Mencuci Kuas

Ada yang usai, meski mungkin bukan hasil karya, tapi kesadaran yang telah disapa kantuk atau bilangan penanda waktu yang berganti. Badan menuntut rehatnya dan pikiran menggagas perayaan. Tapi ada yang lebih mesti diperhatikan.

Kuas tak pernah mengeluh atas kerjanya. Saat bulu-bulunya kian tergerus dan tercerabut, tak ada juga pemberontakan. Hanya gumpalan cat saja yang membuatnya tak bersahabat untuk kerja, tapi itu bukan salah dia. Kuas juga mesti disayang, dimandikan agar tetap lembut, sehingga sanggup mengantar warna secemerlang gagasan di kepala, mengadakan lukisan bernilai tak bertara. Hingga kelak saat bulu telah tak bersisa, kuas akan mewariskan gagangnya untuk kerajinan rupa-rupa.

Adanya kita hingga di sini seperti sebuah lukisan. Berapa juta bulu kuas telah berjasa mengantar? Ada satu helai pribadi yang hanya mengirim senyum, yang lainnya mengemudikan mesin memindahkan badan, merubah beras menjadi nasi hingga terhidang di depan mulut, ada yang membencah pikiran menuai inspirasi, yang mencaci dan memuji, dan masih banyak lagi. Tapi seberapa peduli kita untuk mencuci semuanya?

Kita mungkin lupa bahwa yang paling berjasa adalah yang paling tidak kentara, dan adanya justru di depan mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s