Vakasi


Seperti famili jauh, laut akan terus dikunjungi oleh orang-orang gunung seperti saya; sebagaimana sungai juga akan tetap mengalirkan airnya ke sana. Cuacanya sudah pasti sangat berbeda; tetapi ibarat sebuah keluarga, kadang memang ada saudara yang berperangai tak sama, toh tak menghalangi juga untuk dijumpa. Panas dari cahaya terik itu terasa sekali pada timbunan pasir yang tebal dan luas. Kaki yang berani bertelanjang saat menapakinya akan digoreng hingga melepuh. Udara yang hangat terasa berat untuk dihirup karena partikel lembut garam ikut terbang bersamanya. Julurkan lidahmu barang semenit, kau akan merasakan asin saat lidah itu kembali ke rongga mulut.

Parangkusumo punya banyak cerita. Satu hari saja berada di pantai sebelah barat dari pantai Parangtritis ini mungkin sudah bisa menulis sebuah kumpulan cerpen berdasar apa yang terjadi di sana. Minggu yang masih gasik itu ratusan orang tampak berkerumun pada satu sisi dari pantai yang panjang itu; sebuah keluarga besar dari keraton Surakarta sedang melarung sedekah laut. Ratusan pengunjung lain bertebaran di banyak tempat, membuat ruang imajinernya masing-masing untuk dijadikan tempat bersenang-senang; membangun istana pasir yang sebentar hancur, atau mencumbui ombak laut hingga batas kecemasan, diiringi teriakan orang-orang tua yang mengingatkan cucu-cucunya agar tidak terlalu jauh mencebur ke dalam air.

Sebagaimana terjadi pada setiap keramaian, pasar akan terlahir di sana; tempat uang diharapkan berpindah tangan. Tenda-tenda yang menawarkan keteduhan tumbuh tak rapi di jajaran yang masih jauh dari jangkauan ombak. Keteduhannya memang tak seberapa, tetapi es degan yang disajikan dengan harga sewajarnya itu tentu punya efek lebih besar. Pasar seperti ini tumbuh dengan kehendaknya sendiri. Maka upaya pemerintah setempat untuk melokalisir mereka pada satu kumpulan lapak permanen yang mewah pun tak bersambut. Pasar bikinan pemerintah itu sepi penghuni. Seorang ibu pemilik warung tenda menegaskan bahwa ia ingin lebih dekat pada pengunjung, bukan menunggu dihampiri dari jarak yang jauh meski di bawah peneduh yang nyaman. Memang tak banyak uang bisa ia kumpulkan tiap harinya, tapi interaksi yang konstan adalah rejeki tersendiri. Terbukti dari bagaimana ia tidak memaksakan dagangannya untuk dibeli sambil merajuk, tapi ia justru memberi tahu sudut lain dari pantai yang panjang itu, yang menyediakan jajanan lebih lengkap. Ia menyebutkan pantai Depok.

Sekitar empat kilometer ke arah barat, sebelum tiba di muara kali Opak yang besar, adalah pantai Depok itu. Jalan menuju ke sana tak ubahnya panggung tempat drama alam dipentaskan, dengan kisah kemenangan heroik sang kesuburan melawan kegersangan. Timbunan pasir luas yang dulu nyaris menyerupai gurun itu kini berupah rupa menjadi hijau segar. Tumbuhan semak, yang entah apa istilah ilmiah dan sebutan lokalnya, tumbuh liar tak terbendung; menyerupai liarnya enceng gondok yang membalut permukaan kali Tuntang. Semak pasir ini menyimpan getah yang encer di dalam batangnya, yang akan segera mengalir deras ketika dipatah. Wataknya seperti kaktus yang berjuang keras melawan kebinasaan dengan menimbun bekal pertahanan hidup: air. Kesuburan juga diwakili dengan tumbuhnya pandan berduri yang berumpun-rumpun, serta pohon-pohon lontar yang menjulang tinggi dengan buah siwalan yang menyegarkan.

Pantai Depok adalah tempat dimana nelayan berani melabuhkan perahu. Entah apa yang membedakannya dari Parangkusumo dan Parangtritis. Mungkin unsur magisnya. Di sini pasar ikan dibangun, pengunjung bisa memilih hasil tangkapan nelayan yang masih segar itu, atau memilih untuk menyantapnya seketika di warung sana. Pada sebuah warung makan yang berjajaran dengan warung makan lain, saya berhasrat untuk mencicipi ikan barakuda dengan bumbu asam pedas, yang ternyata memang lezat. Minggu siang pengunjung membludak. Pelayanannya menjadi lambat. Penantian kami begitu lama hanya untuk makan siang semata. Tetapi gerutu dan sungut-sungut bakal merusak semua kesenangan yang dicari sejak dari rumah. Dan ada kalanya menunggu justru memberi kita kesempatan untuk merasa lebih menyatu dengan momen itu. Tanpa menunggu itu, perjalanan ratusan kilometer akan terasa hanya untuk yang sekedip mata saja.

2 comments

  1. wah yang sendirian di pasir itu bisa jadi cover film, sip.

    aku gek kelelep di koreksian dan tugas kuliah ki. jan gak sempat ber milarepa, wis mulih to?

  2. Hehehe… dulu di sana cuma timbunan pasir, mirip pemandangan di gurun Gobi. Tapi memang tanah Jawa ini luar biasa. Pasir pun diretas oleh semak hijau.

    Aku sudah seminggu di rumah, tapi PR-nya banyak. Fesbukan pun males.
    Monggo nikmati kesibukan masing-masing kalau begitu, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s