Titik Balik

Tampaknya tak ada yang bisa membuat Benjamin Mee merasa cemas. Semua tantangan dan petualangan ia sambut dengan gembira. Ia merasakan adanya kenikmatan ketika memapar diri ke tengah bahaya. Dan demi itu, ia harus mengabaikan banyak hal; keluarganya, masa depan mereka, termasuk masa depannya sendiri. Sampai ketika suatu peristiwa tak terduga terjadi, ia harus tergagap-gagap menyambut perubahan. Istrinya mati muda, meninggalkannya beserta dua anak mereka.

Duka yang membuntuti berpengaruh pada kinerja Benjamin. Perusahaan tempat ia meniti karir dan mendapatkan petualangan memutuskan untuk tidak mempekerjakannya lagi. Putra sulungnya yang menginjak usia remaja dan sudah berpikir kritis tidak mudah diajak bicara, karena selama ini mereka berdua memang jarang bertemu. Sang ayah lebih sering meninggalkan rumah. Sedang si putri bungsu masih lebih mudah dikendalikan, karenanya gadis kecil ini justru mempunyai kuasa lebih besar untuk mempengaruhi keputusan-keputusan ayahnya. Termasuk salah satunya adalah keputusan untuk berpindah rumah, meninggalkan rumah lama yang tetangganya suka gaduh itu.

Rumah di luar kota yang hendak mereka beli ternyata bukan sekedar tempat tinggal, tapi sebuah komplek kebun binatang yang tak beroperasi lagi. Jika Benjamin benar-benar membelinya, itu berarti ia bertanggung jawab untuk menghidupkan kembali kebun binatang itu dengan sisa koleksi satwa dan kru yang masih bertahan. Tanggung jawab–apa pun bentuknya–nyaris tidak ada dalam kamus kehidupan Benjamin. Ia berniat untuk membatalkan keputusan membeli kebun binatang itu ketika putrinya tampak riang bermain-main bersama kerumunan burung merak. Pemandangan menggemaskan itu akhirnya memaksa Benjamin untuk menyambut sebuah tanggung jawab besar.

Mengelola kebun binatang sama sekali hal baru bagi Benjamin. Ia tak tahu apa yang mesti dikerjakan. Jika ada kesamaan antara pekerjaan barunya dengan kebiasaan lama hanyalah rasa petualangan, yaitu menempuh proses tanpa pengetahuan pasti tentang apa yang bakal dijumpai. Terikat di satu tempat juga bukan kesukaannya. Belum lagi perlawanan putra sulung yang merasa diabaikan dan dipisahkan dari teman-teman lama di kota. Jika semua itu belum cukup menyempurnakan masalah, masih ada lagi kerepotan dari seorang birokrat yang sangat cerewet soal teknis perkebunbinatangan. Standar minimum yang ditetapkan undang-undang tak mungkin dipenuhi oleh Benjamin yang hanya punya dana cekak.

Kisah nyata ini diangkat ke layar lebar, dengan tokoh utamanya diperankan oleh aktor Matt Damon. We Bought a Zoo, demikian judul film ini, berakhir dengan cerita bahagia. Kebun binatang itu berhasil dihidupkan kembali dengan memenuhi standar yang ditetapkan, dan diberi nama Dartmoor Zoological Park. Masyarakat berbondong-bondong bertandang di hari pembukaan. Bahkan sebelum kredit akhir muncul di film itu, dituliskan bahwa kebun binatang Dartmoor sempat memperoleh penghargaan sebagai kebun binatang dengan sistem terbaik, dan dikagumi di seluruh dunia. Prestasi ini mengejutkan, mengingat Benjamin tidak memiliki dasar pengetahuan tentang manajemen maupun zoologi, apalagi rasa suka.

Titik perubahan tergambarkan dari bagaimana putri bungsu tampak sangat menyukai hidup di tengah-tengah satwa, sementara Benjamin menyadari sisa hidupnya adalah bagi kedua anaknya, bukan untuk dirinya sendiri lagi. Berkat kesadaran ini ia bersedia bersusah payah mengikuti kesenangan putrinya. Sedang perubahan pada putra sulung yang sempat memberontak adalah dengan menemukan kenyamanan dalam lingkungan barunya, yaitu teman gadis yang sangat perhatian, dan karya sketsanya, berupa gambar wajah harimau, dipilih Benjamin untuk dijadikan logo Dartmoor Zoological Park. Remaja laki-laki itu merasa sangat dihargai.

