Satu Sudut Schottenring

Di ufuk barat matahari terbenamnya landai ke utara, memberikan pengalaman panjang bagi senja untuk dinikmati. Tapi cahaya kuningnya tak banyak terhambur di langit, tak menghantarkan sentimentalisme milik orang-orang tropis. Dingin saja. Pucat. Dan pelan.

Sementara itu, kuning yang lain sedang dilahirkan. Tepian daun-daun norway maple sudah tak hijau lagi. Mereka bersiap menyambut musim gugur. Kelak, tak terlalu jauh di waktu depan, jalanan ini akan menyala oleh runtuhan daun yang tak lagi sanggup memasak makanan itu. Lalu, ranting-ranting telanjang bakal menceruat ke angkasa. Saya hanya sanggup membayangkan gambarannya, tapi tak ada kesempatan menyaksikannya langsung.

Warna mencolok memang patut dirindukan di ruas jalan ini, karena bangunan-bangunan yang mengapit dibalut dengan warna pastel yang lembut. Kecuali gedung bursa efek di seberang utara itu, dengan jingganya yang menarik perhatian. Satu lagi warna yang mencolok, adalah merah kereta trem yang melintas rutin setiap lima menit sekali. Alat transportasi masal itu nyaris tak pernah terlambat, kecuali saat sebuah bus terpaksa nangkring pada lintasan rel karena mengantri parkir bus yang lain, yang sedang menurunkan penumpang-penumpang berkursi roda–termasuk saya–untuk kembali beristirahat di Hilton Vienna Plaza. Trem itu tampak rela mengalah. Entah penumpang di dalamnya.

Pada satu persimpangan, tampak beberapa pejalan kaki terdiam dari langkah-langkahnya. Mereka menghadap tegak lurus dengan arah lalu-lintas, jelas mereka hendak menyeberang. Ruas jalan itu sendiri lengang, tak banyak mobil melintas, lebarnya hanya sekira tujuh atau delapan meter saja. Mestinya mereka sudah bisa segera memindahkan badan. Tapi ada yang mencegah mereka melakukan itu. Rambu penyeberangan menyala merah. Dan orang-orang itu–juga setiap warga–patuh pada ketertiban. Saya merasa iri melihatnya.

Sebuah bus kota melintas di lajur lambat jalan Schottenring, dan berbelok ke jalan Hohenstaufengasse. Jam sibuk sudah berlalu. Tikungan itu sepi. Tapi sopir bus itu tetap mengerem kendaraannya tepat sebelum berbelok. Ia tidak mengambil untung dari situasi sepi dengan kebut-kebutan. Sekali lagi, saya merasa iri dengan kepatuhan orang-orang di sini, hal mana masih langka di tanah air saya sendiri.

***

Wina adalah kota yang sudah jadi. Seumpama papan catur, jumlah kotaknya sudah memadai untuk permainan, tak perlu ditambah lagi. Tinggal bidak-bidaknya bergerak saja di atas papan itu sesuai aturan. Meminjam istilah pemikir besar, Wina telah mencapai akhir dari sejarah. Namun sebelum akhir itu, yang sudah tercatat sangatlah panjang. Gedung-gedung bernilai arsitektur tinggi itu adalah bukti dari perkembangannya selama berabad-abad.

Ia dulu adalah tempat para raja memimpin sebuah negeri dengan banyak perseteruan dengan negara-negara tetangga, sebagaimana kultur di seluruh benua saat itu. Hingga akhirnya terjadi perubahan struktur politik di dalamnya. Rakyat menuntut kuasa, dan jadilah negeri ini republik untuk pertama kalinya pada 1918. Republik ini harus menjalani ujian beberapa kali, yaitu dengan bercokolnya kuasa fasisme dan pendudukan Nazi yang memancing perang dunia itu. Kemapanan mulai terwujud setelah republik didirikan kembali untuk kedua kalinya pada 1945.

Kini kemapanan benar-benar terasa, yang justru menghilangkan banyak kisah-kisah hidup dramatis. Adrenalin tidak banyak tersembur oleh masalah sehari-hari, dan sebagai gantinya adalah wahana tower swing di area wisata Schweizerhaus yang tetap ramai dikunjungi pada hari-hari biasa. Dalam kemapanan, laku hidup seolah mekanistik belaka, dan terprediksi. Seorang diplomat berkata pada saya, bahwa apa yang bakal terjadi di Wina sepuluh tahun ke depan pun bisa diramalkan. Namun bagi saya pribadi yang tidak terlalu menginginkan drama di jalan kehidupan, kota seperti ini mestinya lebih cocok untuk ditinggali.

Kembali ke tanah air, saya tergagap-gagap dengan kekacauannya. Tapi ini adalah satu-satunya pilihan yang saya punyai.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s