Cinta Kerja

Demo lukis telah saya rampungkan, bukan karena lukisannya jadi tapi karena jatah waktu untuk demo itu sudah habis. Pengunjung disuguhi pertunjukan lain. Saya mempunyai kesempatan untuk melihat-lihat kerajinan yang dipamerkan di aula itu. Setelah letih berjalan, saya duduk di sebelah seorang laki-laki, yang sebelumnya telah memperkenalkan diri sebagai pengukir. Saya masih sangat belia dan pemalu untuk bercakap-cakap dengan orang yang berumur jauh di atas saya. Karena itu saya lebih banyak diam.

Tak berapa lama kemudian pria itu berkata, “Sejak tadi aku memandangi kaki meja itu,” ia menganggukkan kepala ke arah meja tak jauh di depan kami duduk. Saya tahu pria itu memang terus memandangi meja tempat barang kerajinan ditata, saya menangkap gerak-geriknya dari sudut mata. Saya kira hanya kebetulan, tapi ternyata memang ada kesengajaan.

Saya tolehkan kepala ke arahnya sebagai isyarat untuk menunggu kata-kata berikutnya. Ia pun melanjutkan, “Dan rasanya aku mau pulang untuk mengambil perkakas kerjaku, lalu aku ukir kaki meja yang polos itu.”

Saya memberi tanggapan dengan senyuman dan kerutan alis sebagai wujud rasa penasaran. Tak sampai dua detik untuk menunggunya melanjutkan kalimat. “Setiap kali aku melihat kayu yang polos seperti itu, aku selalu merasa gatal ingin mengukirnya. Rasanya sayang banget kalau harus membiarkannya tanpa dipercantik. Pasti kamu juga begitu; setiap kali lihat kanvas kosong, pasti kamu ingin melukisinya.”

Kalimat yang terakhir ini bagi saya terdengar lebih seperti pertanyaan ketimbang permintaan kesetujuan. Saat itu saya baru mau beranjak remaja, yang masih ingin bersenang-senang saja dalam hidup. Pekerjaan saya lakukan lebih karena tuntutan, belum ada dorongan dari dalam. Lalu kata-kata pengukir tadi seperti mempertanyakan sikap saya terhadap pekerjaan yang telah saya lakoni. Apakah saya mencintainya? Apakah saya menikmatinya? Apakah saya mensyukurinya? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berlanjut, dan terhimpun dalam satu pertanyaan besar: apakah kelak saya juga akan tiba pada situasi seperti pengukir itu?

Sekarang di umur saya yang sudah berbilang 33 ini saya bisa memberikan jawaban “iya” untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Ternyata perlu proses yang melekat pada waktu yang panjang untuk tiba pada situasi ini. Tapi untuk meringkasnya saya akan menyebutkan dua kata kunci, yaitu savoring dan reflecting.

Savoring

Ketika sesendok tumis kangkung sudah masuk ke rongga mulut, kita akan segera merasakan sekian macam cita rasanya; asin, gurih, sedikit manis, atau bahkan sedikit pedas, dan lain-lain. Kita rela berlama-lama menyediakan waktu untuk mengunyah makanan lezat. Tapi bagaimana dengan pekerjaan?

Kita sering berlaku tidak adil, yaitu melakukan pekerjaan dengan sikap ‘asal cepat rampung, pokoknya nanti dapat bayaran’. Sikap seperti ini membuat kita terasing dari pekerjaan itu, dan konsekuensinya, hasil pekerjaan itu bermutu rendah. Jika sudah demikian, tak perlu waktu lama bagi siapa pun untuk segera menyadari bahwa kita sebaiknya tidak dipercaya lagi untuk memegang jenis pekerjaan tadi.

Savoring atau menikmati–seperti saat mengunyah makanan–mestinya juga terjadi pada saat kita bekerja. Savoring berarti ada keterlibatan erat antara diri kita dengan proses pekerjaan itu. Keterlibatan ini adalah dalam bentuk kesadaran pada tingkat detil dari yang kita kerjakan, dan lalu mengapresiasinya hingga memunculkan emosi yang positif.

Saat saya melukis, saya memperhatikan setiap goresan cat yang muncul pada kanvas. Kemudian saya merasa takjub dengan kekuatan alam yang disebut adesivitas, atau tarik-menarik antara molekul yang berbeda, yang mengijinkan cat itu berpindah dari kuas menuju kanvas dan lalu lekat di sana selamanya. Rasa takjub ini membuat saya ingin terus mengulang proses itu, dan secara keseluruhan membuat saya merasa betah dengan apa yang saya kerjakan. Demikian juga saat saya mendapati warna yang berganti saat saling bercampur, dan aspek-aspek lain dalam seluruh proses melukis.

