Kaki yang Melukis

Kaki yang Melukis

Apakah pelukis itu? Sebutkan satu definisi, dan kita akan tertinggal bersamanya. Mengartikan kata pelukis adalah sama seperti melukis itu sendiri; proses penciptaan yang suatu saat sempat tiba pada pencapaian, tapi akan disusul lagi oleh proses penciptaan yang lainnya. Ahli bahasa mengatakan bahwa tanda bahasa itu memiliki sifat diakronis, berkembang artinya seiring waktu.

Siapakah pelukis itu? Mungkin kita bisa memulai jawabannya dari orang-orang purba yang membekaskan tapak tangannya pada dinding-dinding goa–entah apa tujuannya, hingga mereka yang ingin mewarnakan pikiran dan rasa, atau sekedar hendak bilang, “Hei, aku butuh makan.” Daftar ini tak akan berhenti di sini, dan semuanya tidak salah selama prosesnya tidak didelegasikan ke orang lain.

Bagaimanakah melukis itu? Pertanyaan inilah yang paling tidak ingin dibatasi oleh jawaban. Bahan apa yang digunakan, alat apa yang dipilih, anggota tubuh mana yang dipercaya mengantar pikiran; setiap orang memiliki kebebasan pada pilihannya. Setelah ribuan tahun manusia menggunakan tangannya untuk melukis, sebagaimana untuk pekerjaan yang lain, pada pertengahan abad dua puluh–dimulai dari Eropa–orang-orang yang hidup tanpa fungsi tangan menegaskan bahwa mulut dan kaki pun bisa digunakan untuk melukis.

Organisasinya dibentuk hingga mendunia, dan masuk Indonesia pada 1989, saat saya masih berumur 10 tahun dan sudah dipersiapkan untuk menjadi anggotanya. Dalam organisasi ini, Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA), keberagaman dari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas juga terasa, di samping satu semangat yang sama untuk tidak menjadi beban bagi masyarakat.

Setelah lebih dari 20 tahun bekerja di AMFPA, dan terbebas dari belenggu ketergantungan sebab ketiadaan tangan, saya merasa kini saatnya untuk turut berkontribusi pada dunia lukis dengan menambahkan pertanyaan filosofis–beserta jawabannya–seputar kesenilukisan. Untuk apa lukisan itu?

Setiap pertanyaan boleh disambut ribuan jawaban. Dan saya mempersiapkan satu jawaban lewat pameran tunggal yang akan digelar pada awal Februari 2013. Jawaban ini tidak bermaksud memberi batasan, justru untuk mengundang jawaban-jawaban lainnya. Untuk apa lukisan itu, menurut saya?

Kami mengundang pembaca sekalian untuk hadir dalam Pameran Tunggal Lukisan Natura Esoterika, di Jogja Gallery Jl. Pekapalan no. 7, Alun-Alun Utara Yogyakarta, tanggal 1 hingga 10 Februari 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s