Melukis di Keramaian

Kuas terus bergerak mengikuti perintah kakiku, berpindah dari papan palet menuju kanvas, sebentar mencelup ke botol minyak dan kembali mengaduk di papan palet sebelum ke kanvas lagi.

Dua orang berdiri di belakang, menyaksikan. Tentu aku tak melihatnya karena pandanganku terpaku di kanvas dan yang lainnya tadi. Aku tahu kehadiran mereka setelah salah satunya berbisik pada yang lain, menyampaikan rasa penasarannya atas apa yang ia lihat di depannya. Tanggapan pun disampaikan dengan bisikan pula: jawaban tidak tahu.

Kutolehkan kepala, menyapa, menanyakan identitas paling umum. Percakapan terlahir meriah sejenak kemudian, antara mereka denganku yang tetap bekerja dengan kuas.

Kita sering berpikir bahwa ketika pelukis sedang bekerja, sebaiknya tidak diajak bicara. Mungkin pelukis itu seperti sopir bus yang harus melekatkan pandangan di jalanan depan. Tapi sebenarnya tidak demikian. Tidak ada resiko bagi pelukis untuk mengalihkan perhatiannya dari kanvas. Setidaknya seperti itu pengalamanku.

Inspirasi bukan sesuatu yang cepat musnah, ia tersimpan dalam memori dan masih mungkin dikembangkan secara kreatif. Mood tidak begitu saja rusak hanya oleh obrolan ringan atau wawancara. Konsentrasi dalam proses melukis adakalanya justru perlu dicairkan.

Namun bukan berarti tidak ada yang bisa mengganggu sama sekali. Bunyi keras seperti knalpot rusak atau dikebut jelas mengganggu, rasanya seperti ketika seseorang tiba-tiba menjitak kepala kita. Bunyi keras menjitak kelenjar hipofisis hingga menyemburkan hormon kortisol penyebab stres. Ini terjadi pada setiap orang. ‘Jitakan’ yang diterima pelukis saat bekerja dapat membuyarkan konsentrasinya, dan menuntut waktu lama untuk kembali pada keadaan semula.

Gangguan lain yang lebih besar sebenarnya justru bersumber dari pikiran si pelukis sendiri. Pikiran dalam pandangan Cartesian bisa disebut sebagai alat pengada, alat kesadaran yang darinya seorang individu menjadi eksis. Namun sebagai alat, pikiran ini seperti memiliki kehendaknya sendiri. Ia terus bekerja di setiap saat; tak pernah diam, tak pernah hening, selalu ramai.

Pikiran yang bising dalam proses melukis sanggup membuat si pelukis melempar kuasnya dan tak lagi memungut kuas itu hingga berbulan-bulan. Pikiran sangat suka menghadirkan masalah-masalah di masa lalu, menampilkan potensi petaka di masa datang, yang semua itu menghalangi pelukis dari kanvas di depannya. Sekalipun pelukis itu sudah memilih waktu bekerja di malam yang paling sunyi, keramaian tidak benar-benar meninggalkannya.

Jadi, pelukis mana yang sebenarnya tidak melukis dalam keramaian?

Melukis di trotoar Malioboro


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s