Amben Kayu Lapuk

Bapak bukan tukang kayu, tapi ia tahu bagaimana merangkai kayu-kayu bekas menjadi balai-balai. Lembaran papan tipis ia jajarkan di atas rangka usuk. Lalu tikar mendong ia beri tugas untuk sedikit mengempukkan sekaligus menghias permukaannya. Tangguhkan dulu pertanyaan soal kenyamanan. Yang penting kelima anggota keluarga bisa hinggap di atasnya untuk mengerubuti nasi, sayur gori, dan sambal terasi bikinan emak. Begitu bertahun-tahun lamanya.

Petang hari adalah kesempatan anak-anak menguasai balai-balai itu. Kakak menjepitkan ujung selimut pada celah dinding kayu, dan membentangkan sisanya sedemikian rupa seperti layar perahu. Belum selesai ia mengembangkan layarnya, saya yang duduk di ujung balai-balai sudah tiba di tengah lautan. Debur ombak terdengar di rongga kepala, meredam derik jangkrik di seberang jendela. Ini tengah lautan, buat apa ada suara jangkrik? Geladak perahu mulai berayun-ayun diterjang gelombang, seiring bergoyangnya balai-balai itu–bukan karena ada mekanisme hidrolik, tapi karena salah satu kakinya lapuk dimakan rayap.

Kakak meraih dayungnya, mengayuh perahu menentukan arah. Lihat purnama dan bintang-bintang di angkasa hitam, cari tempat di mana ikan berkerumun. Saya melempar kail, dan satu per satu ikan terkumpul di dalam palka. Tapi hasil tangkapan itu hilang seketika, karena kakak perempuan menyalakan radio yang mulai menyiarkan sandiwara Saur Sepuh, dan bakwan goreng bikinan emak dihidangkan. Perahu itu lenyap digantikan balai-balai kayu lapuk, bulan purnama kembali mewujud lampu petromak, dan laut menjelma ruang berantakan di samping pawon penuh jelaga.

***

Balai-balai kayu lapuk harganya mungkin belum setara dengan timbunan rongsokan. Tapi sanggup mengantar saya ke ruang mana pun di dunia. Ia seolah memiliki daya magis, yang bahkan tak bisa ditandingi oleh sofa lembut di sebelah komputer tempat saya menulis blog ini. Dan komputer ini sendiri–meski bisa mensimulasikan rupa-rupa kehidupan–tetap tak sanggup menghantarkan romantika jaman balai-balai itu.

Balai-balai ataupun sofa keduanya benda mati. Tak ada kuasa pada mereka. Kecuali pikiran saya sendiri yang aktif bereaksi dan berpartisipasi atas keberadaan benda-benda itu. Ruang lingkup yang melatarbelakangi munculnya pikiran itulah yang berbeda. Balai-balai murahan dinikmati pada kondisi ignorant, lugu tanpa banyak pengetahuan. Pikiran lebih kuat untuk membuat gambar-gambar samar di kepala, yang tidak direcoki oleh pembanding fakta-fakta. Sedang sofa ini hadir bersamaan dengan berjejalnya pengetahuan, termasuk pengetahuan bahwa masih ada banyak sofa yang jauh lebih nyaman di toko-toko sana.

Di sini analogi gelas diisi air masih relevan. Seberapa pun air dituangkan ke dalam gelas, segitulah jatahnya. Ada yang harus dibuang untuk menampung yang baru. Pengetahuan tentang hidup datang menggantikan indahnya fantasi bebas tanpa beban. Ada kecerdasan yang menyingkir sebab datangnya pengetahuan, yaitu kecerdasan untuk ‘”membohongi” diri sendiri, untuk mengalahkan kenyataan pahit. Saya sekarang tidak bisa lagi berada di tengah lautan, kecuali harus benar-benar datang ke sana dengan seluruh raga. Apakah saya lebih pintar dari yang dulu, ataukah malah merugi?

Seperti anak-anak lain pada umumnya, saya dulu digiring orang tua ke sekolah untuk menjemput pengetahuan. Harapannya, dengan dipunyainya pengetahuan itu dunia akan bisa dikuasai. Namun sesungguhnya paradoks sedang diperagakan di sini, dunia yang hendak dikuasai itu justru bakal menguasai saya. Dunia dijemput sebagai permainan yang justru bakal memainkan pemainnya. Inilah benih lahirnya absurditas di tingkat individu. Atlas-Atlas kecil sedang dicetak untuk memanggul beban dunianya masing-masing. Semakin dewasa anak itu, semakin besar beban dunia di punggungnya. Hingga usia dewasa, tubuh yang dulu tegak akan membungkuk di bawah beban hidup.

Ada segelintir orang yang sanggup melihat absurdnya hidup ini, lalu menentukan pilihan lumrah. Mereka memilih jalan hidup asketis, yaitu para sufi, biarawan, atau bhiksu. Atau, mereka yang sudah kasep memanggul beban dunia akan menggidikkan pundak, hingga beban itu tergelincir. Lalu badannya bisa tegak kembali.

***

Saya masih berada bersama milyaran Atlas-Atlas bungkuk; sibuk menggubris dunia, nyeri dengan bebannya, sambil mencoba menangkap angin semilir untuk mengeringkan peluh. Memang pernah ada satu periode di mana muncul keinginan untuk menjalani hidup asketis, tapi bola dunia di punggung ini sudah kadung disematkan jauh sebelum keinginan itu, selagi masih kanak-kanak. Dan bobot massanya melampaui yang biasa disunggi oleh anak kebanyakan.

Saya sadar absurditasnya, tapi saya belum hendak menggidikkan pundak. Saya akan masih menjejalkan pengetahuan ke dalam pikiran–biarpun tumpah-tumpah juga–karena saya kadung menjadi pengharapan agar tak ada lagi saudara yang harus duduk di balai-balai kayu lapuk. Tunggu sebentar, hei… kesunyian di lereng Merbabu itu menggoda sekali.

6 comments

  1. wah, saya suka sekali baca ini, asyiik tenan. pada suatu hari nanti semoga bisa mampir sambil mengembalikan buku estetika yang ku pinjam. sibuk pameran kabarnya ya, siip deh

  2. lha hp ku hilangpas di semarang, Hp baru nomor baru, gak ada kontaknya, belum banyak. nomor hp nya di emailkan donk, he he 🙂

    1. Absurditas itu (kira-kira) adalah sebuah kondisi di mana dua hal yang bertentangan hadir sekaligus. Misal, kita mendapat informasi sehingga tahu seesuatu tapi saat bersamaan kita terbebani oleh pengetahuan itu. Atau, dalam sebuah konlik antar individu, si A dan si B saling membenci, karena masa lalu. Masing2 terus mengingat-ingat peristiwa lampau itu untuk melestarikan konflik mereka. Padahal kalau dilupakan, konflik yang membebani dan menyiksa batin itu bisa hilang. Beban dipertahankan demi beban itu sendiri, ini absurd.

      Eh, tapi hidupku sendiri seringkali masih absurd loh.. hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s