Ibu

Click to see the video.

Pada jarak yang terpaksa terentang, ia berjuang menaklukkan. Jutaan langkah ia lakoni demi bahagia anaknya, jutaan langkah ia batalkan sebab tak mau anaknya tertinggal. Sejak ada yang terlahir, aku-nya nyaris tiada; semua tinggal bagaimana yang baru tiba ke dunia dengan rapuh ini sanggup bertahan. Senang ia relakan, sedih siap ia tanggungkan. “Makanlah dengan kenyang, hisaplah habis air susuku, biar aku yang kelaparan.”

Dengan pikir, rasa dan raga ia sedia mengantarkan senyum, meski dalamnya sendiri getir pahit. Kemewahan serasa tak pernah pantas ia sandang, sebab anaknya harus selalu tercukupi. Sekedarnya saja ia penuhi kebutuhan diri, rengek rewel anak menghalangi bangkit pongahnya. “Sudah cukup hangat kubaluti badanku dengan baju tahun-tahun lalu, tapi kamu harus kelihatan manis, Nak.”

Ia sadar anaknya beda, mungkin bakal dicela di dunia. Tapi ia percaya ada mutiara dalam cangkang yang rapat kuat terkatup. Ia percaya akan tiba waktu ketika cangkang bakal terbuka, dan ia sedia menyertai seluruh penantian dan perjuangan.

Aku ingat duka-duka itu, aku tahu tangis yang disembunyikan, aku saksikan letih perjuangan. Aku bukan pelupa, percayalah. Dan kini telah berhembus angin perubahan. Pelan, semilir saja, tapi ajeg tak pernah jeda. Dan aku berjanji semua ini untuk menggantikan yang lalu.

***

Hari ibu dirayakannya pada 22 Desember, tapi tak sesiapa pun membatasi penghargaan pada ibu hanya dalam satu hari saja dari 365 yang tersedia. Hari ini pun sama, apa yang membedakannya?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s