Rembulan

Aku masih punya rembulan, setiap waktu dalam setiap irisannya.
Kalau kau sudah tak hirau, biar kupungut saja, kusimpan di kepala.
Apakah lantas kau merasa kehilangan karena seperti ini kuberkata?
Bahkan saat bumi menghadang cahaya baginya, kau tak merasa ia sirna.
Karena kau tahu, ia tetap dalam lintasannya,
bertugas seperti biasa, meski terabai lewat gemerlap kota.
Ia akan tetap di sana, jauh setelah engkau sendiri yang tiada.

Gerhana rembulan pada malam ini dimulai pada pukul satu lewat seperempat menurut jam pada ponselku. Sudah kuniatkan untuk menyaksikan pagelaran ini sejak dari pagi. Maka setelah istirahat cukup pada siangnya, malam ini aku siap dalam jaga.

Aku berbaring di atas jembatan bambu pada kolam ikan depan rumah; mencari sudut yang tak terhalang daun-daun rimbun dari pepohonan yang kubiarkan tumbuh di halaman. Dingin. Udara desa menusuki pori-pori hingga resap ke tulang. Sendiri saja, tak perlu cemas apa-apa. Maling dan garong beroperasinya siang hari, setidaknya seperti itu pengalaman terakhir di kampungku.

Pada saat-saat awalnya, sedikit arsir hitam yang kabur mulai menyentuh tubuh putih rembulan sisi sebelah timur. Pelan sekali, seperti hendak memastikan bahwa aku takkan ketinggalan tiap geraknya. Seolah ia tahu jutaan pasang mata di bumi, termasuk mataku, sedang memandanginya. Aku tak mau kemasyukanku terganggu dengan repotnya pengabadian; tak perlu kamera, biar orang lain saja yang melakukannya.

Garis hitam yang tegas mulai tampak, bentuknya agak melengkung; sebuah busur dari lingkaran yang lebih besar. Aku melihat bayanganku sendiri di sana. Bukan! Bayangan rumahku. Maksudku, planetku.

Saat tubuh rembulan itu telah teriris separuhnya, sekerumunan awan melintas tak sopan tanpa permisi ke arah barat; meminjam cahaya rembulan yang terpenggal untuk menampilkan wujudnya yang acak. Mereka merenggut panggung pagelaran ini untuk drama mereka sendiri yang usang. Kutengok ke timur, kerumunan itu diikuti gerombolan saudara-sauadaranya.

Layar diturunkan. Aku merangsek ke kamar, sambil mengancam akan kembali keluar. Setelah lewat satu jam, kutemukan rembulanku memar membara di barat sana, sudah jauh dari tempatnya semula. Dan awan sudah pergi, mungkin kecewa karena pentasnya tanpa pemirsa.

Citra gerhana bulan total pada jam 3.07 WIB. Courtesy: eclipse.slooh.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s