukan karena merasa kasihan atau iba atas pelukisnya, lalu memutuskan untuk membeli.

Dan yang lebih membahagiakan bagi saya atas terjualnya lukisan itu adalah bahwa pak Roni selaku pembeli menangkap betul isi atau pesan yang saya sisipkan dari bentuk-bentuk visual dalam lukisan itu. Sehingga hasil jerih payah saya untuk mewujudkan satu karya tersebut tidak ada yang tercecer; seluruhnya dan seutuhnya, baik bentuk maupun isi, berpindah dari pelukis menuju kolektor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s