Menatap Hofburg

Musik instrumental terdengar sejak dari jarak puluhan meter, dibawakan oleh sebuah grup marching band yang personilnya berseragam ala militer. Musik itu menjadi bagian dari acara penyambutan para pelukis tanpa tangan yang datang dari seluruh dunia untuk meresmikan pameran lukisan bersama. Terompet, saxofon, dan flute ditiup mengikuti arahan konduktor; tak henti sebagaimana juga gelas-gelas minuman yang tersaji. Air putih murni, yang berkarbonasi, yang dicampur daun mint semriwing, aneka jus, hingga anggur terus mengalir bagi siapa pun yang menghendaki. Sementara itu, kartu-kartu nama berpindah antar saku sebagai gestur dari pernyataan, “Hai, aku mau lebih mengenalmu.” Ritual perkenalan masih berlangsung di hari keempat itu, karena ratusan orang tak mungkin seketika bertegur sapa di hari-hari sebelumnya. Di bawah siraman sinar matahari di musim panas itu, selain dengan kawan-kawan pelukis anggota AMFPA, saya juga berkenalan dengan istana Hofburg yang bisu tapi menyimpan ribuan kata.

Wina membangun dirinya dengan gedung-gedung yang memiliki ketinggian hampir sama. Keseragaman ini membuat setiap gedung nyaris sulit untuk unjuk diri sebagai entitas yang unik. Tapi Hofburg, jantung dari Wina ini, segera menyita pandangan mata lewat kekhasannya. Bagian utama yang dinamai Neue Burg memiliki struktur melengkung, membedakan diri dari kebanyakan gedung lain yang kubistik. Batu-batu persegi menyusun dindingnya. Pada balkon lantai dua, pilar-pilar bulat bergaya korintian menyangga konstruksi di atasnya. Keunikannya membuat Neue Burg dijadikan ikon dari keseluruhan komplek istana Hofburg, meski bagian ini adalah perluasan yang dibangun menyusul, lewat pertengahan tahun 1800-an, atau setelah empat abad dari pembangunan pertama oleh dinasti Habsburg.

Tepat di hadapan Neue Burg adalah lapangan luas bernama Heldenplatz. Lapangan ini sendiri menyimpan kisah penting, saksi dari berakhirnya kekuasaan Napoleon sang penakluk yang tak terkalahkan itu. Sembari membelakangi istana menghadap lapangan, berdiri patung Pangeran Eugene menunggangi kuda. Patung perunggu ini sudah berumur hampir 200 tahun, dan warnanya didominasi hijau. Pangeran Eugene adalah komandan militer yang mengabdi pada dinasti Habsburg di abad XVII dan XVIII.

Di depan sayap Festival Hall saya memperhatikan ornamen yang menghias eksterior istana. Patung-patung yang menggambarkan figur mitis tampak mengakhiri tingginya dinding, yang dinding itu sendiri sudah berhiaskan relief. Rasa penasaran menyeruak, seperti apa di dalam sana. Pesta penyambutan itu pun berakhir dan saya mengikuti langkah orang-orang memasuki sayap yang menghadap arah matahari terbenam itu. Kami digiring masuk ke ruang pertemuan yang disebut Zeremoniensaal atau Ceremonial Hall. Ruang ini menempati level mezzanin yang berada di atas lantai bawah. Untuk mengaksesnya terdapat lift dengan kapasitas yang sanggup menampung empat kursi roda sekaligus.

Tiba di Zeremoniensaal suasana gothik segera terasa. Pilar-pilar korintian dari marmer berjajar rapi di tepian ruangan seluas 575 meter persegi itu. Seluruh pilar berjumlah 24 buah, menjulang ke atas dan disambut atap berornamen floral. Lampu-lampu kandelar segera mendominasi pemandangan bagian atas dengan gebyar cahayanya. Dibutuhkan 26 set kandelar untuk menerangi seluruh ruangan, yang tiap setnya bertingkat dengan jumlah lampu sebanyak 54 buah. Sebelum bola lampu ditemukan di benua seberang, kandelar ini betul-betul untuk menempatkan lilin. Di samping kandelar-kandelar itu, sumber cahaya juga didapatkan dari jendela-jendela kaca yang memasukkan sinar matahari dengan mudah karena ukuran besarnya. Tapi saat itu, semua jendela ditutup dan dilapisi panel untuk men-display lukisan. Ini waktunya pameran.

Meski demikian luas, Zeremoniensaal masih belum cukup untuk memajang karya-karya lukis seniman AMFPA yang berjumlah lebih dari 200 karya. Dibutuhkan satu lagi ruangan yang tepat bersebelahan dan dihubungkan dengan dua pintu besar. Ruangan ini jauh lebih kecil daripada Zeremoniensaal, seluas hanya 150 meter persegi. Satu kandelar saja sudah menerangi ruang bernama Marmorsaal ini. Di sinilah saya menemukan karya saya sedang berunjuk diri bersama lukisan lain dengan tema yang sama.

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s