Masalah dana yang sebelumnya membelenggu, terurai dengan ditemukannya simpanan uang pada tabungan mendiang istri. Inilah keberuntungan Benjamin terbesar dalam menikahi istrinya. Jalan hidupnya selama ini sesungguhnya rapuh. Ia teledor dalam berbagai hal karena menghabiskan waktu untuk petualangan. Sang istri yang menyadari betul potensi petaka dalam rumah tangganya segera mempersiapkan perahu sekoci untuk penyelamatan di hari naas. Tapi sayang, perempuan cerdas itu harus lebih dahulu meninggalkan bahtera kehidupan, yang justru mengantar suaminya menjadi orang yang lebih baik.

***

Terperosok ke dalam lingkungan kerja yang baru, tanpa diharapkan, tanpa rasa suka, tanpa dasar ketrampilan maupun pengetahuan, inilah masalah terbesar bagi Benjamin Mee dalam film We Bought a Zoo ini. Entah diakui atau tidak, kita barangkali juga pernah–atau malah sedang–berada dalam situasi yang sama. Tapi Benjamin berhasil melewati masalahnya. Ia mengalami titik balik di mana ia menjadi terpikat oleh pekerjaan barunya itu, dan kemudian bersedia menguasai segala pengetahuan yang diperlukan. Lebih dari itu, ia bahkan meraih prestasi di sana. Sedangkan kita mungkin belum cukup meyakinkan diri bahwa titik balik bakal mendatangi kita juga. Ketidakyakinan ini membuat kita menyerah sejak dari awal; menghindari satu jenis pekerjaan semata-mata karena tidak suka.

Setiap orang tentunya mengharapkan jalan hidup yang mudah, pekerjaan yang menyenangkan, sesuai hobi, memikat sejak dari kesan pertama, dan mendapat bayaran yang banyak. Itu adalah mimpi, dan kita berhak punya mimpi. Tapi mimpi juga sering memaksa datang ke dalam tidur tanpa diharapkan, lalu membuat hidup resah sepanjang hari. Pada saat kita bermimpi, kita sebenarnya sedang kehilangan diri. Pikiran mengkhianati badan dengan berkelana di tempat lain, meninggalkan kenyataan yang dihadapi.

Benjamin Mee, sejak kematian istrinya, terbangun dari mimpi petualangannya. Ia dipaksa menghadapi kenyataan, bahwa ia punya dua anak yang harus dibesarkan. Ia memutuskan untuk lebih mendengarkan anaknya, alih-alih tetap bertahan mencari petualangan di luar sana. Dan ia juga menyambut keterikatan pada sebuah tanggung jawab untuk menghidupkan kebun binatang yang nyaris tutup itu. Keputusan-keputusan ini sebenarnya di luar kesukaan dia. Tapi ia bersedia berpisah dari kesukaan, dan lalu memeluk kenyataan, yang meski baginya getir.

Di masyarakat Jawa ada ungkapan witing trisnà jalaran sàkà kulinà. Rasa suka tidak mesti datang sejak dari mula, tapi terbangun perlahan-lahan bersama proses panjang. Dalam proses itu, satu per satu kesenangan ditemukan, dan kemudian ditegaskan lagi dengan pikiran. Dalam teori psikologi, mungkin ini termasuk mekanisme pertahanan diri yang disebut reaction formation, atau pembentukan reaksi. Ego yang terhimpit tuntutan super-ego akhirnya membuat keputusan untuk menuruti saja tuntutan itu, hanya saja–dalam konteks ini–dengan sikap positif. Sehingga lambat laun, apa yang semula dirasa membebani akhirnya dirasa menyenangkan.

Kebanyakan dari kita, berakhir di tempat kerja yang sekarang ini–entah sebagai karyawan, buruh, guru, dll.–pada mulanya bukan karena cita-cita. Kita bekerja di suatu tempat sering kali bukan karena kita mengidam-idamkannya sejak masih kecil. Mungkin dulu kita bekerja hanya karena untuk menghentikan tangis anak-anak dan omelan istri. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Yang salah, menurut saya, adalah ketika kita sudah bekerja dan mendapat bayaran, kita tidak kunjung mencintai pekerjaan itu, dan masih saja membiarkan mimpi menyandera kesadaran. Sedangkan titik balik bakal datang setelah adanya kesadaran itu.

Benjamin Mee membuktikan, bahwa melewati rasa tidak suka yang sudah menghadang sejak di depan, menyadari dan memeluk kenyataan, pada akhirnya memberi dia kebahagiaan dan prestasi.

2 comments

Leave a Reply to Sabar Subadri Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s