Pengrajin Sepatu

Kios yang hanya seukuran tiga kali tiga meter itu penuh dengan banyak perabotan. Sebuah meja diletakkan di sisi yang berseberangan dengan pintu. Permukaannya sudah tak kelihatan lagi karena botol dan kaleng lem berebut tempat bersama lembaran karet dan kulit yang sebentar lagi akan dipotong-potong. Gunting dan pisau lengkap dengan gerinda asahannya juga turut berjubelan di sana. Sedang di kolongnya, bertumpukan model kaki manusia yang terbuat dari kayu dengan berbagai ukuran. Sekilas melirik ke kolong itu, rasanya seperti menyaksikan film horor dengan adegan mutilasi.

Pada dinding sebelah kiri, sebuah etalase kaca diberi tugas untuk menampilkan koleksi hasil karya sang pengrajin. Meski tugas itu tampaknya tidak begitu berhasil karena sempat diganggu oleh kehadiran debu yang membekaskan warna tak terawat pada dinding kaca dan rangka alumuniumnya. Sedang di tengah ruang, terjepit oleh sesak, adalah mesin jahit bermerek Butterfly yang disambungkan ke motor listrik. Tampaknya lama tak terpakai; tak ada gulungan benang yang terpasang. Untuk sementara, permukaan rata dari mesin jahit itu masih bisa digunakan untuk meletakkan bekal makan siang, serta satu botol bekas kemasan air mineral yang diisi air rebusan dari dapur sendiri. Air itu kini tinggal sedikit tersisa.

Lantai tegel kusam di bawah memiliki fungsi selain sekedar alas, yaitu untuk menaruh benang-benang yang kelihatan kusut dan lusuh, tapi mungkin tetap terorganisir rapi di benak pemiliknya. Dua pasang sandal dari para pelanggan juga mengantri di sana untuk sekedar dilem atau dijahit lagi. Dinding yang catnya mulai banyak mengelupas memiliki satu-satunya hiasan, yaitu kalender triwulan yang belum disobek, masih menampilkan bulan kemarin. Mungkin karena gambar fotonya tampak lebih menarik.

Sebuah dingklik plastik disediakan di samping pintu sebagai bentuk keramahtamahan bagi pelanggan. Pengrajin itu sendiri duduk di dingklik lain, di dekat meja kerja yang nyaris tak menyisakan ruang lagi itu. Dengan otot tangannya yang berumur paruh baya, ia menusukkan jarum besi menembus alas sandal, lalu mengait benang melewati lubang yang terbentuk oleh jarum tadi. Sementara itu, tergeletak di atas meja pada tumpukan paling atas, sepotong karet sedang dikeringkan dari cairan perekat untuk nanti ditempelkan ke alas sandalku. Aku perlu menambah ketebalan sandal sebelah kiri agar jalanku tidak terlalu pincang.

***

Matahari sudah rendah di barat, teriknya kalah oleh mendung. Seorang pelanggan datang ketika sandalnya telah selesai dijahit. Tampaknya ia puas, sambil menyerahkan ongkos dua ribu rupiah. Pelanggan yang lain lagi membayar ongkos yang sama untuk jasa yang sama. Empat ribu rupiah dan dua kali ucapan terima kasih baru diterima oleh pengrajin itu pada hari yang sudah rendah. Tapi kupastikan bahwa itu bukan akhir kisah baginya untuk menutup hari. Masih ada sandalku yang belum dirampungkan.

Sembari pengrajin itu bekerja, kutanyakan masa lalunya. Ia pernah bekerja di sebuah pabrik pembuatan sepatu, di dekat ibu kota. Baginya, bekerja sebagai buruh kala itu bukan sekedar melanjutkan nafas dengan penghasilan, tapi juga untuk pembelajaran. Ia memastikan dirinya memahami betul apa yang dikerjakannya. Ia mempelajari teknik dan material pembuatan alas kaki. Ia bisa merekatkan dua bahan tanpa khawatir akan lepas lagi, karena ia tahu lem dan cairan kimia apa yang tepat untuk digunakan, serta bagaimana prosedurnya. Ia kuasai teknik dari membuat desain hingga mewujudkannya menjadi sepasang sepatu cantik. Selama bekerja di pabrik itu, ia menegaskan dirinya sebagai manusia yang memiliki alat kesadaran dan daya kreatifitas, bukan sekedar mekanisme produksi belaka.

Maka ketika guncangan ekonomi memaksa manajemen pabrik melakukan perampingan, ia bisa bertahan hidup di desa. Ia tahu apa yang mesti dilakukan sebagai tanggung jawab dari hidup yang masih dimilikinya. Sebelum kios itu, ia sudah lama merintis dari trotoar di pojok pasar. Perubahan akhirnya tercapai perlahan, asal rela memiliki gaya hidup yang sederhana saja.

***

Kios kecil dengan perabotan berserakan, sekilas tampak seperti tak ada kepastian. Pelanggan satu dua orang sehari, juga tak memastikan besaran rejeki. Tapi ada satu yang pasti di sana, bahwa pengrajin sepatu itu mencintai pekerjaannya. Dan itu memberinya rasa keterpenuhian dalam hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s