Berpikirlah Selagi Senang

Suara anak kucing itu terdengar memelas, membuat kami bertiga mencoba mencari sumber suaranya. Akhirnya kami temukan ia terjebak di ruang kelas. Saat itu adalah hari setelah pembagian rapor, dan pintu kelas yang terkunci baru akan dibuka satu pekan kemudian, usai liburan. Kami pun berupaya menolong makhluk rentan itu agar bisa bertahan hidup selama itu. Kakakku bergegas ke rumah untuk mengambil nasi yang dilumat dengan ikan asin, yang tampak menggunung dalam pincuk daun pisang. Kemudian lewat celah pada jendela nako, sepincuk nasi ikan asin itu dimasukkan. Si anak kucing segera menyambarnya dengan lahap.

Aku terus memperhatikan bagaimana anak kucing itu memindahkan rejekinya ke dalam perut. Menggemaskan. Tapi mulai ada yang membuatku cemas. Seluruh nasi dalam pincuk itu dihabiskannya. “Kok dihabiskan, Pus? Kenapa tidak disisakan buat besok? Besok mau makan apa?” demikian protesku yang segera disambut tawa kedua kakakku. Mereka menjelaskan kalau percuma saja aku mengajak anak kucing itu bicara. Ah, kami hanya anak-anak, belum banyak mengerti.

Di tempat lain dalam selisih waktu yang jauh, seorang pekerja wiraswasta baru saja memperoleh bayarannya atas order yang sudah ia tuntaskan. Jarang ia memegang uang sebanyak itu. Atas pencapaiannya, ia tak mau lagi dibebani pikiran akan susah payah yang sudah ia lakukan sebelumnya, atau pikiran dalam bentuk apa saja. Kini saatnya perayaan, harus dijalani dengan sepenuh suka cita. Ia mulai membawa anak istrinya ke restoran, memilih menu apa pun berdasarkan rasa ingin dan suka. Selepas dari sana, toko elektronik disinggahi. DVD player lengkap dengan sound-system yang dahsyat segera resmi menjadi miliknya. Disinggahi pula toko busana untuk baju baru anak-anak, dan butik untuk gaun anggun sang istri. Untuk dia sendiri, beberapa kardus rokok tentunya. Puaskan saja. Sekali lagi, jangan sampai ada beban pikiran.

Belum lewat satu bulan, pria ini sudah mulai kelabakan mencari tahu jika saja ada job atau order yang bisa ia kerjakan, agar ia bisa membayar tagihan sekolah anaknya. Setelah jawaban ‘tidak ada’ ia terima dari mana-mana, ia baru mulai mempekerjakan otaknya, menghitung barang apa saja yang bisa dititipkan di kantor pegadaian hingga setara dengan angka-angka yang dibutuhkan. Berpikir.

Rupanya otak adalah organ tubuh yang digunakan hanya pada masa-masa sulit, masa dimana rasa tidak senang kadung membebani diri. Dalam perasaan negatif, dalam kecemasan dan kekalutan, sesungguhnya kerja otak tidak bisa optimal. Hormon kortisol penyebab stres sudah membanjir, menghambat kemampuan analisis.

Jika saja kawan kita tadi pada saat masih memegang uang banyak mau sedikit dibebani oleh pikiran, ia bisa berpikir lebih runut karena emosi positif turut mendukung dalam perasaan senang itu. Dalam rasa senang, otak memproduksi hormon dopamine yang merangsang kerja frontal-cortex, bagian otak untuk berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah. Ia bisa mengingat-ingat beban apa saja yang masih ditanggung, serta memperkirakan berapa kemungkinan biaya di masa depan yang harus dibayar, sehingga ia sadar bahwa harus ada uang untuk disisihkan.

Tapi masyarakat kita memilih jalan hidup yang beda. Pikiran selalu dianggap sebagai codet dari wajah agung permainan rasa. Pikiran dicurigai bakal mencuri kesenangan. Pikiran dilihat sebagai cela yang membawa bau busuk ke dalam harumnya kebahagiaan. Sehingga pikiran hanya boleh bekerja sebagai kawan dari derita, dari kecemasan dan tekanan. Tak ada apa itu yang disebut “pikiran yang indah” atau beautiful mind.

Benar saja, anak kucing yang terjebak tadi menghabiskan seluruh nasi ikan asin dalam pincuk itu, tak peduli berapa hari ia masih harus bertahan di ruang yang terkunci, karena anak kucing memang tidak bisa berpikir.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s