Suara Inka

Lirih mengalun di kamar sunyi
merambat antara lukisan berbingkai
merdu suaramu seolah tak henti
mendayu, mengayun, membuai.

Perlahan merasuk dalam dengar
runtuhlah dinding-dinding pembatas,
pada keluasan alam aku terpapar
lebih dalam sanggup kuhela nafas.

Suaramu antarku susuri jalan pedesaan
jumpai flamboyan tua kesepian,
temani aku berteduh pada naungannya
bermandi guguran kembang jingga.

Serentak datang lengking nada tinggi
melemparku atasi tebing berundak,
menyapa air sebelum jatuh di tepi
gemuruhnya saat terjun tak terelak.

Nada rendah menuntun ke bawah
menuju kolam airnya beriak
tempat berkembang teratai indah
segar selalu layunya tertolak.

Ujung lagu akhiri perjalananku
pulangkan kembali ke ruang sesak,
bergumul bersama buku dan debu
yang berjejalan penuh dalam rak.

Kembara tak mesti menjejak kaki
antar badan lampaui jarak ruang,
cukup dalam pikir melukis imagi
sepenuh rongga dada melayang,
suaramu takkan usai mendampingi
hingga sadar jiwaku yang hilang.

oleh sabar s.
buat Inka Christie

Inka

4 comments

    1. Saat ini aku hampir meletakkan mimpi-mimpi. Maunya melek dan terjaga saja. Tapi kok tidur itu enak juga.. Padahal kita hidup bukan dalam mimpi. Hidup ini memang absurd.

Leave a Reply to sawijining Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s