Warung Kopi

Pengunjung dilayani langsung oleh pemiliknya; dari menjerang air, menuang ke dalam gelas berisi bubuk kopi hitam dan gula, mengaduknya, sampai menyajikan gelas panas itu ke atas meja. Setelah itu pengunjung tidak ditinggal pergi, tidak ditelantarkan, tapi tetap ditemani dalam percakapan yang renyah. Semakin banyak pengunjung yang datang, percakapan menjadi meriah.

Di warung kopi, perjumpaan manusia dengan sesamanya adalah inti dari semuanya. Percakapan bisa datang mengisi jarak-jarak, dan kopi berfungsi untuk merapatkannya. Warung kopi bukan ruang dimana komoditi dipertukarkan antar orang yang tak saling kenal-peduli. Karenanya pemilik warung tidak meninggalkan pengunjung meski segelas kopi sudah disuguhkan. Ia juga manusia, seperti mereka yang bertandang itu. Setiap pengunjung juga mengetahui nama pengunjung lain, nama yang tidak sekedar untuk diteriakkan agar kepala berpaling, tapi tanda dari kepribadian dan sejarah empunya.

Kopi budaya

Isi obrolan sesama pengunjung mungkin bisa dikecilkan; ditempatkan dalam kesementaraan waktu, dan ditaruh di sudut-sudut asing dari kancah yang lebih ramai. Tapi Inggris punya cerita lain dengan warung kopi di masa lalunya. Berkat warung kopi, negeri kerajaan ini selamat dari revolusi yang seram, yang sudah kadung terjadi di Prancis. Dalam warung-warung kopi, orang-orang kelas tanggung memperoleh ruangnya sendiri yang nyaman, karena tak mungkin bergaya necis layaknya kaum ningrat, tapi juga enggan untuk merunduk-runduk di kaki orang lain seperti para budak. Di ruang nyaman itu kesadaran budaya mereka tumbuh, sastra berkembang, jati diri ditemukan. Dan kemudian secara keseluruhan, masyarakat tertata kembali, mapan dalam posisinya.

Di negeri kita sendiri, warung kopi disepikan. Obrolannya dianggap tak bernilai, dan tak berkontribusi apa-apa. Mendengarnya adalah buang-buang energi, karena yang bicara di sana pastilah orang-orang yang tak mengerti. Tidak mengerti karenanya kemudian ditetapkan tidak punya kepentingan, tidak perlu urun suara dalam urusan orang-orang tinggi–kecuali di bilik-bilik Pemilu saja.  Padahal semakin hari, orang-orang kelas warung kopi ini dibikin menjadi semakin tak mengerti dengan akting kacau di layar kaca dan koran-koran yang membingungkan. Yang itu berarti, orang-orang warung kopi semakin kehilangan hak kewarga-negaraannya. Diam saja!

Inggris yang bermonarki, saat itu membiarkan dan mengijinkan orang berbicara di ruang-ruang terbuka. Indonesia yang berdemokrasi, rakyatnya dituntun-tuntun untuk mendengar saja. Rakyat yang bicara adalah rakyat yang tersesat di warung kopi, terjebak dalam obrolan kosong tak berarti.

Mungkin saja negeri ini menghendaki jalan revolusi(?) Entahlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s