Tumasik

Ketinggian delapan lantai di balkon Hotel Marina Mandarin ini belum cukup membendung raungan kota di bawah sana. Deru mesin dan knalpot tak putus di sepanjang jalan, tersembur dari mobil-mobil mewah yang melaju dengan kecepatan rata-rata di atas 70 kilometer perjam. Audi, Mercedes, BMW, dan bahkan Ferrari mengalir deras tanpa hambatan meski bukan di jalan tol. Waktu adalah uang; mereka tak ragu mengungkapkannya.

Raungan itu sendiri sebenarnya sebentuk pembendung dari kebisingan yang lain; kebisingan yang sangat mengganggu bahkan untuk disimpan di rongga kepala sebagai ingatan. Yang telah lalu itu selayaknya dilupakan, karena perjuangan untuk mencapai perubahan sudah begitu mahal dibayarkan. Semua pengorbanan hanya akan sia-sia jika luka lama masih harus dikuak-kuak lagi.

Namun di antara luka-luka masa lalu itu, masih ada keindahan untuk diabadikan.

Nama Sir Thomas Stamford Raffles adalah salah satu keindahan itu. Pria Inggris visioner ini, pada 1819, berhasil menyulap Pulau Ujung yang kumuh dan tak bernilai ekonomis menjadi tempat penting bagi suksesnya perdagangan masyarakat Eropa, China, dan Arab. Kapal-kapal dagang yang hendak mengusung hasil bumi dari kepulauan Nusantara tak bisa tidak melewati pulau ini dalam rute pelayarannya. Raffles membangun pelabuhan di sana–setelah kerja sama politik yang manis dengan penguasa setempat–yang kemudian praktis merubah pola ekonomi masyarakat lokal, dari sekedar penjala ikan menjadi pedagang. Modernitas telah dilahirkan. Populasi segera meningkat, pulau ramai dihuni pendatang.

Kepemimpinan Raffles tak tertandingi. Dan itulah justru masalahnya. Setelah kepergiannya, luka-luka segera tergores di pulau yang baru saja mau bangkit ini. Perseteruan di tingkat bawah berdasar bentuk fisik mengacaukan segalanya; dan berlangsung lama. Luka yang lain tergores lagi ketika negeri dari Timur menginvasi wilayah kepulauan, pada Perang Dunia II. Kehancuran yang ditimbulkan perlu waktu yang lama untuk pemulihan.

Kemerdekaan di tahun 1965 belum serta merta membawa tatanan yang rapi, kecuali harus ada pemimpin lain lagi yang cukup berani berhadap-hadapan langsung dengan sumber kekacauan. Di saat inilah masyarakat membayar mahal untuk sebuah peradaban maju. Dan mereka berhasil bangkit bersama pemimpinnya, meninggalkan keterbelakangan peradaban di belakang waktu–untuk dilupakan.

***

Saya berada dalam rombongan pejalan kaki, menyeberangi Raffles Boulevard menuju Suntec City Auditorium. Sesungguhnya dalam rombongan sekitar seratus orang itu yang benar-benar berjalan dengan kakinya tak lebih dari separuh, karena sebagian besar duduk di dalam kursi rodanya masing-masing, didorong oleh orang yang menyayangi atau oleh mesin bertenaga aki.

Mobil-mobil dihadang oleh petugas. Mereka berhenti sejak lima belas meter dari titik penyeberangan kami; memberi ruang yang terasa sangat aman untuk memindahkan badan–yang meski tidak komplit. Setelah seluruh rombongan tiba di sisi lain dari jalan itu, mobil-mobil yang tertahan segera melaju kembali. Jangan tanya seberapa kecepatannya. Sikap buru-buru yang selalu didemonstrasikan tidak membuat masyarakat kehilangan semangat berbagi kesempatan.

Di belakang hotel adalah The Esplanade Concert Hall. Kompleks gedung pertunjukan ini–dan hampir setiap gedung lainnya–memberikan ruang bagi pejalan kaki untuk melintas dalam rute yang singkat–semacam short-cut, sehingga untuk tiba di bibir Marina Bay Reservoir tak perlu menempuh rute memutar. Setiap perjalanan terasa sangat nyaman, karena semua ruas jalan dibuat selalu bersahabat bagi pejalan kaki, dan bahkan pengguna kursi roda. Trotoar tak pernah dibangun dengan ketinggian mencapai sepuluh centimeter, karena semua menyadari bahwa kendaraan bermotor sudah memiliki lajurnya sendiri. Pohon-pohon trembesi yang ditata rendah adalah sahabat yang lain lagi. Daun yang rimbun pada ranting yang mengembang menahan sinar matahari, mengurangi hawa panas dari pulau yang tak memiliki gunung ini.

Di manapun tempat, hanya pohon yang boleh menyampah–dengan menggugurkan daun. Tangan manusia tak akan melakukan hal sama karena otak yang memerintah tangan itu sudah bersih wataknya, meski diawali dengan ancaman denda yang tak mengenal toleransi. Sekali lagi, di negeri ini hitung-hitungan uang bukan hal tabu.

***

Singapura lebih banyak menatap ke depan. Langkah-langkah kaki yang rikat, laju kendaraan yang kencang, sarana umum yang terotomatisasi, dan transportasi massa dengan kapasitas besar seperti MRT, sudah enggan melekat pada masa lalu yang suram. Sejarah ditulis dalam kisah manis di buku-buku yang diperuntukkan guna menyambut turis. Mereka memilih sebagian saja untuk dikenang, yang tak menggetirkan ataupun memupus semangat. Thomas Raffles, Lee Kuan Yew, dan Temasek–dari kata Tumasik yang tertulis dalam Kitab Negara Kertagama–adalah beberapa dari pilihannya.

Tapi… hanyut dalam gerak yang serba cepat dan otomatis itu, saya khawatir warga Singapura lupa untuk menikmati apa yang telah mereka bangun selama ini, tak sempat memandangi indahnya pakis di batang trembesi itu.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s