Inspirasi

Di bibir kali, sendiri saja, pandangan seorang pemikir membentur seonggok batu berselimut lumut. Citra daun-daun lembut itu masuk ke dalam benaknya, dan mengunggah lebih banyak peristiwa yang mengiringi; dari batu yang dulu keras, hingga juntaian pakis yang mulai banyak tumbuh. Lalu, seperti cermin, semua itu menampakkan diri sang pemikir di dalam pandangannya sendiri, yang juga tengah berada dalam usaha melunakkan kekerasan. Kembali ke rumah, ia merancang solusi panjang untuk permasalahannya, sambil menggurat sepotong puisi dari pengalamannya di pinggir kali.

Puisi alam, beberapa stanza, seorang pelukis membacanya. Terperangah pada apa yang tak terpikirkan olehnya sendiri sebelum itu, ia membentang kanvas. Yang sudah terlukis indah dengan kata-kata, akan ia lukis lagi dengan warna. Kelak, tergantung pada panel pameran, lukisan itu dipandang terpaku oleh seorang penguasa, yang segera memerintahkan bawahannya untuk mempercantik kota dengan lebih banyak tumbuhan.

Kota yang adem dan teduh, anginnya tak lewat saja, tapi harus menerobos dedaunan. Berdesis. Seorang musisi mencuri dengar, dengan menghindari bising knalpot dan jerit klakson. Seketika bibirnya bersiul, menyusun melodi merdu, yang ia impikan bakal bisa diperdengarkan di panggung opera, dengan seperangkat instrumen musik yang megah.

Orang-orang dalam narasi ini terinspirasi. Mereka menyaksikan sesuatu–benda atau peristiwa–lalu mendapatkan gagasan dari sesuatu itu untuk diterapkan ke dalam konteksnya sendiri; sebagai solusi atau kreativitas.

Inspirasi terjadi manakala terdapat struktur yang sama antara sumber inspirasi dan permasalahan pada si terinspirasi. Struktur itu terpendam di dalam kulit-kulit fenomena, yang oleh si terinspirasi digali lewat intuisi. Tetapi meraih inspirasi bukanlah sepenuhnya laku fenomenologis Husserlian yang membutuhkan adanya epoche, yaitu semacam proses awalan berupa membersihkan pikiran dari konsep-konsep dan asumsi-asumsi. Meraih inspirasi jika diibaratkan mengisi gelas dengan air yang baru, gelas itu tidak perlu dikosongkan terlebih dahulu dari air yang lama, karena memang di sini hendak ditemukan sebuah larutan. Subjektivitas seorang pencari inspirasi berhak untuk dipertahankan adanya. Sementara informasi yang masuk lewat indera akan diolah-campur dengan subjektivitas itu.

Dalam contoh di atas, seorang pelukis tak perlu memblejeti kediriannnya sebagai pelukis saat membaca puisi. Dengan begitu, puisi tadi dapat dialih rupa menjadi lukisan. Puisi di hadapan pelukis tersebut bukan untuk dipahami secara objektif, agar lalu tetap bertahan sebagai puisi saja, tapi sebagai pemicu gagasan untuk kepentingan si pelukis sendiri.

Mencari inspirasi memang bukan sebuah upaya penelitian untuk menemukan kebenaran. Inspirasi lebih dekat pada tujuan praktis bagi si terinspirasi. Pencari inspirasi memahami sumber inspirasi dengan perspektifnya sendiri, dan boleh mengabaikan konteks yang ada pada sumber inspirasi. Tetapi inspirasi bukanlah proses penggandaan ataupun pemindahan objek secara utuh dari satu tempat ke tempat lain. Inspirasi beda dari plagiarisme, yang tak mau tahu tentang kerepotan itu. Terinspirasi itu bukan menjiplak.

***

Dalam inspirasi, si terinspirasi–atau objek penderita–secara aktif membangun arti atau makna dari subjek penginspirasi yang dihadapinya. Sementara subjek penginspirasi itu sendiri tidak secara aktif mempengaruhi lewat suatu tindakan komunikasi apa pun. Seonggok lumut hanya diam saja, tak bisa bicara. Tapi sang pemikirlah yang aktif menyematkan makna secara bebas ke dalam lumut itu setelah ia cukup lama berdiam memandangi. Lalu ke dalam makna yang sudah terbangun, sang pemikir menempatkan permasalahan dirinya. Makna dan permasalahan dapat sinkron menyatu karena ada struktur yang sama. Setelah terjadi penyatuan struktur, gagasan atau solusi permasalahan praktis dapat dibangun.

Dengan demikian, ketika kita mau menginspirasi, kita tidaklah melakukan tindakan mempengaruhi secara langsung, tetapi sekedar berbuat sesuai keperluan sendiri. Dan jika ternyata ada seseorang di luar sana yang kemudian terinspirasi oleh perbuatan kita, maka orang itulah yang memang sejatinya cerdas.

Tapi di tengah masyarakat dengan tingkat daya reseptivitas rata-rata, tidak semua tindakan dapat ditangkap sebagai inspirasi. Di sini seorang inspirator perlu dengan cerdik mengemas tindakannya sedemikian rupa agar tindakan itu dapat segera menarik minat yang besar. Tindakan itu juga perlu disederhanakan bentuknya, sehingga struktur rangkanya mudah ditemukan. Seketika struktur ditemukan, saat itulah sebuah tindakan bisa menjadi inspirasi. Sedang bentuk ide yang nanti terlahir pada si terinspirasi tidak pernah ditentukan oleh inspirator.

Banyak peristiwa atau benda di sekitar kita tapi sedikit yang bisa menjadi inspirasi. Menurut saya karena peristiwa atau benda itu hadir dalam tampilan yang biasa-biasa saja, sehingga dianggap tak punya makna; tak memiliki struktur esensial. Atau malah karena peristiwa ataupun benda itu melibatkan terlalu banyak elemen di luar strukturnya. Sedang menguliti elemen-elemen itu sendiri sudah merupakan kegiatan mental yang rumit, maka inspirasi bisa gagal ditemukan sebab strukturnya (esensinya) tak kunjung terkuak.

Dan akhirnya, conscience atau kemampuan mental untuk membedakan mana baik dan mana buruk adalah kunci operasionalisasi praktek memperoleh dan mengaplikasikan inspirasi. Banyak peristiwa di sekitar kita yang bisa ditiru, tapi penerapannya harus mempertimbangkan hal berikut: apakah bakal ada orang yang menderita akibat kelakuan kita?

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s