Pameran Tunggal

Cahaya dari lampu sorot pada atap tinggi itu sudah mendominasi ruang pameran, tak lagi dicampuri oleh sinar matahari yang lama terbenam. Masih ada tiga pengunjung yang mencermati lukisan sambil membaca puisi yang menyertai. Mereka adalah mahasiswi UGM yang mendengar kabar dari kawannya, bahwa ada pameran di Jogja Gallery. Saya tidak tahu apa embel-embel informasi yang mereka dengar, hingga membuat mereka begitu tertarik untuk datang. Mungkin karena pelukisnya tidak menggunakan tangan untuk berkarya.

Saya duduk di anak tangga yang ditempeli tanda larangan duduk, pada sisi barat ruang pameran. Dari sudut yang tinggi itu saya mendapatkan pemandangan yang luas dari pagelaran ini; pameran tunggal yang sudah lama jadi impian, pameran tunggal pelukis tanpa tangan pertama di Indonesia. Tapi waktu itu adalah menit-menit terakhir di hari kesepuluh. Saya belum rela untuk meninggalkannya. Batas akhir waktu yang disadari selalu menyodorkan perasaan berat.

Sepuluh hari serasa belum cukup. Seperti baru kemarin saja peristiwa ketika saya menyambut tamu-tamu yang datang di malam pembukaan itu. Saat itu senja telah lewat, pintu ruang pameran ditutup rapat, tenda di halaman galeri yang diterangi lampu sudah dipenuhi tamu. Buku katalog berpindah ke tangan-tangan pengunjung. Sebelum pejabat yang diundang untuk meresmikan hadir di tempat, semua tamu yang datang gasik adalah para penanti. Penantian saya dimulai dengan obrolan bersama Direktur Jogja Gallery, menyoal kehidupan yang menjadi tema utama dari pameran tunggal ini. Kemudian wartawan bergiliran mengisi waktu dengan wawancara, yang sesekali tersela oleh sapaan saya untuk menyambut tamu penting lainnya. Gurau dan canda bersama gadis-gadis among tamu yang berdandan cantik tak berbuah apa-apa, selain untuk menikmati momen yang datang sekali saja itu.

Tamu agung itu akhirnya tiba, dihantar dengan mobil Toyota Alphard. Ia mengenakan gaun kuning, melambangkan warna keemasan sesuai namanya; Hemas. Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Acara pun segera dimulai dengan sambutan-sambutan. Gusti Ratu dalam sambutannya–di antaranya–mengatakan, “… Pada malam hari ini kita bersama-sama merasa bangga karena Yogyakarta dipilih oleh mas Sabar Subadri yang akan melakukan pameran tunggalnya. Dan itu tentunya tidak mudah: mencapai pada tingkatan dihargai orang banyak. Itu tentu–saya rasa–perambatnya sangat panjang. Karena dari semua proses yang dilalui tentunya membuat kita merasa bersyukur. Khususnya bagi para penyandang cacat, sebenarnya bukan suatu halangan untuk berprestasi. Masyarakat Jogja sebenarnya sudah begitu terkenal untuk seni lukisnya, tapi ini adalah pameran lukisan–atau pameran seni lukis–yang sangat luar biasa.”

Usai rangkaian sambutan tersebut, pameran diresmikan dengan pemukulan gong oleh GKR Hemas. Pintu ruang pameran dibuka untuk dilewati pengunjung dan penikmat seni–tentu di belakang langkah Ibu Ratu. Tugas saya adalah menyertai permaisuri Sultan tersebut sembari memberi keterangan atas karya-karya yang menjadi perhatiannya. Ada kesempatan juga untuk secara simbolis menghaturkan satu karya kepada beliau.

Keagungan seorang Ratu tidak menghalangi GKR Hemas untuk bersedia duduk di lantai bersama para pelukis tanpa tangan, untuk turut memberikan goresan cat pada kanvas. Dan saat saya memperagakan cara mengaduk cat dan memindahkannya ke kanvas dengan kaki, beliau mengamati dengan ketakjuban; menunggui hingga cukup lama, sambil berbincang dengan setiap pelukis tanpa tangan yang turut hadir; yaitu Benjamin Tan (pelukis mulut), Agus Yusuf (pelukis kaki dan mulut), Salim Harama (pelukis kaki), dan Faisal Rusdi (pelukis mulut).

Saya berkali-kali harus meyakinkan diri bahwa ini adalah wujud nyata dari impian lama saya untuk menjadi pionir dalam pameran tunggal pelukis tanpa tangan di Indonesia; bahwa ada delapan pelukis mulut atau kaki lainnya di Indonesia–yang tergabung dalam AMFPA–yang belum sempat berpameran tunggal. Mestinya saya menikmati momen ini. Namun alih-alih larut dalam rasa bangga itu, saya masih menyisakan pikiran untuk memelihara yang terlewat. Proses persiapannya pun layak dikenang.

