Karya yang Bicara*

Your works will speak for yourselves,” demikian Presiden AMFPA menegaskan dalam konferensi itu, Jumat 4 Mei, di Singapura. “Karyamu yang akan bicara mewakili dirimu.” Kalimat singkat ini juga berbicara lebih banyak dari kata yang diucapkan. Seorang seniman tak perlu merajuk terlalu mengenaskan agar karyanya diapresiasi. Ia juga tak perlu menggembar-gemborkan diri sebagai seseorang yang bukan dirinya untuk memunculkan kesan seolah ia sudah tiba pada pencapaian. Kualitas karya adalah realita dari diri seniman itu sendiri.

Ketika seorang pelukis tidak sanggup mempercayai karyanya sebagai perwakilan diri, sebagai medium ekspresi dan atau komunikasi, ia akan mulai membangun hiperrealitas lewat omongan. Ia akan bicara keras-keras untuk mengalihkan perhatian orang dari lukisannya, agar perhatian itu lebih tertuju pada dirinya. Ia akan terus bertanya dalam kesempatan tanya jawab, ia akan bermonolog dalam setiap diskusi, dan ia akan berceloteh pada saat bunyi goresan kuas yang seharusnya hanya terdengar. Ia ingin hadir mendahului lukisannya, karena bawah sadarnya merasa lukisannya belum layak diapresiasi. Ia enggan untuk menaruh lukisan itu di depan karena ia tidak tahu bagaimana membuat karyanya menjadi layak dikedepankan.

Dua puluh tahun silam, mendiang guru saya bercerita. Ia pernah mendengar tudingan keras dari para kolektor dan pemerhati seni bahwa karya-karya lukis dari para pelukis di daerah asalnya hanya memburu kuantitas. Sedang kualitasnya hanya sekelas barang industri. Guru saya merasa perlu melakukan pembelaan. Tapi alih-alih beradu mulut, ia mengurung diri di dalam kamar kosnya selama tujuh hari berturut-turut, dan hanya keluar untuk kebutuhan dasar. Pada hari kedelapan, ia mengakhiri pengurungan diri itu dengan membawa keluar sebuah lukisan. Satu pekan penuh itu ia gunakan untuk berkarya, membuat lukisan yang nilai artistiknya tak bisa lagi disangkal oleh para pengkritik itu. “Ini baru karya!” begitu guru saya menirukan komentar orang-orang yang dengan takjub melihat lukisannya.

Dari kisah ini saya belajar bahwa seorang pelukis harus mendelegasikan kepercayaan kepada setiap karya yang dibuatnya sebagai juru bicara. Lukisan yang berbobot, bagus dalam teknik maupun isi, akan serta merta menunjukkan jati diri pelukisnya. Sehingga kemudian pelukis itu tak perlu lagi repot-repot membuat mulutnya berisik agar kepala setiap orang berpaling ke arah dirinya. Kalaupun ia harus bicara, ia akan bicara tentang lukisan itu untuk menyelami kedalamannya, bukan malah menampakkan kedangkalan diri sendiri.

***

Biarlah karya yang bicara. Prinsip ini diberlakukan dengan tegas dalam komunitas pelukis mulut dan kaki. Jenjang karir di dalam AMFPA Internasional hanya bisa ditapaki lewat setiap peningkatan mutu lukisan, yang penilaiannya dilakukan oleh para juri yang independen dan objektif, yang terdiri dari para praktisi dan akademisi, yang tidak akan gampang terpukau oleh gebyar dan manisnya diplomasi persuasif, apalagi oleh guyonan perempatan jalan.


Konferensi Anggota AMFPA di Singapura

* Ungkapan ‘karya yang berbicara’ di sini tidak hendak saya oposisi binerkan dengan perlunya pelukis untuk berbicara tentang gagasannya dalam berkesenian. Jika saya punya prinsip bahwa lukisan dengan sendirinya bakal berujar banyak tentang nilai instrinsiknya, maka blog ini pun tidak akan saya buat.

7 comments

    1. Alaikumsalam. Hai, Aliah.
      Nice to meet you in the conference. I hope we can practice painting together. I myself am still learning, and keep learning. I see your painting in the catalog. It is well done, and beautiful.

      Thank you for visiting my blog, anyway 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s