Seni dan Ilmu

Hubungan antara seni dan ilmu bersifat dikotomis. Keduanya dibedakan. Seni menekankan tindakan yang menghasilkan perubahan di bidang material, individu, hingga sosial. Seni mengisyaratkan keterlibatan langsung pelakunya dalam proses perubahan itu, sehingga seni mensyaratkan dikuasainya keterampilan teknis oleh para seniman. Seni dalam prosesnya melibatkan rasa: menghasilkan rasa senang, sekaligus terhambat oleh rasa tidak senang. Dan hasil dari seni itu, yang berupa benda seni, diakses dengan rasa oleh para penikmatnya.

Sedang ilmu menuntut penghentian aktivitas; tubuh diam namun pikiran bekerja. Ilmu mengambil jarak dari tindakan, karena ilmu adalah refleksi; pantulan dari tindakan itu sampai pada tingkat yang rinci. Ilmu disarikan lewat kesadaran yang mengamati dan menganalisis proses bertindak, yang kemudian dibahasakan ke dalam teks. Pembentukan ilmu tidak banyak melibatkan rasa, bahkan menjauhkan rasa demi kemurnian dan objektifitas ilmu. Wujud akhir ilmu, yang berupa teori, diakses bukan dengan rasa melainkan pikiran.

Dalam situasi dikotomis ini saya berpendapat agar keduanya tidak diceraikan, meski tetap dibedakan. Seni dan ilmu bersifat komplementer. Seniman yang aktif dengan proses pengolahan dan penciptaan, serta hanyut dalam rasa kenikmatan, suatu saat perlu duduk merenung. Ia perlu memikirkan ulang langkah-langkah artistik yang sudah ia lakukan, dan bila perlu menuliskannya. Hasil pemikiran ini akan memberikan kontribusi bagi kemajuannya sendiri dalam berkesenian. Ia dapat melihat perkembangannya dalam tiap periode tertentu, sambil memetakan sasaran untuk dicapai di masa depan. Manfaat lain adalah bagi siapa pun yang hendak turut belajar dalam proses berkesenian itu. Ilmu dari proses berkesenian akan memajukan dunia seni itu sendiri.

Di pihak lain, para akademisi yang kenyang dengan teori perlu menceburkan diri di tengah pergumulan proses. Tahu tentu tidak sama dengan mengalami. Tahu bahwa warna kuning akan merubah merah menjadi jingga, tentu beda dengan rasanya mencampur sendiri plototan cat dari dua warna tersebut dengan kuas dan minyak. Tahu tentang adanya lima belas mekanisme pertahanan diri, tentu beda dengan merasakan langsung berada di tengah jepitan hasrat dan tekanan sosial, lalu berjuang selamat dari sana. Tahu bahwa tanda-tanda merujuk pada realitas transendental yang ditandai, tentu beda dari membuat sendiri tanda-tanda itu dalam puisi atau fiksi.

Seniman berpikir dan ilmuan berkesenian adalah perkawinan yang cantik. Sejarah mencatat nama Leonardo da Vinci, pelukis yang tidak segan menginterupsi permainan rasa dengan kegiatan berpikir secara ilmiah. Sedang ilmuan yang sekaligus menciptakan karya seni adalah misalnya Umberto Eco. Ilmuan bidang semiotika yang mengajar di Universitas Harvard ini juga menulis novel-novel yang mengagumkan.

Tulisan pendek ini semoga menjawab kepongahan segelintir seniman yang hanya mengagung-agungkan tindakan sambil merendahkan hasil kontemplasi yang tersusun dalam teks di lembar-lembar buku, sekaligus mengingatkan sebagian kaum teoris yang lupa untuk mengembalikan ilmu yang mereka pelajari di ruang-ruang kelas ke dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s