Yang Tak Berhak

Penonton bersorak riuh, terpukau, nasionalisme mereka membuncah. Dengan sisa pemain tetap bertahan di panggung, mereka menuntut ditampilkannya sosok sang penulis, sosok yang layak dipuja-puja untuk karya drama seagung itu. Penulis yang asli tak akan pernah menunjukkan diri; ini soal pertarungan politik, ia harus tetap tersamar. Dalam ketidaksabaran penonton, William Shakespeare menyeruak dari belakang panggung, membentangkan tangan yang memegang lembaran naskah dan pena bulu, dengan sedikit noda tinta di jarinya. Ia lalu menikmati semburan pujian–yang penuh keraguan–dari kerumunan di bawah sana.

Film berjudul Anonymous yang memuat adegan di atas diawali dengan monolog yang menjadi semacam peringatan bagi pemirsa bahwa film ini bakal membongkar fakta yang mengagetkan banyak orang. Kemegahan nama Shakespeare, yang begitu lekat dengan kisah Romeo and Juliet, di sini tiba-tiba runtuh menjadi seorang oportunis yang tidak mempunyai kompetensi. Ia digambarkan hanya sebagai seorang aktor drama yang setengah buta huruf; bisa membaca tapi tak bisa menulis. Ia bahkan sempat mengotori tangannya dengan darah karena popularitas palsunya terancam dibongkar. Dan untuk popularitas itu pula ia menuntut bayaran kepada orang yang telah meminjam namanya. Sisa hidupnya pun–disebutkan dalam epilog–ia jalani bukan sebagai seniman teater ataupun penulis, melainkan pedagang.

Lalu, drama-drama memukau itu, siapa punya kuasa atasnya?

Di balik karya-karya besar itu adalah kisah hidup yang rumit, penuh intrik, pengkhianatan, perselingkuhan, dan bahkan perkawinan sedarah. Edward De Vere, bangsawan di Oxford, sejak kecil diasuh oleh William Cecil yang puritan dan mengharamkan karya sastra. Tapi ada darah seniman mengalir pada diri Edward, entah dari siapa, sehingga larangan pun tak menahannya dari kreativitas. Konflik dengan ayah asuh berlangsung lama, hingga puncaknya, Edward dipaksa menikah dengan putri ayah asuhnya itu. Menderita dengan pasangan yang tidak ia cintai, karena serasa adik sendiri, Edward merayu sang Ratu, yang sama-sama menggemari dunia sastra. Perselingkuhan mereka ini menghasilkan seorang putra.

William Cecil, sang ayah mertua, memiliki rencana politiknya sendiri, yaitu mempersiapkan Raja James dari Skotlandia untuk kelak menggantikan sang Ratu. Edward yang mengetahui ini melakukan perlawanan, bukan dengan pedang melainkan kata-kata. Ia ciptakan tak sedikit naskah drama untuk dipentaskan di panggung teater kota, agar disaksikan banyak warga dari kelas menengah. Dalam drama itulah ia sisipkan propaganda yang mengikis kehormatan para lawan politik di mata rakyat. Untuk itu ia perlu seseorang yang bersedia menyandang nama bagi karya-karyanya, agar cerita dalam drama itu seolah dari kehendak rakyat adanya. Penyandang nama ini semula dipercayakan pada Ben Jonson, penulis berbakat yang dramanya sudah banyak dipentaskan, sebelum tiba-tiba William Shakespeare merebut posisi membanggakan itu. Namun demi keberhasilan rencananya menjadikan karya sastra sebagai senjata politik, Edward terpaksa membiarkan William Shakespeare terus memegang kredit atas karya-karya berikutnya.

Menjelang akhir cerita diketahuilah dari mana Edward mewarisi darah senimannya. Dengan ekspresi sedih, menyesal, tak percaya, dan mungkin jijik, ia sadari bahwa Ratu Elizabeth yang pernah ia cumbui, yang sama-sama penikmat drama itu ternyata ibunya sendiri. Dan kesadaran ini terjadi setelah upaya perlawanan politiknya melalui sastra itu kandas semua. Tak ada lagi yang tersisa, kecuali dua hal: anak haramnya diampuni dari hukuman mati, dan nama William Shakespeare tetap melekat pada seluruh karya Edward De Vere.

***

Drama-drama tragedi yang kadung kita kenal sebagai buah karya William Shakespeare ternyata–menurut versi film Anonymous ini–membawa kisah tragedinya sendiri. Di samping dilatarbelakangi kehidupan yang suram, karya itu juga dilekatkan pada nama seseorang yang tak memiliki bukti kemampuan untuk mencipta. Terlepas dari kontroversi yang mungkin terjadi, setidaknya ini sekarang menyentak pikiran kita lebih jauh. Dalam dunia lukis bisa saja ada kejadian yang sama. Mungkin beberapa lukisan yang pernah kita lihat tidak sesungguhnya dilukis oleh ia yang membubuhkan tanda tangan di sana. Mungkin nama yang tertulis kecil di pojok bawah lukisan itu dibuat oleh seorang pencari untung yang ingin ikut merasakan kehormatan dan kebanggaan dari akhir suatu proses penciptaan, namun tanpa susah payah usaha letih untuk menguasai keterampilan artistiknya.

Satu-satunya upaya pembuktian, selagi si penyandang nama masih bisa dijumpai, seperti yang dilakukan Ben Jonson terhadap Shakespeare adalah memintanya untuk mendemonstrasikan ketrampilan artistik itu, dengan disaksikan orang banyak. Kegagalan untuk membuat karya yang setara kualitasnya dengan yang sudah diaku, adalah bukti kepalsuannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s