Bunuh Diri dalam Dongeng Atu Belah Ajaib

Singkat cerita, sang ibu mengambil alih posisi anak sulungnya yang bersalah agar murka suaminya ditimpakan saja pada dirinya. Dan terang saja, ia menerima tamparan yang keras di wajah. Selanjutnya ia kabur meninggalkan rumah, menghindari suami galak, mengabaikan anak sulung yang ceroboh, dan menelantarkan anak bayi yang masih menyusu. Ia menjepitkan diri ke dalam batu besar yang bisa merekah setelah mantra-mantra dibaca. Tubuh perempuan itu remuk di dalam sana, diiringi tangis anak bayinya dan panik anak sulungnya.

Sebelumnya diceritakan, akibat kecerobohan, si anak sulung menghilangkan persediaan makan bagi keluarga. Ia lupa menutup pintu lumbung tempat belalang-belalang disimpan, sehingga semuanya terbang kembali ke alam bebas. Kesalahan serupa ini terlalu fatal untuk tidak mengundang konsekuensi murka dari sang ayah yang merasa sudah bersusah payah mengumpulkan semua belalang itu dalam waktu yang tidak singkat. Maka sang ibu yang melihat kerapuhan anaknya memilih untuk menadahi murka suaminya. Ia mengaku bahwa dialah yang telah bertindak ceroboh.

Jika saja dongeng ini berhenti sampai di sini, maka kita akan melihat sebuah aksi kepahlawanan yang didemonstrasikan seorang ibu bagi anaknya. Namun adegan selanjutnya memaksa kita mengerutkan dahi. Setelah menerima konsekuensi yang mestinya sudah bisa diantisipasi, tokoh ibu ini membuat keputusan radikal dengan mengakhiri hidup. Bunuh diri yang ia lakukan menyiratkan kesan bahwa kesediaannya melindungi anak dari amuk sang ayah sebelumnya hanya setengah hati, karena dengan kematiannya ia justru mengembalikan si anak dalam posisi rentan, tanpa perlindungan. Bahkan lebih parah lagi, anak sulung yang ceroboh ini harus merawat adik yang masih bayi. Jika menjaga belalang tetap tersimpan dalam lumbung saja tidak bisa, sanggupkah ia merawat adiknya? Pertanyaan ini seolah tidak pernah ada di pikiran tokoh ibu.

Fakta di masyarakat, tindakan bunuh diri akibat berbagai faktor pragmatis, termasuk jepitan masalah ekonomi sering kita dengar; sungguh terjadi di negeri kita sendiri yang katanya kaya raya ini. Namun jika tindakan bunuh diri dilakukan seorang ibu, pasti ia akan mengajak anaknya untuk turut serta dalam kematian. Seperti yang terjadi pada Jasih dengan dua anaknya di Cirebon (2004), Junania Mercy dengan empat anaknya di Malang (2007), dan Rubiyem dengan attempt suicide-nya bersama tiga anak di Gunung Kidul (2006). Kumpulan data faktual yang pahit ini seperti memberi tahu pada kita bahwa meski seorang ibu memilih untuk menolak tanggung jawab meneruskan hidupnya sendiri, ia tetap akan berpikir tentang nasib anak-anaknya kelak setelah ia tinggalkan. Karena itu dalam pandangan sempitnya, yang masih ada rasa tanggung jawab membesarkan anak, si ibu berpikir kalau anaknya akan lebih baik jika turut mati saja bersamanya. Insting kematian yang mendesak-desak jiwanya, ia proyeksikan pula pada anak-anaknya.

Sedang tokoh ibu dalam dongeng Atu Belah Ajaib melakukan tindakan bunuh diri secara individual, seolah tak terbebani sama sekali oleh keberadaan dua anaknya yang justru sangat membutuhkan kehadirannya, sebagai pelindung dan perawat. Saya tidak hendak mengatakan bahwa dongeng ini akan lebih baik jika diakhiri dengan kematian tiga tokoh sekaligus: ibu, anak sulung, dan anak bayi. Tidak, bukan itu yang saya maksud. Saya justru mempertanyakan keputusan suisidal tokoh ibu itu.

Dalam situasi masih menyusui, insting yang paling dominan pada seorang ibu adalah insting hidup. Ada sebuah kehidupan di luar dirinya yang sangat rapuh yang menjadi tanggug jawabnya untuk dipertahankan. Kelanjutan hidup si bayi yang sudah susah payah ia lahirkan sangat bergantung pada kelanjutan hidup si ibu itu. Maka ibu akan berusaha untuk bertahan hidup, sepahit apa pun kenyataannya, demi anaknya. Inilah yang agaknya telah diabaikan oleh pengarang dongeng Atu Belah Ajaib ini.

Senjata ampuh untuk menjawab selisih dongeng dari kebenaran ilmiah adalah dengan mengatakan bahwa dongeng itu dipaido ora mèngèng, dikritik tidak masalah. Percaya boleh, tidak pun boleh. Dongeng tidak berurusan dengan kebenaran, entah itu kebenaran historis ataupun ilmiah. Dongeng lebih memiliki kepentingan dengan masalah normatif, yaitu apa yang sebaiknya dilakukan. Tetapi apakah bunuh diri menelantarkan anak itu baik dilakukan?

Baiklah, untuk memenuhi rasa keadilan saya akan menjawab sekaligus pertanyaan di atas. Adegan bunuh diri tokoh ibu dalam dongeng ini bukanlah norma yang untuk dianut. Ini lebih merupakan sebuah penggambaran detil tentang akibat dari suatu tindakan buruk. Seperti para nabi selalu menceritakan isi neraka bagi para pendosa, maka kematian tokoh ibu yang tragis itu merupakan neraka bagi anak yang telah bertindak ceroboh. Sehingga struktur cerita narasi ini adalah kausatif; ada adegan sebab, dan diakhiri adegan akibat. Namun kekurangannya, sebagaimana terjadi pada banyak cerita rakyat lainnya, adalah mata rantai penghubung sebab dan akibat yang sulit dibenarkan secara ilmiah, hal mana tidak akan diributkan oleh anak-anak yang menjadi target marketnya, karena mereka masih dalam situasi serba tidak tahu. Asal perasaan anak-anak sudah dapat dipengaruhi, menjadi takut akan suatu akibat, maka tujuan tercapai. Mission accomplished.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s