Rumput

Daun-daun rumput belum lupa, kapan sebelumnya mereka digilas sendiri oleh tanah tempat tumbuhnya. Tubuh tipis dan akar serabut dangkal bukanlah lawan sepadan untuk menahan guguran tanah di kemiringan. Hanya kematian yang membebaskan mereka dari sakit dan kekecewaan.

Rumput tetap akan tumbuh juga, lagi-lagi di tanah yang setiap saat harus takluk oleh undangan gravitasi di kedalaman. Namun kali ini ternyata buldoser manusia yang menggerus si rumput-rumput celaka. Rumput bukanlah sahabat manusia yang tak jenak berdiam di satu suasana. Karenanya tanah tempat tumbuh itu harus ditimbun aspal tebal, lalu manusia pun melenggang girang. Selamanya tak akan bisa lagi daun-daun mungil rendah itu mengadakan dirinya.

Yang kebanyakan rumput tidak tahu adalah undangan tulus daun pakis, melambai-lambai memanggil di tebing batu. Bisiknya, “Berhentilah jadi rumput, menjelmalah sepertiku agar batu pun sanggup kauhunjam dengan akarmu. Lalu tak perlu lagi ada cemas akan longsor dan gerusan rakus manusia itu.”

Sepotong akar rumput yang letih diam-diam mendengarkan bisikan pakis, lalu mengiyakan.

Selamat Hari Kartini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s