Museum Blanco

Tidak sampai satu jam untuk tiba di Ubud, dari kota Gianyar tempat saya menginap di Bali. Perjalanan itu terlalu singkat bagi saya untuk menikmati keindahan di sepanjang tepian jalan. Perkampungan tradisional, pohon-pohon kamboja kuning, galeri-galeri penuh dengan benda seni, semua memikat pandangan. Tapi gerbang menuju museum itu tiba-tiba sudah menyambut. Saya segera memasuki sebuah sintesis kebudayaan.

Blanco Renaissance Museum adalah sintesis antara Barat dan Timur, Eropa dan Bali. Namun sintesis di sini bukanlah lewat dialektika Hegelian yang mendongkel itu, melainkan percampuran dua kebudayaan yang hadir bersama-sama dengan karakteristik masing-masingnya yang utuh. Filosofi Hindu Bali mengambil porsi pada keseluruhan struktur bangunan museum, sedang budaya Eropa hadir lewat detil ornamen bergaya rococo-nya.

Di samping ketinggian datarannya, tumbuh-tumbuhan di komplek museum ini memberi kontribusi pada hawa sejuk. Saya tidak buru-buru memasuki bangunan utama. Di luar pun banyak yang untuk diapresiasi. Persahabatan dengan alam jelas didemonstrasikan di sini lewat pohon-pohon besar yang dirambati tumbuhan epifit hingga tanaman hias yang rimbun. Sedang kolam pancuran di tengah halaman mengingatkan pengunjung pada kali dan lautan sebagai bagian dari semesta.

Museum adalah puncak pencapaian dari seorang seniman. Sebagai puncak pencapaian, museum dibangun di atas undakan yang menyimbolkan proses menuju pencapaian itu. Sedikitnya ada lima belas anak tangga sebelum tiba di pintu masuk (meski sedikit tidak bersahabat bagi pengguna kursi roda). Di atas tangga itu adalah gapura besar berbentuk otograf sang meastro lukis: Don Antonio Maria Blanco.

Bangunan museum itu sendiri bertingkat tiga, dengan kubah bulat di puncaknya. Tapi saya hanya sempat menjelajahi dua lantai saja, itu pun harus dengan terengah-engah menapaki 26 anak tangga spiral. Waktu juga adalah masalah utama bagi saya, tak bisa berlama-lama mengapresiasi setiap lukisan itu karena jadwal penerbangan kembali ke Jawa sudah mepet.

Karya Antonio Blanco, dalam pandangan saya, adalah semacam ledakan dari kemampatan energi. Blanco sudah mengelilingi dunia, melakukan studi, dan mempertajam keahliannya di bidang anatomi. Namun dengan semua itu ia harus menghadapi kekecewaan saat ditolak oleh Walt Disney untuk bekerja sebagai kartunis di industri film besar itu. Hingga ia kembali pada ingatan masa kecilnya saat menyaksikan foto-foto Bali dalam buku berjudul Island of Bali karya Miguel Covarrubias yang beredar di Eropa. Ia sempat terpesona dengan keindahan yang tergambar dalam buku itu. Dalam kekecewaannya kini–sekaligus kesadarannya untuk menjadi seniman lukis–ia menaiki kapal “Le Marseille” menuju Asia Tenggara agar bisa menyaksikan langsung keindahan Bali dengan dua matanya sendiri.

Di Ubud ia menemukan keterpesonaannya. Keahlian yang sudah lama ia runcingkan akhirnya menemukan objeknya untuk diolah. Seperti seorang chef yang dimasukkan ke dalam dapur penuh bahan makanan, ia berkarya dengan passion yang tinggi. Kegairahannya berkarya layak mendapatkan hadiah istimewa dari orang istimewa juga. Raja Ubud, Tjokorda Gde Agung Sukawati, menganugerahkan sebidang tanah pada Blanco untuk dijadikan tempat berkarya, menjadi studio lukis, dan daya tarik Bali ke seantero jagad. Di kemudian hari berdirilah museum megah itu di sana.

Karya-karya lukis Antonio Blanco yang realis impresionis menyiratkan ledakan energi sang seniman. Figur perempuan menegaskan identitasnya, sedang goresan spontan dan dinamis itu adalah luapan kerinduan. Seolah Blanco sedang berkejaran dengan detak jantungnya sendiri saat berkarya. Semua yang berkelebatan di rongga kepala harus secepatnya dipindah ke bidang kanvas. Ia percaya pada gerakan, dan mewujudkannya sekalipun itu pada gambar di bidang yang statis. Penyematan nama pada pojok lukisan juga bukanlah akhir dari proses kekaryaannya. Masih ada hal lain yang harus dikerjakan. Setiap lukisan harus dibalut dengan bingkai yang berbeda; tak ada pengulangan.

***

Selepas dari museum, langkah saya diarahkan menuju studio lukis yang bersebelahan. Studio ini memberi banyak inspirasi. Pada lantai di tengahnya terdapat ceruk sedalam setengah meter, tempat sang maestro bisa duduk seperti di kursi, sembari tangannya bekerja menguaskan warna pada kanvas yang ditegakkan dengan sebuah easel. Benda-benda di sana tertata sebagaimana ketika sang maestro masih ada; kuas-kuas, tube-tube cat, papan palet dengan sisa gumpalan cat yang mengering, lukisan-lukisan, termasuk objek-objek yang bisa dijadikan model lukisan tak banyak berpindah dari tempatnya sedia kala. Keberadaan pelukis besar itu seperti hendak diabadikan lewat suasana.

Banyak orang bilang, mengalami sendiri adalah sumber pengetahuan terbaik. Saya pun meminta ijin untuk duduk pada ‘singgasana’ itu. Dan tiba-tiba ada hasrat untuk ikut berkarya, seandainya saja …

***

Setiap museum seperti hendak menyampaikan pesan, bahwa ada keagungan di masa lalu. Yang dulu itu selalu layak untuk dirayakan dan dikenang, dan juga menjadi tantangan bagi yang sekarang untuk melampaui keagungannya.

Sekaligus memperingati hari lahir Don Antonio Blanco pada 15 September.

4 comments

  1. Hi, I do think this is an excellent blog. I stumbledupon it 😉 I will come back once again since
    I book marked it. Money and freedom is the greatest way to change, may
    you be rich and continue to help others.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s