Shugyosha

Pengembaraan Musashi telah lama dikuntit, sejak sebelum pertarungannya dengan Haiken. Langkah penguntit itu ringan tapi rikat, menandakan langkah milik seorang bocah. Musashi tak menggubrisnya seandainya tak ada topeng seram yang dibawa bocah itu. Bahkan duel dengan Haiken juga tak banyak menyita waktu dan energi. Pengembaraan itu nyaris tak terjeda, kecuali oleh seorang Bhiksu tua yang sanggup membuat Musashi berlutut sepenuh hati. Bhiksu itu menunjuk dengan telak di mana titik kelemahan Musashi, cukup dengan kata-kata; bukan pedang.

Sejak itu Musashi bertekad untuk selamanya menjadi shugyosha, seorang murid abadi, pencari ilmu, tanpa membatasi siapa yang bakal menjadi guru; tidak pula berhasrat menjadi samurai. Musashi yang ini telah mengalami proses pembelajaran yang lama. Tiga tahun sudah ia dikurung dalam kamar sempit di istana Himeji bersama teks-teks kebijaksanaan yang telah terjilid dalam buku-buku. Adalah pendeta Buddha bernama Takuan yang telah berjasa mengantar Musashi ke sana lewat jebakan yang manis. Tiga tahun itu, Musashi harus melewati hari-harinya hanya bersama lembaran tulisan, terpisah dari pedang dan lawan. Dan ia keluar dengan pribadi yang telah tertransformasi. Karena itu, nasehat Bhiksu tua di pinggir jalan bukanlah sekedar bunyi derau yang layak diabaikan.

Ketika kembara dilanjutkan, bocah penguntit itu memaksa mengajak bicara. Jotaro, demikian bocah itu memperkenalkan diri, telah ditinggal mati orang tuanya dalam perang besar. Ia lalu bertekad untuk menjadi samurai dalam sisa hidupnya yang masih panjang. Untuk itu ia perlu belajar ilmu pedang. Seorang guru telah ia tetapkan: Musashi dari Miyamoto, yang tak terkalahkan itu.

Bagaimana tanggapan Musashi? Mempunyai murid adalah sebuah godaan besar. Seseorang bisa saja berbangga diri dan menuntut kredit dari siapa pun atas pencapaian itu, “Hei, aku sudah menjadi guru! Aku seorang yang hebat!” Dan lalu proses belajar pun tersudahi, tak peduli berapa banyak ilmu masih belum terkuasai. Musashi agaknya sadar betul atas bahaya kepongahan semacam itu. Ia menolak Jotaro–dan siapa pun juga–untuk menjadi muridnya. Ia sendiri masih perlu banyak belajar.

Namun pada akhirnya Musashi menjadi guru juga, bukan semasa ia masih hidup, tapi setelah kematiannya. Ia menginspirasi banyak orang dari berbagai latar belakang budaya dan profesi lewat kitab lima gulungan yang sempat ia tulis. Kita mendapati paradoks di sini, bahwa seorang yang menolak menjadi guru justru menjadi guru besar sepanjang masa.

***

Menetapkan diri menjadi shugyosha (murid) berarti rela untuk tidak menyandang atribut kehormatan, rela tak menikmati privilese yang ada pada guru. Guru adalah orang yang bisa memandang murid-muridnya berada di level lebih bawah, demi adanya selisih pengalaman dan pengetahuan. Dan atas situasi seperti ini, guru justru berada pada kondisi yang rawan. Ia bisa merasa telah sampai pada puncak pencapaian, yang pada kenyataannya murid kelak malah bisa melesat lebih jauh melampaui gurunya. Menetapkan diri selamanya sebagai shugyosha saja, bagi Musashi adalah menghindari bahaya seperti ini.

Dalam sistem pendidikan modern, kita diperkenalkan pada atribut pencapaian akademis berupa gelar kesarjanaan. Saya menghindari gelar ini, sebab saya melihat bahwa gelar sarjana sering kali lebih menunjukkan akhir dari proses pencarian ilmu, alih-alih tanda dari terkuasainya ilmu. Kita bisa membuktikannya dengan bergaul cukup jenak bersama seorang penyandang gelar sarjana. Jika kita tidak mendapatkan pengetahuan lebih setelah pergaulan itu, kita tahu apa artinya.

***

Tiga tahun terkurung di istana Himeji bersama buku-buku mengantar Musashi pada transformasi diri. Seperti ini pulalah mestinya tugas mahasiswa dan sarjana di jaman sekarang. Empat tahun berkubang dalam teks seharusnya lebih dari cukup untuk menyulap diri menjadi lebih baik dan siap menghadapi dunia. Buku adalah kehidupan yang dipadatkan oleh para penulisnya. Mengutip dan menggunakan pemikiran mereka: Abraham Maslow, Alfred Adler, Ferdinand deSaussure, Levi Strauss, Ronggo Warsito, Joyo Boyo, dan lain-lain, adalah ikhtiar untuk menjalani hidup yang progressif, bukan sekedar pamer gudang pengetahuan. Teori-teori yang telah dipelajari mestinya bisa digunakan untuk membaca, memperbaiki, dan mengembangkan kehidupan, serta mengatasi masalahnya.

Adalah sungguh memprihatinkan saat kita jumpai sarjana yang lupa akan ilmunya, dan bahkan menuding bahwa berbicara berdasar semua ilmu itu adalah omongan teks-book yang bodoh.

Bukankah adalah tanggung jawab sarjana untuk mencerahkan dan menginspirasi masyarakat di lingkungannya, demi ilmu yang sudah dimiliki?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s