Bertahan

Penyesalan Letnan Kolonel Frank Slade pastilah tak tertanggungkan akibat kelakuan gila-gilaannya meledakkan granat cahaya di depan muka sendiri. Penglihatannya kian buruk, karir militernya berakhir, sedang umurnya belum terlalu tua untuk menjadi purnawirawan. Apa lagi yang bisa ia kerjakan di sisa hidup yang masih panjang itu, sebagai tuna netra?

Ia berencana untuk bunuh diri.

Tapi sebelum hari yang ia pilih, ia perlu mengerjakan beberapa PR hidup yang belum tuntas. Ia hendak merasakan kenikmatan duniawi untuk terakhir kalinya sebagai salam perpisahan. Uang tabungannya sanggup untuk memenuhi harga yang mesti dibayarkan. Pertanyaannya, bagaimana ia bisa melakukan itu dengan dua mata yang tak berfungsi? Ia perlu seorang asisten yang mesti mengantarnya menuntaskan PR itu.

Seorang pelajar SMA yang mendapat libur dari sekolah menerima pekerjaan itu demi bekal untuk biaya mudik. Tugasnya tidak terlalu sulit, hanya memastikan sang Kolonel tidak kerepotan membawa diri. Ia justru mendapat sesuatu yang lebih dari pria paruh baya itu: kawan diskusi yang unik untuk permasalahan yang menunggu di kampus sekolah.

Tiga hari waktu yang dibutuhkan sang Kolonel untuk bersenang-senang. Menginap dalam presidential suite di sebuah hotel berbintang di kota New York, menyewa limousine lengkap dengan sopirnya, menemui famili yang lama tak diajak bicara, berdansa tango dengan gadis asing yang tak sengaja dijumpa, mencumbui kekasih lama, dan yang paling gila adalah kebut-kebutan di gang-gang sepi kota dengan mata buta, dengan mobil Ferrari yang disewa dari sebuah dealer mobil lewat pramuniaga yang cemberut muka. Polisi yang akhirnya datang menghentikan tak pernah tahu jika si pelanggar itu tidak sanggup menatap balik pandangannya.

Kolonel Slade merasa puas dengan PR yang tuntas. Saatnya telah tiba. Seragam perwira militer dikenakannya, dan pistol kaliber .45 diisi dengan peluru seperlunya. Tinggal menarik pelatuk dengan moncong dilekatkan di kepala, selesai semua derita.

Tapi bocah itu menjadi penghalang. Remaja pria ini tak sanggup melihat darah mengucur di depan mata, dan kemungkinan dijadikan tersangka. Ia harus bergumul dengan orang yang sudah putus asa itu, menaklukkan hasrat yang menyeruak di luar nalar. Ia mesti mengantar logika kembali menuju saluran yang dilewati oleh insting kematian. Ia berikan alasan mengapa hidup masih baik bagi sang Kolonel untuk dilanjutkan, meski harus dilewati dengan kegelapan. Alasannya sederhana: karena sang Kolonel bisa berdansa tango, dan mengendarai Ferrari dengan sangat piawai.

Tapi sungguhkah dua alasan itu sesederhana tampaknya?

Keputusan Frank Slade untuk bunuh diri mengisyaratkan adanya kecemasan akan derita dalam hidup jika dilanjutkan. Derita yang dicemaskan itu kemungkinan muncul karena hasrat-hasrat tidak bisa dipertemukan dengan pemenuhnya karena kendala inderawi, sebab matanya tidak berfungsi. Dan baginya mengakhiri hidup berarti mengakhiri derita, sebab dalam kematian hasrat tidak ada lagi. Bukankah hasrat itu tumbuh dari tubuh yang hidup?

Lalu ada apa dengan dansa tango dan mengendarai Ferrari? Mengapa keduanya praktis membunuh hasrat kematian Frank?

Freud merumuskan bahwa insting hidup didominasi oleh hasrat seksual. Dengan hasrat seksual manusia bisa mempertahankan keberadaannya sebagai spesies. Hasrat seksual ini oleh ego diupayakan untuk bertemu dengan objek pemenuh yang real, berupa orang lain dari lawan jenis. Ketika Frank Slade diberi tahu bahwa ia masih bisa berdansa tango, ia sadar bahwa hasrat seksualnya masih mungkin terpenuhi. Dalam pengalaman sebelumnya, ia berhasil memikat seorang gadis muda cantik, yang beraroma wangi dan sudah punya pacar, untuk berdansa bersama. Pengalaman itu menunjukkan bahwa Frank masih mempunyai kemampuan dan kesempatan membangun hubungan asmara dengan perempuan, yang merupakan objek rasional dari hasrat seksualnya.

Selain hasrat seksual, Freud juga menyebutkan hasrat makan sebagai bagian dari insting hidup. Dengan hasrat makan manusia mempertahankan keberadaannya sebagai individu. Hasrat ini oleh ego dipenuhi dengan objek real berupa makanan. Tapi masalah yang dicemaskan oleh Frank adalah dengan kendala visualnya dia akan sulit untuk menjumpai makanan. Kehidupan modern di Vermont, Amerika Serikat–sebagaimana di tempat lain–ditandai dengan pembagian fungsi-fungsi sosial yang tegas. Pembagian fungsi ini mengisyaratkan satu individu untuk menekuni satu fungsi sosial saja, atau satu bidang pekerjaan saja. Untuk dapat menikmati fungsi lain yang bukan bidangnya, seseorang perlu memiliki alat tukar berupa uang. Dan uang adalah yang dibutuhkan Frank untuk berjumpa dengan makanan. Sedang uang itu sendiri diperoleh dari menjalankan fungsi sosial tadi. Artinya, Frank harus memiliki pekerjaan untuk bisa makan selama sisa hidupnya. Yang menjadi kecemasannya adalah, bagaimana ia dapat bekerja dengan kondisi tuna netra? Mengendarai Ferrari dengan sangat piawai tanpa kemampuan melihat itulah jawaban dari kecemasan itu.

Dansa tango dan mengendarai Ferrari adalah simbol dari upaya ego untuk memenuhi hasrat seksual dan hasrat makan. Keduanya adalah perwakilkan dari objek pemenuh insting hidup, yang ketika dikemukakan dalam kesadaran menyebabkan insting kematian tersingkir. Eros menang atas Thanatos.

Frank Slade pada akhirnya dapat bersahabat dengan kebutaannya. Ia mungkin seperti seseorang yang baru saja terlahir kembali. Dan dalam kehidupan barunya ia mengawali tindakan heroik balasan dengan membebaskan bocah itu dari ancaman institusi sekolah yang akan mengetok palu drop-out. Di sana pula Frank menjumpai seorang perempuan beraroma wangi yang diam-diam mengaguminya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s