Inner Peace

Kung Fu Panda 2
Berhasil menjadi pendekar naga bukan berarti Po selesai dalam belajarnya. Hidup masih berlangsung, masih banyak yang mesti dipahami dan dilakukan. Kali ini Po harus belajar dan berjuang mengalahkan musuh terbesarnya: dirinya sendiri.

Po adalah pendekar yang periang; perwujudan kontras dari gurunya yang anteng dan pendiam. Ia gemar menari-nari, bercanda, atau berpolah jenaka. Tapi di balik keriangannya itu ternyata tersimpan kecemasan dahsyat yang mengintai, yang bisa muncul setiap saat untuk merenggut senyum dari wajahnya.

Saat Po membela desanya dari gerombolan perampok, Po secara tak sengaja dalam waktu sekejap melihat gambar pada atribut yang dikenakan perampok. Gambar itu berupa lingkaran merah berlapis dengan garis-garis di luarnya yang tegak lurus terhadap pusat lingkaran, seperti gambar mata yang melotot lebar lengkap dengan bulu-bulunya. Entah bagaimana, Po tiba-tiba kehilangan fokus pikirannya, dan akibatnya ia gagal membela harta benda milik desa dari perampokan. Ada perasaan cemas yang seketika menghunjam di rongga dada Po, yang diantar oleh gambar itu dari masa yang sangat lalu.

Po menyadari ada misteri pada diriya yang harus diungkap, ada masalah kejiwaan yang mesti dituntaskan.

Peristiwa di masa balita sedikit, atau hampir tidak ada, yang masih bisa diingat oleh kebanyakan manusia. Kita tidak tahu lagi bagaimana pengalaman kita dulu saat menyusu pada ibu, atau meringkuk dalam pelukannya. Tapi kita tahu ada perasaan yang masih tersisa dari pengalaman itu; rasa nyaman atau terlindungi setiap kali bersama ibu. Rasa nyaman dan rasa terlindungi ini adalah pengalaman yang mengendap dalam alam-bawah-sadar, yang bekerja dalam jiwa kita tanpa kendali kesadaran. Ia menyundul-nyundul perasaan, hingga akhirnya kita berupaya melakukan penyelidikan dari perasaan itu, baru kemudian tahu dari mana datangnya.

Rasa cemas yang tiba-tiba menyergap Po hingga melumpuhkan daya nalarnya tidak diketahui dari mana datangnya. Hanya diketahui bahwa sebuah gambar simbol sederhana menyebabkan semua itu. Sementara sekian banyak gambar lain tidak menimbulkan efek yang sama. Gambar mata merah itu menyusup ke dalam alam-bawah-sadar Po, dan mengakses pengalaman buruk di masa lalu yang sudah terlupakan. Pengalaman buruk itu bagaimana tepatnya belum diketahui, tapi efek rasanya sudah lebih dulu muncul. Yang perlu dilakukan Po adalah menyelidiki pengalaman buruk apa yang terjadi di masa lalunya itu.

Setelah proses penyelidikan yang seru dan penuh petualangan serta pertarungan, Po akhirnya tahu bahwa gambar itu adalah simbol yang dibuat oleh seorang penjahat politik yang telah memusnahkan seluruh ras Po. Waktu itu Po masih bayi yang baru merangkak. Oleh kedua orang tuanya, ia dibawa lari untuk diselamatkan dari pembantaian. Dalam gendongan erat orang tuanya, Po sempat melihat pada setiap batang pohon di hutan itu terlukisi gambar mata berwarna merah, yang adalah logo dari rejim pembantai itu. Setelah pelarian yang melelahkan, orang tua Po menyerah. Tapi Po berhasil disembunyikan di suatu tempat, hingga terdampar di rumah penjual mi, dan lalu diadopsi. Dengan demikian diketahui pula bahwa ayah Po selama ini, pria tua baik hati yang bekerja di warung mi itu, bukanlah ayah kandungnya.

Agaknya, pengetahuan dari hasil penyelidikan itu menambah beban perasaan bagi Po. Untuk itulah gurunya, Master Shifu, mengajarkan ilmu kedamaian batin, atau inner peace.

Fakta bahwa ayahnya bukanlah ayah kandung, dan kemungkinan ayah kandung serta ibu kandung telah lama tewas di tangan penjahat, bagi Po terasa seperti kerikil dalam sepatu, atau debu di bola mata (klilip). Beban-beban jiwa itu, entah yang masih dalam alam-bawah-sadar, insting, ataupun yang telah disadari harus dibuang untuk meraih kedamaian. Proses pembuangannya membutuhkan saluran, yang disebut katarsis. Oleh Master Shifu, katarsis itu dipilihkan dalam bentuk sikap yang lentur seperti air, dinamis mengikuti keadaan, bersahabat dengan kenyataan.  Sebagaimana yang diajarkan oleh Lao Tzu pada abad keenam S.M.

Dengan mematuhi ajaran gurunya, Po dapat menerima ayah angkatnya yang berbeda ras itu sebagai ayah kandungnya sendiri. Kemajemukan dalam keluarga ia sadari sebagai keindahan. Po berhasil menang atas dirinya sendiri.

Sementara, jauh di kaki langit sana, ada seorang pria tua yang merasa bangga dengan tindakan putranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s