Menertawakan Diri


Kandungan cat dalam bulu-bulu kuas itu sudah habis. Guruku menuntun kuasnya ke dalam wadah minyak painting medium untuk menghisapnya dalam jumlah yang dikira-kira cukup. Lalu plototan cat pada papan palet segera dilumat, diaduk-aduk untuk menghasilkan warna campuran yang matang. Batang pegangan kuas yang terbuat dari kayu itu tampak lincah meloncat-loncat, seperti kaki-kaki flamingo yang mengaduk lumpur makanannya di pinggir telaga.

Warna yang diharapkan telah terbentuk; campuran dari sedikitnya tiga warna dasar. Guruku menuntun kembali kuasnya ke kanvas. Sampai di sana, kuas itu berhenti di dalam pegangan jemari yang mengapung diam di udara. Mata guruku tampak melirik ke sana ke mari, ragu-ragu untuk membuat goresan.

“Wah, lupa. Mana tadi?” gumamnya kemudian sambil meletakkan kuas itu di samping papan palet, lalu beranjak berdiri sambil tertawa. Aku ikut tertawa setelah memahami apa yang terjadi. Ia lupa bagian mana dari lukisan besar itu yang tadi sedang digarap; apakah gerumbulan daun di bagian latar, ataukah semak di depan. Asyiknya mengaduk cat di papan palet itulah yang membuat pikirannya lepas dari kanvas. Lupa.

Satu setengah dasa warsa berselang. Tak kusangka aku mengalami hal serupa. Setelah hampir tiga menit membuat kuasku menari-nari di atas gumpalan cat, aku tidak menemukan bagian yang sedang aku warnai di dalam kanvas. Tapi kali ini aku tidak bisa tertawa seperti guruku. Aku justru merasakan kegetiran; getir karena ketika pengalaman ini terjadi, aku sudah tidak ditemani lagi oleh guruku. (Semoga jiwanya bahagia.) Rasa getir juga disebabkan dari kepongahanku yang tak mau menerima kenyataan bahwa aku memang bisa menjadi dungu; tak sanggup berlaku seperti guruku yang tertawa saja. Tawa itu jelas menunjukkan sebuah kejujuran; penerimaan akan keadaan diri apa adanya.

***

Jika kau bertanya apa kemujuran terbesar dalam hidupku, akan kujawab bahwa aku selalu menemukan orang-orang hebat untuk dijadikan guru. Guruku yang kedua bukan guru melukis. Dengannya, aku juga punya cerita yang sama. Saat itu kami sedang menghabiskan sisa waktu usai kelas perkuliahan. Bersama beberapa pegawai kampus kami membicarakan hal-hal ringan yang bisa dibumbui guyonan. Obrolan itu sejenak terinterupsi dengan pembagian secarik kertas oleh pegawai keuangan kampus. Guruku juga mendapatkannya, dan segera membaca pesan pada kertas itu. Kuperhatikan pelan-pelan murung merampas keceriaan di wajahnya.

Aku menjadi ingin tahu, apa yang tertulis dalam kertas itu. Lewat bisik-bisik dengan pegawai kampus lain yang juga menerima kertas yang sama, aku mendapatkan jawaban. Kertas itu adalah memo yang meberitahukan penundaan pembayaran tunjangan pegawai untuk bulan tersebut. Itu artinya kabar buruk bagi mereka, terutama yang harus segera membayar tagihan ini dan itu. Suasana yang semula ceria menjadi ngelangut.

Tapi tiba-tiba guruku berseru, “Jangan salah! Ini adalah kartu kredit. Kita bisa menggunakannya untuk makan di warung pak Bambang. Nanti kalau ditagih, kita sodorkan saja memo ini.”

Tawa segera meledak di sana. Aku ikut tertawa sambil mencoba memahami bagaimana guruku dapat membalikkan kenyataan kecut itu menjadi sedemikian menggelikan. Bagaimana ia bisa dengan sangat cepat membuat analogi kartu kredit untuk menertawakan memo itu. Bagaimana ia bisa membangun realita positif dari fakta negatif, tanpa harus mengolok-olok siapa pun (kecuali dirinya sendiri, mungkin). Lalu aku berpikir, seandainya aku berada pada situasi yang sama, sanggupkah aku nanti menertawakan penderitaanku juga?

Sepertinya aku masih terlalu bodoh untuk bisa tertawa. Meski aku sudah menyadari bahwa tawa seperti yang dilakukan oleh kedua guruku itu adalah cara yang paling bijak untuk bersahabat dengan kenyataan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s