Setiap jenis pekerjaan selalu memiliki bagian tertentu yang jika kita perhatikan dengan seksama akan kita temukan keasyikannya. Menemukan keasyikan, inilah kunci awal untuk mencintai pekerjaan, seperti menemukan rasa lezat dari sesendok tumis kangkung tadi. Seorang tukang kayu boleh saja merenungi sebatang kayu yang bersedia dipotong-potong, pasrah di mata gergaji. Bagaimana jika kayu itu menolak untuk dipotong?

Savoring bukan berarti bahwa setiap proses harus dikerjakan dengan perlahan-lahan. Tangan, kaki, dan seluruh badan bisa saja bergerak cepat untuk bekerja. Tapi ketika pikiran juga bekerja lebih cepat lagi–untuk menyadari dan mengapresiasi proses itu–maka gerak tubuh yang cepat pun bisa terasa seperti dalam slow motion. Ini seperti teori relativitas, di antara dua objek yang sama-sama melaju, objek yang lebih cepat akan tampak bergerak relatif terhadap objek yang lambat. Almarhum Affandi mengandalkan kecepatan untuk mencipta sebuah karya, dan ia tetap menikmati proses itu. Tampak dari hasil karyanya, kan?

Savoring mengisyaratkan keutuhan diri yang terdiri dari badan, roh, dan jiwa. Badan dan roh yang hadir di tempat kerja tetap didampingi oleh jiwa di tempat yang sama. Pikiran tidak memberontak untuk lari menuju tempat lain, tempat di mana badan tidak sedang berada. Dengan demikian perasaan turut bertahan di sana.

Reflecting

Suatu ketika, belasan tahun silam, ada seseorang yang merekam saya saat sedang melakukan demo lukis, dengan handycamnya. Beberapa bulan kemudian saya berkesempatan melihat rekaman video itu. Saya bukan seorang narsisistik yang suka memandangi citra diri dalam sebuah video, tapi ketika saya menyaksikan diri saya sedang bekerja, menggoreskan warna-warna, tiba-tiba saya ingin bergabung di sana untuk ikut melukis. Ini perasaan yang aneh, karena saya sendiri merasa jenuh saat melukis dan direkam itu.

Dalam banyak film, saya sering mendapati adegan orang-orang yang sibuk bekerja. Di film itu aktivitas bekerja tampak begitu menarik. Demikian juga ketika dituturkan seorang penulis di dalam novel. Tapi di ruang-ruang kerja yang nyata, saya dapati orang-orang dengan wajah muram dan seperti hendak kabur dari tempatnya.

Semua ini memberi saya pelajaran bahwa ketika kita mengambil jarak dari suatu aktivitas, melihat diri sendiri yang sedang bekerja dari luar sana, dapat memberi kita perasaan positif terhadap aktivitas itu. Tindakan seperti ini disebut berefleksi. Berefleksi tidak harus menggunakan teknologi video, ataupun cermin. Tapi secara cerdik kita bisa menggunakan kata-kata seperti para penulis novel bekerja. Misalnya pada saat saya bekerja, saya bisa berkata pada diri sendiri dalam batin, “Batang kuas yang kupegang terasa seperti menyambut jari-jariku. Ia tunduk mengikuti arahanku untuk mengaduk tiga warna berbeda si papan palet, menghasilkan warna baru yang cantik. Tugas yang kuberikan sekarang adalah memindahkan warna itu ke wajah kanvas yang rata.”

Membuat narasi seperti ini, yang mengikuti gerak kerja, dapat membantu menciptakan mood yang baik untuk terus bekerja. Dengan bernarasi seperti itu, saya melahirkan diri saya kembali di dalam pikiran, lalu saya menarik diri menjadi pengamat atas diri saya yang sedang bekerja itu. Saya mengambil jarak dari aktivitas justru untuk lebih menyatu dengannya. Ini memang paradoksal. Jarak yang dilahirkan lewat sebuah refleksi berguna untuk memisahkan saya dari rasa jemu dan tekanan lainnya. Dari kejauhan itu, saya dapat memilih untuk memberi perhatian pada yang positif saja, sambil mengaburkan yang buruk.