***

Persiapan pameran dengan mengumpulkan karya adalah kenikmatan. Seniman tidak akan menghindar dari pekerjaan seni. Melukis dan menulis puisi di malam-malam sunyi, dan bahkan menulis essai sepanjang dua puluh halaman tentang tema pameran, saya lakukan dalam keriangan. Nama Natura Esoterika, jauh sebelum pameran ini, telah saya gunakan untuk menamai studio lukis saya di Salatiga. Dengan Natura Esoterika saya bermaksud mengajak orang untuk mengapresiasi karya Sang Kehidupan, berupa alam, yang sering terabaikan. Saya ingin agar orang belajar dari gerumbul lumut, dari daun kering, atau sisa kepompong kosong, agar tidak terjebak pada pacuan hidup mengejar materi belaka. Dengan Natura Esoterika, saya melukis objek-objek alam sebagai tanda bahasa untuk menyampaikan maksud. Maksud yang masih tersamar itu lalu saya ungkap lewat puisi yang bakal menyertai setiap lukisan di ruang pameran. Dan praktek penandaan itu saya jelaskan dengan meminjam teori semiotika oleh Ferdinand deSaussure.

Rangkaian proses persiapan itu kian menggairahkan ketika saya berkenalan dengan praktisi sekaligus cendekiawan seni dari Institut Seni Indonesia, yaitu Dr. Hening Swasono, yang kemudian mempertemukan saya kepada Prof. Dr. M. Dwi Marianto MFA Ph.D. Kunjungan saya ke rumah mereka masing-masing di Jogja dibalas dengan kunjungan ke rumah saya di Salatiga, hingga sebanyak dua kali. Pertama untuk wawancara pengumpulan data sebagai bahan tulisan kuratorial. Yang kedua adalah pembuatan video untuk diputar sepanjang pameran berlangsung.

Bertemu dengan cendekiawan kala itu, mensyarati saya dengan dua hal: kebodohan harus ditinggalkan, dan ego harus ditanggalkan. Tiba di rumah Prof. Dwi, saya langsung disambut dengan jamuan makalah teori yang ditulis oleh V. S. Ramachandran dan W. Hirstein, dalam bahasa Inggis, setebal dua puluh satu halaman. Makalah berjudul The Science of Art, A Neurological Theory of Aesthetic Experience itu membahas delapan cara yang dapat dilakukan seniman untuk mempengaruhi rasa para penikmat seni. Salah satunya kemudian saya terapkan ke dalam karya yang masih akan saya buat untuk pameran tunggal itu, yaitu cara yang disebut peak shift effect.

Kesediaan saya untuk masih menerima masukan dari Prof. Dwi mengantar saya pada penciptaan karya yang ternyata berhasil menyita perhatian banyak pengunjung pameran, terutama dari GKR Hemas sendiri. Lukisan berjudul Pohon Kehidupan saya buat dengan mengabaikan sisi tak perlu sambil melebihkan bagian utama, atau yang menurut Ramachandran disebutkan sebagai discarding redundant information. Secara praktis, persiapan pameran itu sendiri adalah kuliah seni buat saya.

Dalam tulisan kuratorialnya, Prof. Dwi memberikan perhatian tidak hanya pada karya-karya yang saya buat, namun juga pada kehidupan pribadi saya. Ia menyoroti perjalanan karir seni saya dari awal, yaitu masa kanak-kanak yang suka mencorat-coret lantai dengan kapur, direkrut oleh AMFPA pada usia 10 tahun, belajar pada pelukis Amir Rachmad, dipengaruhi gaya lukis Rustamadji, hingga menggelar pameran tunggal ini. Prof. Dwi, melihat masa lalu saya didukung oleh banyak pihak, menyarankan agar saya balik mengangkat mereka lewat pameran ini. Salah satunya adalah dengan turut menampilkan karya alm. Amir Rachmad di ruang pameran. Saran Prof. Dwi ini sejalan dengan tujuan saya untuk berpameran tunggal, yaitu sebagai kontribusi balik terhadap dunia seni setelah lama memperoleh penghidupan dari dunia seni.

***

Saya menuruni anak tangga itu, sekaligus berpamitan pada pengunjung terakhir. Di luar, malam sudah meninggi sembunyikan sinar matahari. Rindu sang kegelapan sebenarnya tak pernah terpuaskan oleh kerlap-kerlip lampu jalanan. Dan esok siang ketika matahari tak lagi terhalangi, adalah sia-sia untuk menyalakan lagi lampu-lampu itu. Saya mungkin seperti sedang melakukan hal yang sia-sia tak berguna; menyalakan lilin di hadapan wajah matahari; menampilkan karya lukis di Yogyakarta yang sudah laksana pusat tata surya dari seni dan budaya. Namun tidak semua tindakan harus dibingkai dengan paradigma “untuk apa” atau “mendapatkan apa”. Saya melempar sebongkah garam ke lautan bukan karena mau mengasinkannya, tapi karena memang harus melempar.

Pohon banyan dulunya sebutir biji kesepian. Melanjutkan ada dirinya seperti tak bertujuan. Tapi kesediaan berkembang mengantarnya menjadi Pohon Kehidupan, penampung satwa dan flora yang butuh wahana tumbuh. Pohon banyan saya lukiskan, dan telah sepuluh hari tergantung di dinding Jogja Gallery. Ia masih punya kesempatan hingga esok hari sebelum diturunkan. Tapi saya sudah harus meninggalkan tempat yang bagi saya bersejarah itu. Sepuluh hari seperti belum sepadan dengan panjangnya persiapan. Tapi penutupan pameran memang bukanlah akhir dari kisah ini. Sebutir proyektil baru saja menumbuk papan domino.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s