Doa dari Jauh

Aku tidak akan berpura-pura mengerti bagaimana rasa dukamu itu, hanya karena aku juga punya dukaku sendiri. Duka memang tidak selayaknya diperbandingkan dengan duka yang lain, tetapi semestinya dipungkasi oleh bahagia. Seorang bijak pernah berkata, yang kurang lebih artinya: hidup ini adalah duka, dan menjadi tugas manusia sepanjang hidup untuk berjuang keluar dari duka.

Aku jadi berpikir, mereka yang telah meninggal, yang hidupnya dijalani sebagai pribadi yang baik, tentu telah berhasil lolos dari duka itu.

Aku juga tak akan berlagak sok tahu, tentang apa yang dirasakannya saat ini. Tapi harapan kita selalu sama sebagai pengantar dari perjalanan jauhnya: bahagia. Juga untukmu, dan dua mutiara indah yang kelak akan menjadi orang-orang tangguh itu, adalah bahagia. Meski di hari ini, mutiara masih harus berwujud cairan bening yang mengguratkan jalannya di pipi, tapi mengeringnya nanti adalah tanda dari tekad besar untuk tidak takluk pada pedihnya hidup. Dan semoga mereka mengerti, keterpisahan sering kali untuk menumbuhkan apa yang lebih baik.

Dan untukmu, Sahabat, kita menjalani hidup tidak sendirian. Meski tak ada tangan untuk digandengkan, tapi yang bertaut adalah yang tak tertampak oleh mata.

Selamat jalan, Mbak Ana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s