Pinggiran Panggung


Ibarat di atas panggung teater, peran hidup kita ini adalah figuran yang terselip di antara figuran lain dan dinding dekorasi. Ditambah dengan tinggi badan yang minimum serta busana yang mesti seragam, kehadiran kita nyaris tak pernah tersapa. Para penonton yang berjajar di tribun dengan tiket mahal itu datang bukan untuk mencari tahu siapa yang tak tampak, tapi untuk memuja-muja sang bintang yang sudah pasti selalu disorot cahaya. (Rupanya bintang tidak memancarkan cahayanya sendiri.) Kehadiran tak kentara kita pun hanyalah untuk meninggikan bintang itu; seperti gerbong restorasi yang membuat lokomotif semakin tersorok ke depan.

Tapi kita tak pernah bersungut-sungut menghadapi punggung-punggung figuran lain, yang menambah jarak kian jauh dari pusat cerita itu. Kita tersenyum saja ketika sutradara menyuruh tersenyum. Dan kalau harus menangis itu bukan karena kita bersedih sebab terpinggirkan terus di panggung pertunjukan. Tawa-tangis bukan untuk pribadi kita, tapi permainan peran yang total tanpa protes, cemoohan, maupun hujatan. Kita nikmati saja selalu secuil ruang dan adegan yang dijatahkan untuk kita ini. Sebab ketika nanti tirai diturunkan, kita tak ingin merasa belum pernah berada di panggung ini yang satu kisah dengan bintang-bintang hebat itu.

Di depan gerbang kematian, apakah kita mau belum merasakan hidup?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s