Lupa dengan Yang Ada

Tiga anak remaja nongkrong di pinggir jalan, di sisa hari yang singkat, di sebuah kampung yang padat. Anak pertama menyuarakan kejengkelannya atas perngalamannya sendiri, menyesali raibnya uang di kantong setelah membelanjakannya.

“Asem! Kemarin aku masih punya lima puluh ribu. Sekarang kantongku kosong gara-gara beli MMC.”

Anak kedua tak banyak bersuara, entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin merasa kasihan pada temannya, atau tak peduli saja. Sedang anak ketiga asyik bernyanyi-nyanyi menirukan lagu yang tengah diputar dari sebuah telepon seluler. Saya membayangkan di dalam ponsel itu terselip MMC untuk menyimpan sekian banyak file audio yang kemudian bisa dinikmati bersama antara ketiga anak itu. Dan kemungkinan saja, MMC dalam ponsel itulah yang telah mengosongkan kantong anak pertama tadi.

Beginilah kita menjalani hidup. Kita bebas membuat pilihan untuk sebuah tujuan, mengeksekusi pilihan itu, lalu menyesalinya sambil mengabaikan pencapaian yang sudah ada. Dalam kasus anak-anak remaja tadi, tujuan sudah ditetapkan, yaitu ingin menikmati lagu-lagu lewat sebuah ponsel dengan menambahkan kapasitas memorinya. Demi tujuan ini suatu tindakan harus dikerjakan, yaitu membeli MMC; sebuah perangkat keras yag bisa menambahkan jumlah memori di dalam ponsel. Dengan demikian harus ada yang dikorbankan, yaitu uang di kantong. Prosespun dikerjakan, semuanya beres, tujuan tercapai, lagu-lagu favorit bisa didengar setiap saat. Tapi pencapaian itu terasa hambar, kesenangan yang sebelumnya diimpi-impikan ternyata biasa-biasa saja, lagu-lagu itu gagal menghibur. Mengapa? Karena pikiran terus saja menoleh ke belakang, pada perginya uang di kantong itu.

Kita tidak bisa benar-benar menikmati apa yang ada di depan kita, selama pikiran kita memilih untuk berkelana ke ruang dan waktu yang berbeda. Saat ada uang di kantong, kita berpikir, “Andai saja punya MMC.” Setelah ada MMC, masih saja kita berpikir, “Andai uangku tidak hilang.” Lantas kapan yang ada itu saja dinikmati sepenuhnya?

Ini bukan semata-mata soal kesejahteraan material, atau seberapa banyak harta yang kita miliki. Karena hal sama juga kerap terjadi pada orang-orang kaya, dengan skala angka-angka yang besar tentunya. Tapi ini masalah mental; cara kita menangani pikiran yang seolah punya kehendaknya sendiri itu.

Sesungguhnya masalah yang paling mendasar dari peristiwa seperti ini adalah tidak digunakannya pikiran atas rasa, yaitu berpikir untuk membentuk suasana hati, untuk mengendalikan emosi. Tapi perasaan dibiarkan melumpuhkan pikiran, atau pikiran bekerja karena menuruti rasa. Ini terjadi ketika muncul rasa ingin atau hasrat pada pertama kalinya, lalu pikiran mematuhi saja hasrat itu. Pada akhirnya, keputusan yang didorong rasa ingin belaka itu mengundang sesal. Ah, perasaan yang lain lagi, dan kali ini yang buruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s