Jika membuat narasi seperti contoh di atas tidak cukup berhasil melahirkan jarak, yang saya lakukan kemudian adalah tidak berpikir saat beraktivitas, membiarkan badan bekerja sendiri. Ini terdengar lebih sulit atau bahkan mustahil. Tapi para praktisi meditasi tentu bisa memahami maksud saya.

***

Reflecting memiliki watak yang berbeda dari savoring. Reflecting mengambil jarak dari kegiatan, sedang savoring merangsek ke dalamnya untuk mencari titik-titik keasyikan. Keduanya, bagi saya, terbukti mengantar pada rasa cinta terhadap pekerjaan. Dan pekerjan yang dilakoni dengan cinta, somehow, bakal memberikan hasil balik lebih dari sepadan, berupa peningkatan mutu, prestasi, dan yang paling utama: kebahagiaan. Saya patut berbagi kabar gembira, bahwa dengan kesungguhan saya bekerja sebagai pelukis di Yayasan AMFPA, saya berhasil menapaki jenjang kedua pada tahun 2011 kemarin, yaitu Associate Member; setelah dua puluh tahun lamanya berjuang dalam jenjang pertama, Student Member. Perjuangan 20 tahun itu, sekali lagi, adalah dengan savoring dan reflecting dalam berkarya.

Dengan savoring, saya memasuki masa romantisistik di usia remaja. Perasaan yang meledak-ledak, dan haus akan sensasi itu mencoba mencari pelampiasan. Melukis sebagai satu-satunya kemampuan saat itu menjadi pilihan. Saya melukis gunung meletus, terdorong dan terinspirasi oleh dahsyatnya film Volcano dan Dante’s Peak. Selama proses pembuatan lukisan itu saya sambil berimajinasi berada dalam lingkungan yang saya lukis, juga membuat bunyi-bunyian layaknya suara ledakan dan gemuruh. Untuk sekarang tentu saja saya akan merasa seram dan takut membayangkan diri berada di bawah serbuan wedhus gembel, tapi saat itu saya merasa seru dan penuh tantangan. Memang seperti itulah romantisisme.

Merapi's Peak

Merapi’s Peak, 1997

Puas dengan proses dan hasil dari lukisan gunung meletus itu, saya segera menyadari bahwa melukis memberi saya keasyikan dalam hidup. Melukis bukan sekedar tuntutan pekerjaan yang menjemukan, tapi justru menjadi wisata batin. Kesadaran seperti ini mendorong saya untuk lebih meningkatkan keterampilan dalam melukis. Eksperimentasi teknis dan penjelajahan ide saya lakukan.

Masa romantisisme saya masih berlanjut hingga paruh pertama umur dua puluhan, namun bukan lagi dalam emosi yang meledak-ledak, melainkan mellow. Lukisan saya berganti objek, berupa gadis yang berdiam sunyi di kebun bunga.

Spring Solitude, 2004

Spring Solitude, 2004

Enam tahun terakhir ini saya berubah menjadi seorang realis. Lukisan saya bukan lagi luapan perasaan, yang ketika mengerjakannya membawa rasa keasyikan. Lukisan seorang realis adalah lukisan yang mengambil jarak dari perasaan pelukisnya. Pelukis realis tidak hendak mengantarkan diri lewat lukisannya, tapi mengantarkan objek lain kepada audien lewat lukisan itu. Karena itu, melukis bagi seorang realis adalah bekerja dengan berefleksi, mengambil jarak dari diri sendiri.

Melukis bagi saya saat ini bukanlah ekspresi diri–seperti masa remaja dulu, tapi komunikasi. Saya hendak menyampaikan sebuah realita di luar sana dengan bahasa visual. Citra rupa dalam lukisan adalah tanda bahasa. Dan karena saya tidak ingin membuat orang bingung dalam menangkap pesan yang saya sampaikan, saya memilih tanda bahasa yang mudah dan sama-sama dimengerti, yaitu objek-objek alam.

Endless Flow, 2010

Endless Flow, 2010

***

Bekerja dengan berefleksi memang lebih meredam aspek emosi. Tapi bukan berarti tidak ada gairah dalam proses pengerjaannya, bukan berarti tak ada rasa cinta terhadap hasil karyanya. Hanya pikiran analitis yang lebih mendominasi. Seperti pengukir itu tidak benar-benar pulang untuk mengambil pahat dan mengukiri kaki meja milik orang, karena ia tetap menggunakan nalarnya.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s