Kebudayaan dan Pendidikan

Terlepas dari kontroversi yang muncul dari pengangkatan wakil-wakil menteri, dan lain-lainnya, saya merasa ada perkembangan positif dari reshuffle kabinet yang baru saja terjadi. Disatukannya kembali kebudayaan bersama dengan pendidikan dalam satu Kementrian harus saya apresiasi sebagai keinsyafan pemerintahan Presiden SBY, setelah selama tujuh tahun ini menganggap kebudayaan tak ubahnya komoditi yang bisa diuangkan.

Budaya berasal dari kata budi dan daya. Budi adalah akal, daya adalah kekuatan. Budaya adalah kekuatan yang dimiliki manusia berkat akalnya. Sehingga kebudayaan adalah hal-hal yang berurusan dengan kekuatan akal itu. Kebudayaan adalah apa yang berproses di dalam kepala manusia, apa yang menjadi pemikiran dan rasa. Wujud-wujudnya masih abstrak, seperti ideologi, kepercayaan, dan nilai-nilai.

Kebudayaan baru bisa dilihat secara kongkrit setelah melewati proses materialisasi. Di sini manusia berbudaya melakukan tindakan dengan fisiknya untuk membuat benda-benda menuruti apa yang ada dalam pikirannya, menggerakkan tubuhnya sendiri atau menyenandungkan nada-nada menurut rasa. Produk-produk budaya yang berwujud empiris ini disebut sebagai artefak budaya. Oleh pemerintah selama tujuh tahun ini, artefak budaya ini dirancukan dengan kebudayaan secara keseluruhan.

Kebudayaan pada tataran abstraknya adalah apa yang melandasi kepribadian bangsa ini. Ini harus dikelola secara khusus dengan pendekatan keilmuan, dan karenanya disatukan dengan urusan pendidikan. Sedang kebudayaan dalam bentuk kongkritnya, berupa artefak dan seni boleh dikelola dengan pendekatan ekonomis, dan karenanya disebut sebagai Ekonomi Kreatif lalu disatukan dengan urusan pariwisata di dalam Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Tapi agaknya kebijakan tepat ini tidak bisa dipahami banyak orang. Seorang artis ibu kota dalam sebuah talk-show di TV swasta menyesalkan rujuknya urusan kebudayaan dengan pendidikan. Bahkan politisi juga tidak memahami soal ini, seperti diberitakan di Kompas ini. Ketidak-mengertian mereka adalah akibat nyata dari komodifikasi kebudayaan selama tujuh tahun ini, dari tidak dipahaminya esensi kebudayaan karena diceraikan dari pendidikan.

Saya berharap, buku karya Koentjaraningrat berjudul Pengantar Antropologi yang populer itu dapat menjadi rujukan untuk melihat kebijakan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s